Tunis, Gontornews — Nabil Karoui salah satu kandidat Presiden Tunisia, meskipun ditahan dirinya tetap akan berlaga dalam pemilihan Presiden yang akan berlangsung bulan depan. Ia ditahan atas tuduhan pencucian uang dan penghindaraan pajak.
Kepala Komisi Pemilihan Umum Tunisia, Nabil Baffoun mengatakan bahwa pemilik media TV Nesma itu akan tetap tampil menjadi kandidat terdepan dalam pemilihan Presiden selama tidak ada perubahan dalam status hukumnya dan tidak ada putusan akhir.
“Nabil Karoui tetap menjadi kandidat presiden,” katanya kepada wartawan pada hari Sabtu (24/8), Aljazeera.
Maestro Media yang berusia 56 tahun itu ditangkap kepolisian Tunisia pada hari jumat (23/8) yang didakwa telah melakukan pencucian uang yang dilakukan pada awal Juli lalu, tak lama setelah dirinya menyatakan keinginan untuk ikut dalam pemilu 12 September mendatang.
Penangkapannya terjadi ketika pihak berwenang memberlakukan larangan pada tiga TV lokal, termasuk Nessma TV milik Karoui, yang dilaporkan telah melakukan kampanye pemilu atas siaran “ilegal” tanpa izin.
Sementara itu, sehari setelah ditahan, partainya, Qalb Tounes menuduh Perdana Menteri Youssef Chahed yang merupakan saingan utama Karoui berada di belakang penangkapan dirinya.
“Kami menuduh bahwa Youssef Chahed dan kelompoknya yang mengatur penangkapan ini,” kata seorang pejabat senior Qalb Tounes, Iyadh Elloumi, pada konferensi pers.
Namun demikian, Elloumi justru mengatakan bahwa praktik tersebut hanya akan berfungsi sebagai media promosi gratis bagi Karoui.
Pemimpin partai, yang juga mendirikan Khalil Tounes Foundation itu hampir dikeluarkan dari pemilihan pada bulan Juni lalu, ketika parlemen mengesahkan kode pemilihan yang diamandemen dimana melarang setiap kandidat yang membagikan bantuan tunai atau barang lainnya untuk ikut dalam pemilu.
Akan tetapi, sebelum menandatangani amademen tersebut, Presiden Tunisia Essebsi meninggal sehingga membiarkan Karoui untuk terbebas dalam tuduhan tersebut.
Selain Perdana Menteri Youssef Chahed Kandidat lain dalam pemilihan presiden adalah mantan presiden Moncef Marzouki dan Abdelfattah Mourou yang merupakan wakil presiden partai Islam moderat Ennahdha.[Devi Lusianawati]






















