Jakarta, Gontornews — Di tengah arus zaman yang kian cepat dan kompleks, pesantren tetap berdiri sebagai benteng pendidikan akhlak, ilmu, dan keikhlasan. Dari rahim tradisi itulah lahir sosok-sosok pendidik yang tidak hanya mengajar dengan lisan, tetapi juga dengan keteladanan hidup.
Nyai Hj Dra Anisah Fatimah Zarkasyi Tidjani, putri KH Imam Zarkasyi sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Prenduan, menghadirkan nasihat-nasihat yang sarat makna tentang adab, niat, kesederhanaan, serta perjuangan lillāh ta‘ālā dalam mengelola pesantren di hadapan Pengurus Forum Pesantren Alumni (FPA) Gontor di kediamannya. Berikut nasihat yang disarikan oleh Dr KH Ikhwan Hadiyyin MM, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darel Azhar, Rangkasbitung, Lebak, Banten.
1. Adab dalam Mendampingi Orang Tua Sekaligus Guru
Apabila ada tamu penting yang sowan kepada Kiai Zarkasyi, beliau meminta putrinya untuk mendampingi. Pendampingan ini bukan sekadar tugas teknis, melainkan amanah adab dan tanggung jawab moral, sekaligus pelajaran berharga. Mendampingi kiai berarti menjaga kehormatan, waktu, dan wibawanya, sebagai bekal ketika kelak menjadi seorang Ibu Nyai.
2. Menjaga Niat Calon Kiai
Setiap calon kiai yang sowan kepada KH Zarkasyi selalu ditanya terlebih dahulu mengenai motivasi mendirikan pesantren. Hal ini untuk memastikan bahwa kepemimpinan pesantren dilandasi niat yang lurus, bukan ambisi pribadi. Tidak semua alumni yang ingin mendirikan pesantren otomatis direstui.
3. Motivasi Hidup: Lillāh Ta‘ālā
Ibu Nyai berulang kali menegaskan bahwa motivasi hidup seorang pendidik dan pengasuh pesantren harus semata-mata lillāh ta‘ālā. Jika niat bergeser, maka amal menjadi rusak, meskipun tampak besar di mata manusia.
4. Sabar dalam Kesederhanaan
Kesabaran sejati ditempa melalui kehidupan sederhana. Beliau mengisahkan pernah makan thiwul sebagai simbol keteguhan dalam kekurangan. Kesederhanaan bukan kehinaan, melainkan madrasah keikhlasan.
5. Mendidik Anak dengan Kesederhanaan
Kesederhanaan tidak hanya diajarkan kepada santri, tetapi lebih dahulu ditanamkan kepada putra-putri sendiri. Pendidikan sejati dimulai dari rumah dan keluarga kiai.
6. Bahaya Salah Niat
Ibu Nyai mengingatkan hadis tentang tiga golongan pertama yang masuk neraka: orang yang mati syahid, orang alim, dan ahli Al-Qur’an. Mereka masuk neraka karena niat yang salah. Ilmu dan amal besar tidak akan menyelamatkan jika niat tercemar.
7. Menjaga Batas Ikhtilāṭh Putra dan Putri
Dalam pengelolaan pesantren, percampuran putra dan putri harus diawasi secara ketat. Ketertiban syariat merupakan bagian dari kehormatan lembaga. Jika fasilitas sudah memadai, kelas putra dan putri sebaiknya dipisah.
8. Keseimbangan Biaya dan Kesederhanaan
Pesantren yang terlalu mahal berpotensi menumbuhkan ketamakan. Pengelolaan dapur yang berlebihan dan tidak tertata juga dapat menimbulkan masalah. Karena itu, keseimbangan dan kebijaksanaan menjadi kunci pengelolaan pesantren.
9. Pelajaran dari Peristiwa Grageh sebelum PERSEMAR (Maret 1967)
Ibu Nyai mengisahkan uzlah KH Zarkasyi ke Keprabon saat terjadi ancaman serius terhadap keselamatan beliau dan KH Sahal. Saat itu, Gubernur M Nur berpidato tegas, “Barangsiapa mengganggu Gontor, langkahi mayat saya.”
Peristiwa ini menjadi pelajaran tentang perlindungan Allah terhadap perjuangan yang ikhlas.
10. Komitmen Mengajar dalam Keterbatasan
Setelah PERSEMAR, Gontor hanya menerima sekitar 300 santri dengan seleksi ketat. Meski menderita sakit asma, Kiai Zarkasyi tetap mengajar. Beliau sering dawuh, “Bila santri saya tinggal satu orang pun, akan tetap saya ajar sampai tamat.”
Inilah ruh pengorbanan dalam pendidikan pesantren.
11. PERSEMAR sebagai Ibrah bagi Alumni
Peristiwa Grageh dan PERSEMAR 1967 harus menjadi pelajaran mahal bagi para kiai alumni Gontor: jangan bermain-main dengan keikhlasan, jangan menggadaikan perjuangan, dan jangan berkhianat pada amanah pesantren.
12. Kedekatan dengan Orang Tua
Ibu Nyai Anisah sangat disayang oleh KH Zarkasyi. Berbagai persoalan pesantren sering diceritakan kepadanya sebagai bentuk amanah dan kepercayaan. Hal ini menjadi bekal dalam mengelola Pondok Pesantren Al-Amin Prenduan dengan penuh keikhlasan. Karena itu, jagalah selalu hubungan baik dengan orang tua.
13. Prioritas Utama Pendidikan
KH Zarkasyi pernah berpesan, “Jika saya diminta memilih mendidik 2.000 santri putra atau 2 santri putri, saya memilih santri putra, karena beratnya mendidik santri putri.”
Pesan ini menunjukkan pertimbangan strategis kaderisasi kepemimpinan umat, bukan merendahkan pihak lain. Pendidikan santri putri memerlukan kehati-hatian ekstra agar terhindar dari fitnah.
14. Kewajiban Shalat Tahajud
Di Pondok Pesantren Al-Amin, shalat tahajud diwajibkan. Pendidikan ruhani menjadi fondasi utama kekuatan pesantren. Shalat sunnah ini dapat diterapkan juga di pesantren lain sebagai penguat spiritualitas.
15. Pernikahan sebagai Perjuangan
Beliau mengisahkan pernikahannya dengan KH Tijani Jauhari sebagai pilihan terbaik dari almarhum KH Imam Zarkasyi. Pernikahan tersebut dipandang sebagai bagian dari perjuangan li‘izzatil Islām wal muslimīn.[]


















