لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
“Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’du: 11)
Interpretasi Para Mufasir
Imam Ath-Thabari dalam kitab tafsir Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qu’an menyebutkan, ayat di atas menjelaskan bahwa setiap manusia selalu didampingi oleh malaikat siang-malam yang silih berganti. Malaikat siang datang, pada saat itu juga malaikat malam meninggalkan seseorang. Saat sore, malaikat siang pergi sedangkan malaikat malam mulai datang. Menurut sebagian ulama, malaikat yang silih berganti ini bernama malaikat hafadzah.
Menurut Imam At-Thabari, maksud ayat ini justru menjelaskan bahwa semua orang itu dalam kebaikan dan kenikmatan. Allah tidak akan mengubah kenikmatan-kenikmatan seseorang kecuali mereka mengubah kenikmatan menjadi keburukan sebab perilakunya sendiri dengan bersikap zalim dan saling bermusuhan kepada saudaranya sendiri.
Ayat di atas menunjukkan bahwa hakikat setiap manusia itu sebagai orang yang berhak mendapatkan kenikmatan penuh, karena pada dasarnya mereka suci.
Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya berpendapat, faktor berkurangnya atau hilangnya kenikmatan yang diterima hamba itu tidak tunggal. Menurutnya, faktor itu bisa murni bersumber dari kesalahan hamba itu sendiri, bisa pula dari kesalahan anggota keluarga atau komunitas sekitarnya, sebagaimana terjadi pada perang Uhud.
Pasukan Muslimin pada perang Uhud kalah bukan lantaran kesalahan semua pasukan, tapi ada kesalahan beberapa individu saja tapi orang lain mendapatkan getahnya. Dengan bahasa lain, kesalahan segelintir orang itu berdampak sistemik lalu menggoyahkan kekuatan kelompok secara keseluruhan.
Sedangkan dalam Tafsir al-Jalalain disebutkan, surat Ar-Rad ayat 11 menjelaskan tentang, (Baginya) manusia (ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran) para malaikat yang bertugas mengawasinya (di muka) di hadapannya (dan di belakangnya) dari belakangnya (mereka menjaganya atas perintah Allah) berdasarkan perintah Allah, dari gangguan jin dan makhluk-makhluk yang lainnya.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum artinya Dia tidak mencabut dari mereka nikmat-Nya (sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri) dari keadaan yang baik dengan melakukan perbuatan durhaka.
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum yakni menimpakan azab (maka tak ada yang dapat menolaknya) dari siksaan-siksaan tersebut dan pula dari hal-hal lainnya yang telah dipastikan-Nya (dan sekali-kali tak ada bagi mereka) bagi orang-orang yang telah dikehendaki keburukan oleh Allah (selain Dia) selain Allah sendiri (seorang penolong pun) yang dapat mencegah datangnya azab Allah terhadap mereka.
Rasulullah SAW bersabda:
يَتَعَاقَبُوْنَ فِيْكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُوْنَ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ فَيَصْعَدُ إِلَيْهِ الَّذِيْنَ بَاتُوْا فِيْكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِيْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ أَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَتَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ.
“Ada beberapa malaikat yang menjaga kamu secara bergiliran di malam hari dan di siang hari. Mereka bertemu (untuk mengadakan serah terima) pada waktu shalat Shubuh dan shalat Ashar, lalu naiklah malaikat-malaikat yang menjaga di malam hari kepada Allah Ta’ala. Dia bertanya, sedangkan Ia sudah mengetahui apa yang akan ditanyakannya itu, “Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kamu meninggalkan mereka (di dunia)?” Malaikat menjawab, “Kami datang kepada mereka ketika shalat dan kami meninggalkan mereka, dan mereka pun sedang shalat.” (HR Al-Bukhari dari Abu Hurairah)
Nilai-nilai Pedagogis
QS Ar-Ra’du: 111 mengandung sejumlah nilai-nilai pedagogis (pendidikan) bagi manusia. Pertama, Pendidikan Kesadaran Diri. Ayat ini menekankan pentingnya introspeksi dan kesadaran diri sebagai langkah awal perubahan. Dalam konteks pendidikan, peserta didik diajak untuk mengenali kelebihan dan kekurangannya, lalu berupaya memperbaiki diri.
