Jenewa, Gontornews — Kepala Bantuan PBB, Mark Lowcock, Senin (14/6/2021), mengecam kelompok G7 yang tidak serius menyediakan 1 Miliar dosis vaksin Covid-19 bagi negara miskin dan berpenghasilan rendah.
“Pemberian amal secara sporadis, skala kecil dari negara-negara kaya ke negara-negara miskin ini bukanlah rencana serius dan tidak akan mengakhiri pandemi,” ungkap Lowcock kepada Reuters.
“G7, pada dasarnya benar-benar gagal menunjukkan urgensi yang diperlukan,” imbuhnya.
Para pemimpin negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, Prancis, Italia dan Kanada mengadakan pertemuan di Cornwall, Inggris pada akhir pekan lalu. Mereka bersepakat untuk menjaliln kerjasama dengan sektor swasta, kelompok G20 negara industri dan sejumlah negara dalam hal peningkatkan kontribusi vaksin untuk beberapa bulan mendatang.
“Mereka mengambil langkah kecil. Tetapi mereka tidak boleh menipu diri sendiri karena itu hanyalah langkah kecil dan mereka masih memiliki banyak hal yang bisa dilakukan,” jelas Lowcock.
“Yang dibutuhkan dunia dari kelompok G7 adalah apa rencana mereka untuk memvaksinasi dunia. (Tetapi) yang kami dapatkan adalah rencana untuk memvaksinasi sekitar 10 persen negara berpenghasilan rendan dan menengah pada tahun depan atau paruh kedua tahun depan,” jelasnya.
Pada bulan Mei lalu, International Monetery Fund (IMF) meluncurkan proposal senilai 50 Miliar Dollar Amerika Serikat untuk mengakhiri pandemi Covid-19. IMF berharap dana tersebut dapat memvaksinasi setidaknya 40 persen populasi dari setiap negara hingga akhir tahun 2021. Setidaknya, 60 persen populasi akan selesai divaksinasi pada paruh pertama tahun 2022 mendatang.
“Itu kesepakatan abad ini!” ucap Lowcock.
Ia menambahkan G7 masih bisa berkontribusi untuk mengakhiri pandemi di seluruh dunia. mereka masih bisa membantu penyediaan sejumlah alat kesehatan vital seperti ventilator, alat pengujian maupun alat-alat pelindung diri ke negara-negara tanpa mempedulikan lamanya proses vaksinasi.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mendesak para pemimpin dunia untuk segera bertindak dan mempercepat program vaksinasi. Guterres mengkhawatiran penyebaran mutasi virus korona yang disinyalir kebal terhadap vaksin. [Mohamad Deny Irawan]




















