Judul yang diberikan dari panitia kepada kami yaitu “Muhasabah”. Dalilnya hasibu anfusakum qabla an tuhasabu, instrospeksilah dirimu sebelum diintropeksi oleh Allah. Untuk apa instropeksi? Supaya kita dapat menimbang, dapat mengukur sejauh mana kita dapat beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sejauh mana kita dapat bermanfaat untuk umat, untuk orang lain, sejauh mana dosa-dosa yang sudah kita lakukan, sejauh mana kita dapat beristighfar dan menebus dosa-dosa kita. Ini semua termasuk instruksi, termasuk yang paling utama ibadah kita. Baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah jelas itu arkanul Islam. ghairu mahdhah, ibadah kita lewat masyarakat, lewat kepedulian kita kepada umat, ini juga ibadah. Oleh karena itu kita harus dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk umat, dan memang filsafat hidup kita sebagai seorang Muslim itu yaitu khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia itu yang bermanfaat bagi orang lain. Orang lain ini pengertiannya luas: komunitas kita, masyarakat luas, bangsa, dan dunia. Jadi kiprah kita di masyarakat itu akan dihitung, dinilai sejauh mana kita dapat bermanfaat buat umat itu.
Orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing dan memang yang diberikan untuk umatnya itu berbeda antara satu orang dengan yang lain. Satu contoh saja, waktu di KMI saya mempunyai teman. Kalau tidak salah pernah tidak naik kelas tetapi dia jago muhadharah. Keahlian itulah yang dia pakai di masyarakat. Kalau masalah dakwah, jelas saya ini kalah karena dia diundang ke mana-mana. Bahkan sekarang menjadi penceramah di kalangan TNI dan militer. Padahal dia tidak naik kelas 5, dan di situlah kelebihannya. Jangan ditanya masalah akademis, tapi apa yang dia berikan kepada masyarakat itulah yang bermanfaat sesuai dengan porsinya dan saya kira Allah tidak akan menuntut lebih daripada itu. Memang itu kemampuannya.
Di samping itu supaya kita bermanfaat untuk umat, kita harus mendidik diri, menempa diri dengan berbagai keilmuan, jadi pengalaman akademis dan pengalaman non-akademis. Makanya di sini dididik yang akademis dan nonakademis, yang AKPAM (angka kredit penunjang akademik mahasiswa) itu sudah betul. Karena yang diperlukan di masyarakat itu tidak mesti yang akademis. Kadang-kadang yang nonakademis itu yang lebih bermanfaat. Untuk itu dua-duanya harus diraih supaya kita dapat menjadi manusia yang lebih bermanfaat kepada orang lain.
Supaya kita menjadi Anfa, kita harus menempa diri. Kita harus belajar dengan keilmuan yang banyak supaya kita dibutuhkan, diperlukan orang banyak. Satu contoh, seorang mubaligh kalau dia hanya pintar omong pasti materinya itu-itu saja. Boleh jadi terkenal karena dia pintar melucu tapi secara materi itu tidak menambah, tidak terlalu Anfa. Tapi jika kemahiran dia dalam berceramah didukung dengan nilai akademisnya, itu mempunyai nilai tambah.
Ada lagi supaya kita ini bermanfaat, kita mempunyai pengalaman. Pengalaman hidup banyak: pengalaman berorganisasi, pengalaman berkomunikasi dengan teman-teman, pengalaman memimpin, pengalaman dipimpin, pengalaman menjadi utusan. Utusan itu suatu pengalaman dan itu akan dihitung juga oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu apa yang dapat diberikan kepada orang lain, kepada masyarakat. Jadi hasibu anfusakum qabla an tuhasabu itu adalah hitunglah, introspeksilah apa yang sudah kita perbuat dan apa yang belum kita perbuat. Kemudian dalam fenomena di masyarakat, banyak juga yang mempunyai kelebihan secara keilmuan praktis, dan itu yang bermanfaat di masyarakat. Sebagaimana kita ketahui yang namanya Edison itu katanya tidak tamat SD, tapi dengan penemuannya itu jariyahnya sampai sekarang dinikmati oleh masyarakat dunia. Dia memang bukan Muslim, tapi dia juga mendapat pahala di dunia.
Kembali kepada masalah kita di UNIDA ini, ada pengalaman dan keilmuan. Dua hal ini yang harus diraih supaya kita ini lebih berisi. Kalau kita berisi, jelas kita lebih bermanfaat. Oleh karena itu carilah berbagai pengalaman yang ada di sini. Fakta telah membuktikan, siapa yang mengira seorang yang menjaga UKK di Gontor dan yang satu menjaga UKK besi, kalau dilihat dari pengalamannya tidak mungkin dia studi sampai doktor. Tapi kenapa dia bisa? Ada juga yang bagian percetakan, bagian air minum, itu semua tidak terkait tentang masalah akademis, tapi dia mempunyai pengalaman dan di luar (Pondok) bisa mengembangkan masalah akademis. Itu tidak ada hubungannya antara pekerjaan dan keilmuan. Yang ada hubungannya ialah pendidikan etos kerja. Dia sudah terbiasa kerja keras, sudah terbiasa kerja dalam situasi yang sulit, tapi dia bisa lepas dari situasi semacam itu. Dalam menempuh S2 dan S3 dia mengalami hal itu, walaupun medannya berbeda, tapi etos kerjanya sama. Inilah yang orang banyak tidak mengetahui kelebihan kita di sini. Kita mendidik etos kerja, mental job bukan skill job. Ini yang selalu kita didikkan, dan supaya semuanya mengetahui untuk apa kita disuruh ini, untuk apa disuruh itu. []


















