Beirut, Gontornews — Mufti Lebanon, Sheikh Abdul Latif Derian, meminta warga Lebanon untuk menahan diri agar tidak melakukan kekerasan bersenjata. Menurutnya, bentrokan yang terjadi di Al-Tarqi al-Jadida dapat memperburuk situasi hukum dan ketertiban di Lebanon.
“(Seluruh warga harus) waspada dan bijaksana dan tidak terlibat dalam perselisihan. Karena tidak ada perselisihan yang diselesaikan dengan senjata,” kata pemimpin tertinggi Sunni di Lebanon sebagaimana dilansir Reuters.
Setidaknya satu orang tewas dan dua lainnya luka-luka dalam bentrokan yang terjadi di lingkungan mayoritas Sunni di Beirut, al-Tariq al-Jadida, Senin (7/9). Otoritas militer Lebanon melaporkan penggunaan senapan mesin, granat, peluncur roket dalam konfrontasi yang muncul karena perselisihan individu tersebut.
Insiden baku tembak itu tersebut membuat pasukan militer melakukan tindakan langsung. Selain Beirut, insiden serupa juga terjadi di Baalbek, Bekaa. Seorang pria tewas akibat perselisihan bermotif balas dendam.
Pihak militer menambahkan kedua insiden mematikan ini mencerminkan gangguan otoritas negara. Mereka menduga masyarakat Lebanon kehilangan rasa hormat terhadap negaranya. “Tidak ada lagi rasa hormat untuk negara,” ungkap sumber yang dilansir National News Agency (NNA).
Insiden atau konflik antarkelompok di Lebanon ini terjadi dalam kondisi krisis ekonomi yang sedemikian carut marut. Korupsi dan salah tata kelola disebut-sebut sebagai penyebab buruknya kondisi ekonomi Lebanon. Akibatnya, nilai mata uang Lebanon jatuh, pengangguran meningkat serta banyak warga yang jatuh ke dalam jurang kemiskinan.
Akibat krisis ini pula, Perdana Menteri Hassan Diab mundur dari kursinya dan digantikan dengan Mustapha Adib. [Mohamad Deny Irawan]






















