Jakarta, Gontornews–Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan Muslim World League (Rabithah Alam Islami), Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan MUI Provinsi NTB akan menyelenggarakan Konferensi Internasional Islam “Washatiyah” (moderat) di Lombok pada 29 Juli – 1 Agustus 2016.
Menurut Ketua Steering Comitte (SC) Konferensi KH Muhyidin Junaidi MA, konferensi bertema “Meneguhkan Islam Washatiyah dalam rangka mencegah radikalisme, terorisme, dan sektarianisme di Dunia Islam” itu, digelar untuk mempelopori Islam Wasathiyah sebagai “way of life” dalam menerjemahkan Islam dalam kehidupan nyata.
“Dijadwalkan dibuka Presiden Jokowi dan ditutup Wapres Jusuf Kalla,” terangnya dalam seperti dilansir antara (24/7).
Beberapa pejabat negara juga akan memberikan ceramah diantaranya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dengan makalah “Tanggungjawab pemerintah dalam memerangi paham terorisme” dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dengan makalah “Perlunya kerjasama internasional dalam memerangi teroris”.
Selain itu, Ketua MPR RI Dr Zulkifli Hasan juga dijadwalkan membawakan makalah berjudul “Peran MPR dalam menghadapi teroris dan aliran radikalis”, serta Menlu Retno Marsudi dengan makalah “Peran Indonesia untuk menghadapi teroris dan pemahaman radikalis”.
Beberapa pembicara asing, lanjut Kiai Muhyidin, juga dijadwalkan menyampaikan makalah diantaranya dari Thailand, Filipina, Taiwan, Burma, Bangladesh, dan Arab Saudi. Beberapa negara, sudah mengirimkan delegasinya untuk berbagi dan belajar dari MUI dan Indonesia tentang keberhasilan memadukan Islam dan demokrasi di negara paling besar Muslimnya ini.
Konferensi tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi “Deklarasi Lombok”sebagai rumusan pencegahan radikalisme yang mengarah terorisme, serta menghasilkan kesepahaman tentang pentingnya kerjasama dunia Islam.
Rekomendasi lain adalah pemetaan langkah-langkah strategis melalui ekonomi syariah untuk memberdayakan umat, sehingga ekonomi umat bangkit, dan rumusan tentang strategi dunia pendidikan dalam melahirkan anak didik yang berkarakter guna mewujudkan Islam yang “rahmatan lil alamin.”
Untuk diketahui, pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI bulan Agustus 2015 lalu, menetapkan Islam Wasathiyah sebagai paradigma pengkhidmatan di lingkungan MUI. Dengan konsep ini, diharapkan bisa mengembalikan gerakan keislaman di Indonesia sebagaimana yang dibangun ulama terdahulu, yaitu keislaman yang mengambil jalan tengah (tawassuth), berkeseimbangan (tawazun), serta lurus dan tegas (iktidal).
Ciri lain adalah toleran (tasamuh), egaliter (musawah), mengedepankan musyawarah (syura), berjiwa reformasi (islah), mendahulukan yang prioritas (aulawiyah), dinamis dan inovatif (tathawwur wa ibtikar), dan berkeadaban (tahadhdhur). [Ahmad Muhajir/DJ]





















