Lagos, Gontornews — Orang-orang bersenjata yang menyerang sebuah gereja Katolik pada hari Ahad dengan bahan peledak di barat daya Nigeria menewaskan 21 orang dan melukai lainnya, kata seorang pejabat pemerintah setempat.
Richard Olatunde, juru bicara kantor gubernur Negara Bagian Ondo, mengatakan bahwa bom meledak di dalam gereja di kota Owo sebelum orang-orang bersenjata melepaskan tembakan melalui jendela selama kebaktian berlangsung.
Kekerasan di Gereja Katolik St. Francis di kota Owo di Negara Bagian Ondo meletus selama kebaktian pagi dalam serangan yang jarang terjadi di barat daya Nigeria.
Paus Fransiskus mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dia telah mengetahui tentang “kematian lusinan umat,” di antaranya anak-anak, selama perayaan hari libur Kristen Pentakosta.
“Sementara rincian insiden sedang diklarifikasi, Paus Fransiskus berdoa untuk para korban dan untuk negara,” katanya dirilis arabnews.com.
Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Motif dan jumlah korban tewas yang sebenarnya belum diketahui, tetapi Presiden Muhammadu Buhari mengecam keras “pembunuhan keji” itu.
Gubernur negara bagian Ondo Oluwarotimi Oluwarotimi Akeredolu mengatakan serangan hari Ahad itu merupakan “serangan keji dan setan” dan meminta pasukan keamanan untuk melacak para penyerang.
Serangan itu terjadi sehari sebelum partai APC yang berkuasa memulai pemilihan pendahuluan untuk kandidatnya dalam pemilihan 2023 untuk menggantikan Buhari, seorang mantan komandan tentara yang mundur setelah dua masa jabatan.
Keamanan akan menjadi tantangan besar bagi siapa pun yang memenangkan pemilihan untuk memerintah negara terpadat di Afrika dan ekonomi terbesar di benua itu.
Serangan senjata dan bom jarang terjadi di negara bagian Ondo dan bagian lain di barat daya, tetapi militer Nigeria memerangi pemberontakan gerilyawan di timur laut, geng di barat laut, dan agitasi separatis di tenggara.
Bagian barat laut dan utara-tengah Nigeria khususnya semakin diganggu oleh geng bersenjata berat yang menyerang desa-desa dan menargetkan komunitas dan sekolah dalam serangan penculikan massal. []























