Riyadh, Gontornews–Mantan intelijen Saudi Pangeran al-Faisal mengingatkan kepada presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump untuk tidak mengubah kesepakatan nuklir dengan Iran. Kesepakatan itu menurut Faisal adalah hasil kerja keras dunia internasional selama 15 tahun termasuk Amerika Serikat dan beberapa Negara lain didalamnya.
βSaya tidak berpikir ia harus mencabut kesepakatan itu. Kesepakatan ini dihasilkan dari kerja keras selama bertahun-tahun dan konsensus umum di dunia, tidak hanya AS. Ini adalah bentuk pencapaian sebuah tujuan, yang sudah 15 tahun tertunda dimana Iran diduga mengembangkan sejata nuklir,” kata Faisal seperti dilansir dari reuters pada Selasa (15/11).
Mantan duta besar Saudi untuk Washington ini juga mengingtakan, jika Trump mengubah kesepakatan ada konsekuensi besar terkait sikap Iran atas kepemilikan nuklirnya. Pangeran ini ingin melihat apakah kesepakatan itu bisa menjadi batu loncatan untuk program yang lebih permanen untuk mencegah proliferasi melalui pembentukan zona bebas senjata pemusnah massal di Timur Tengah.
Justru yang harus dilakukan Trump, lanjur al-Faisal adalah menegur Iran untuk membuat peluang keadaan di Timur Tengah lebih stabil. Iran yang didominasi kekuatan Syiah, mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad, telah mengirimkan tim untuk mengumpulkan intelijen dan melatih pasukan Suriah.
Sebagai saingan dari Sunni Arab Saudi, Iran telah berjuang puluhan tahun melakukan perang proxy di Suriah, Lebanon, Irak dan Yaman, dalam laporan itu.
Selama ini Iran selalu membantah tuduhan bahwa ia berusaha untuk mengembangkan senjata nuklir dan menekankan bahwa program nuklirnya hanya dimaksudkan untuk aplikasi damai. Sementara dalam beberapa kesempatan, Trump mengatakan akan mencabut kesepakatan nuklir yang disepakati tahun lalu.
Tapi, dalam beberapa kesempatan lainnya, ia juga telah membuat pernyataan yang kontradiktif terkait kesepakatan itu. [Ahmad Muhajir]





















