Ada pesan penting yang disampaikan oleh sebuah film berdurasi pendek yang dirilis oleh Gontor TV baru-baru ini. Film berbahasa Arab yang berjudul “Inthiq Rasmiyyatan” (Berbicaralah dengan Bahasa Resmi) itu mengajarkan pentingnya menulis sebagai sebuah kebiasaan sehari-hari. Menulis adalah tradisi yang harus dibangun sejak dini seperti halnya tradisi membaca.
Seorang santri, dalam lakon film itu, mendapat teguran dari ustadz-nya karena kedapatan tidak membawa buku saku atau pocket book. Buku saku itu harus dibawa ke mana-mana oleh setiap santri. Buku saku itu digunakan untuk menulis kosa kata atau pengetahuan baru yang diperoleh santri.
Kosa kata atau pengetahuan baru merupakan ilmu yang harus segera diikat dengan cara menulisnya di buku. Ilmu baru yang tidak segera ditulis, dikhawatirkan akan menguap dan hilang dari genggaman. ‘Ilmu itu ibarat hewan buruan dan menulis adalah ikatnya. Ikatlah hewan buruanmu dengan ikatan yang kencang. Merupakan sebuah kecerobohan jika Anda menangkap seekor kijang, tapi engkau membiarkannya lepas di alam liar’, demikian kata seorang penyair yang disetir dalam short movie itu.
Menulis memang harus menjadi budaya. Jika disebut budaya, maka ia mesti menjadi tradisi dan bagian dari laku hidup sehari-hari. Di lingkungan pesantren tradisi membaca sudah mengakar kuat. Tidak ada yang meragukan tingginya minat baca di lingkungan pesantren. Iqra’ atau bacalah adalah perintah Langit pertama sebelum diluncurkan perintah-perintah-Nya yang lain. Warga pesantren mengamalkan wasiat super dahsyat ini dengan mentradisikan kegemaran membaca, baik membaca Al-Qur’an maupun berbagai literatur kitab. Jika tradisi membaca telah menjadi urat nadi kehidupan di pesantren, demikian pun seharusnya dengan tradisi menulis.
Setelah berhasil menciptakan kultur membaca di lingkungan pesanten, kini saatnya kesadaran akan pentingnya menulis harus dibangkitkan. Membaca dan menulis merupakan bagian terpenting dari sumber yang menggerakkan kemajuan peradaban Islam. Budaya menulis akan memperkokoh tradisi membaca, karena menulis membutuhkan beragam referensi dan bacaan yang luas.
Manfaat Menulis
Yang dimaksud dengan ‘menulis’ di sini tentu saja mencakup wilayah yang lebih luas dibanding apa yang disampaikan dalam film santri di atas. Film tersebut sekedar menyadarkan pentingnya membangun tradisi menulis sejak kecil. Menulis dalam pengertian ini merupakan mengekspresikan pikiran dan gagasan dalam bentuk bahasa tulisan.
Menulis dimulai dengan merangkai huruf-huruf menjadi kata, lalu menjalin kata itu dengan kata lainnya menjadi kalimat, kemudian menyusun kalimat demi kalimat menjadi paragraf, dan demikian seterusnya. Semua proses itu melibatkan pikiran. Tanpa melibatkan pikiran sebuah deretan huruf dalam sebuah kata tak memiliki makna, sejumlah kata dalam sebuah kalimat akan membingungkan, dan sebuah paragraf tidak membawa pesan apa-apa. Menulis membutuhkan kerja pikiran. Dengan demikian menulis adalah mengorganisasi pikiran dan menuangkannya dalam tulisan.
Sejumlah ahli kesehatan menyarankan kegiatan menulis sebagai salah satu terapi kesehatan. Dengan menulis, segala uneg-uneg yang menggangu pikiran dan jiwa digelontorkan keluar dari tubuh bersama goresan pena. Para pemandu karir menekankan pentingnya kegiatan menulis sebagai bagian dari ‘personal branding’ di kehidupan publik. Para arif bijaksana menulis untuk memberi arti bagi kehidupan. Para intelektual dan ilmuwan menulis untuk merawat pertumbuhan ilmu dan mewariskannya kepada generasi selanjutnya. Sedangkan para spiritualis menjadikan kegiatan menulis sebagai cara untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan.
Apapun alasan yang menjadi pijakan, menulis adalah proses kreatif yang membawa banyak manfaat, baik bagi diri penulis maupun bagi yang lain. Ia harus dibiasakan dalam kehidupan sebagaimana kebiasaan membaca.
Menulis memiliki spektrum audien yang lebih luas dibanding berkata-kata dalam bahasa lisan. Bahasa lisan hanya dapat menjangkau wilayah yang terbatas, sedang bahasa tulisan dapat melampaui sekat-sekat waktu dan tempat. Berapa banyak ilmuwan yang tenggelam dalam sejarah karena tidak pernah menuliskan pikiran dan gagasannya dalam buku. Sebaliknya, banyak ilmuwan yang tetap eksis dalam khazanah dan bangunan peradaban karena legacy karya-karya tulisannya.
Kita mengenal ulama seperti Imam Syafi’i, Ibnu Katsir, Imam Nawawi, Ibnu Taimiyyah dan sejumlah ulama produktif lainnya melalui buku-buku tulisan mereka. Walaupun mereka telah wafat berabad-abad silam, namun mereka tetap hidup mengiringi sejarah kehidupan umat Islam. Melalui buku-buku tulisannya, mereka seakan dapat menemui dan online dengan berbagai generasi yang melintasi zaman dan tempat. Itulah dahsyatnya menulis.
Fiman-firman Allah SWT telah dialihkan dalam bentuk tulisan dan dikumpulkan dalam sebuah Mushaf. Sabda-sabda Nabi SAW pun telah dikodifikasi, ditulis dan dibukukan dalam berbagai kitab. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jika firman-firman Allah SWT dan sabda-sabda Nabi SAW tidak diterapkan dalam tulisan dan hanya diajarkan dari generasi ke generasi melalui bahasa lisan.
Penutup
Menulis adalah bagian dari dunia literasi Islam yang harus terus digelorakan. Tradisi membaca yang telah terbentuk perlu diikuti dengan tradisi menulis. Membangun peradaban Islam tidak cukup dengan membangun budaya membaca, tapi mesti ditingkatkan dengan membangun budaya menulis.
Menulislah karena dengan menulis kita dapat menyebarkan nilai-nilai kebaikan, merawat ilmu pengetahuan, dan mewariskannya kepada generasi yang datang kemudian. Menulislah karena dengan menulis seseorang akan memperoleh passive income berupa pahala yang terus mengalir dari kebaikan yang disebarkan lewat tulisan dan diamalkan orang lain. Wallahu a’lam.
Jakarta, 10 Januari 2022




