Kedua, Pendidikan Perubahan dan Transformasi Diri. Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan sejati datang dari dalam, bukan sekadar lingkungan. Muharram sebagai bulan hijrah menginspirasi transformasi karakter dan spiritualitas siswa.
Ketiga, Pendidikan Keteladanan dalam Berjuang. Momentum hijrah Nabi menjadi teladan perjuangan fisik (berpindah secara nyata) dan hati (meninggalkan keburukan). Hal ini dapat diterapkan dalam kehidupan siswa untuk berani melawan kebiasaan buruk dan berkomitmen pada kebaikan.
Keempat, Pendidikan Tanggung Jawab Personal dan Sosial. Nilai tanggung jawab terhadap perubahan diri sendiri yang berdampak pada kemajuan kolektif masyarakat. Guru dapat menanamkan bahwa setiap siswa bertanggung jawab atas kemajuan dirinya dan komunitasnya.
Muharram Bulan Perjuangan
Nama Muharram berasal dari kata “haram” yang berarti suci atau terlarang. Orang-orang Arab pada masa pra-Islam tidak boleh berperang atau membunuh selama bulan ini. Larangan ini tetap berlaku setelah masa masuknya Islam, dan bulan Muharram termasuk dalam empat bulan yang dihormati secara khusus.
Muharram menandai awal tahun baru dalam kalender Islam, dimulai dari hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Ini merupakan momen untuk merenungkan perjuangan dan keteguhan dalam menghadapi tantangan, serta untuk memperkuat iman dan praktik keagamaan. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi menjadi tonggak perubahan besar dalam peradaban Islam.
Allah berfirman:
۞ وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةًۗ وَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًاࣖ
Siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An-Nisa’: 100)
Imam Ar-Razi dalam At-Tafsirul Kabir ketika menjelaskan kesimpulan tafsir ayat yang mulia ini berkata: “Walhasil, seakan-akan dikatakan, ‘Wahai manusia! Jika kamu membenci hiijrah dan tanah airmu hanya karena takut mendapatkan kesusahan dan ujian dalam perjalananmu, maka sekali-kali jangan takut! Karena sesungguhnya Allah Ta’ala akan memberimu berbagai nikmat yang agung dan pahala yang besar dalam hijrahmu. Hal yang kemudian menyebabkan kehinaan musuh-musuhmu dan menjadi sebab bagi kelapangan hidupmu’.”
Memaknai ayat ini, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa dengan luasnya bumi dan banyaknya proses tukar pikiran dalam berhijrah maka dapat mendorong tercapainya keluasan, kemampuan, dan peningkatan ekonomi. Berhijrah juga dapat melapangkan dada, menerima rasa susah dan prihatin serta meluaskan daya fikir dalam berbagai hal yang bisa mendatangkan solusi dari berbagai masalah.
Hijrah, baik secara fisik maupun hati, merupakan proses perubahan diri yang penting dalam ajaran Islam. Hijrah fisik membantu mencari lingkungan yang kondusif untuk beribadah, sedangkan hijrah hati membantu membersihkan diri dari dosa dan mendekatkan diri kepada Allah. Keduanya merupakan upaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Bulan Muharam merupakan awal kebangkitan Islam dari tiga kekuatan utama yang bisa kita teladani: Pertama, kekuatan iman. Nabi dan para sahabat berani hijrah bukan karena harta atau kekuasaan, melainkan karena iman. Mereka lebih memilih hidup dalam pengasingan daripada hidup dalam kekufuran dan penindasan. Iman itulah yang menjadi bahan bakar utama kebangkitan. Tanpa iman yang kokoh, umat Islam akan mudah goyah dan lupa arah perjuangan.
Kedua, kekuatan ukhuwah di Madinah. Nabi membangun ukhuwah antara Muhajirin dan Anshar. Persaudaraan ini tidak hanya sekadar sapaan dan senyuman, tetapi diwujudkan dalam bentuk berbagi rumah, harta, bahkan nyawa.
