Kairo, Gontornews — Ratusan migran yang menuju Eropa dicegat di Laut Mediterania di lepas pantai Libya dan ditahan selama 24 jam terakhir, kata Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Jumat (5/2).
Badan migrasi PBB itu men-tweet bahwa lebih dari 1.000 migran baru-baru ini telah berangkat dari pantai Libya. Mereka melarikan diri dari “kondisi kemanusiaan yang mengerikan.”
Lebih dari 800 orang di antaranya dicegat oleh penjaga pantai Libya dan dikirim ke pusat penahanan terkenal di negara Afrika Utara itu, kata IOM dikutip Arabnews.com.
Sejak Muammar Qaddafi tewas oleh tentara NATO, Libya yang dilanda perang telah menjadi titik transit dominan bagi para migran yang melarikan diri dari perang dan kemiskinan di Afrika dan Timur Tengah. Penyelundup sering membawa keluarga-keluarga yang putus asa ke dalam perahu karet yang tak layak yang menunggu di sepanjang rute Mediterania tengah yang berbahaya.
IOM memposting foto-foto, kebanyakan pria migran Afrika, yang menunggu di titik pendaratan di Libya dan berbicara dengan staf IOM.
“Sementara tim IOM terus memberikan bantuan di titik pendaratan, kami berpendapat bahwa Libya bukanlah pelabuhan yang aman,” tweet IOM.
Dalam beberapa tahun terakhir, Uni Eropa telah bermitra dengan penjaga pantai Libya dan kelompok lokal lainnya untuk membendung penyeberangan laut yang berbahaya tersebut. Namun, kelompok hak asasi mengatakan, kebijakan itu membuat para migran bergantung pada kelompok bersenjata atau terkurung di pusat penahanan kumuh yang penuh dengan pelanggaran.
Pada 19 Januari, sebuah kapal yang membawa para migran menuju Eropa terbalik di Mediterania di lepas pantai Libya, setidaknya 43 orang tenggelam. Tragedi itu menandai bencana maritim pertama pada 2021 yang melibatkan para migran yang mencari kehidupan yang lebih baik di Eropa. IOM mengutip korban yang selamat mengatakan bahwa semua yang tewas pria dari negara-negara Afrika Barat. []





