Ketiga, kekuatan visi dan strategi. Hijrah merupakan bentuk strategi yang cerdas. Nabi tidak hanya menunggu wahyu, tetapi juga merancang perjalanan hijrah dengan penuh perhitungan. Memilih waktu malam, menyembunyikan jejak, mencari tempat persembunyian di Gua Tsur, dan memilih Madinah sebagai basis perjuangan merupakan bagian dari strategi kenabian.
Hijrah bukan hanya sejarah tapi juga spirit. Maka, di bulan Muharram ini, marilah kita berhijrah baik fisik maupun hati secara pribadi: dari malas menjadi rajin, dari maksiat menuju taat, dari lalai menjadi sadar, dari hidup tanpa arah menuju hidup dengan misi Islam.
Bulan Muharram merupakan waktu yang sangat tepat untuk memulai perubahan dan memperkuat komitmen terhadap Islam. Awal tahun ini merupakan kesempatan emas untuk memulai lembaran baru kehidupan kita dengan tekad dan semangat kebangkitan. Inilah bentuk nyata kebangkitan Islam, ketika individu-individu Muslim bangkit memperbaiki diri, lalu bergerak bersama membangun umat yang kuat dan beradab.
Rasulullah SAW bersabda:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهِيَ اللَّهُ عَنْهُ
“Dan orang yang berhijrah adalah orang yang telah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR Imam Al-Bukhari)
Hijrah Fisik dan Hati
Lalu bagaimana caranya agar fisik dan hati senantiasa berhijrah? Pertama, meluruskan niat dalam hati dan merealisasikan dengan perbuatan. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوُلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ.
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Kedua, melatih akhlak dan perangai yang baik dalam hati, ucapan dan perbuatan dalam setiap keadaan. Rasulullah SAW bersabda:
سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ اَلْجَنَّةَ؟ قَالَ: تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
“Rasulullah pernah ditanya perihal sesuatu yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga. Ia menjawab, ‘Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik’.” (HR At-Tirmidzi)
Ketiga, tidak berputus asa dari rahmat Allah dan selalu melakukan yang terbaik dalam urusan hati dan fisik yang berupa perbuatan. Allah SWT berfirman:
يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ
“Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS Yusuf: 87)
Keempat, rajin berdoa agar fisik dan hati kita senantiasa berhijrah. Rasulullah SAW bersabda:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR At-Tirmidzi)
Kelima, berhijrah sungguh-sungguh dalam hati dan perbuatan. Allah SWT berfirman:
وَمَنْ اَرَادَ الْاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُوْرًا
”Siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, dan dia mukmin, mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS Al-Isra: 19)
Kisah Teladan
Bagian penting lain dari cerita Nabi Ibrahim yaitu perintah Allah agar beliau berhijrah meninggalkan negeri kelahirannya demi menyebarkan dakwah tauhid. Dalam proses hijrah ini, Nabi Ibrahim ditemani oleh istri tercinta, Sarah, dan kemudian Hajar serta anaknya, Ismail.
Cerita Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa hijrah bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga bentuk ketaatan kepada Allah SWT dalam mencari tempat yang lebih kondusif untuk menyebarkan ajaran Islam. Di tanah yang gersang, yaitu Mekkah, beliau meninggalkan Hajar dan Ismail atas perintah Allah.
Dalam cerita Nabi Ibrahim, diceritakan bahwa saat Hajar dan Ismail kehabisan air, Hajar berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah, hingga akhirnya Allah menurunkan air zamzam dari tanah yang kering. Ini menjadi bukti bahwa pengorbanan dan tawakal tidak akan sia-sia di mata Allah.
Kisah ini sangat relevan dalam kehidupan umat Islam masa kini. Cerita Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa terkadang kita harus meninggalkan kenyamanan demi menjalankan perintah Allah. Meski sulit, Allah akan selalu memberi pertolongan kepada hamba-Nya yang bersabar dan bertawakal.
Cerita Nabi Ibrahim tentang hijrah dan keteguhan hati menjadi salah satu pilar dalam sejarah dakwah Islam, menunjukkan bahwa perjuangan menyebarkan kebenaran membutuhkan pengorbanan dan keyakinan penuh kepada pertolongan Allah.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
”(Mereka berdoa) Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS Ali Imran: 8)

























