New York, Gontornews — Badan PBB untuk urusan populasi dunia, United Nations Population Fund (UNFPA), Rabu (19/04/2023), melaporkan bahwa India sedang bergerak menjadi negara terpadat di dunia melampaui Cina.
Laporan yang terlampir dalam data demografis UFPA “State of World Population Report, 2023” ini memperkirakan populasi India akan mencapai 1,4286 miliar manusia atau tiga juta lebih banyak ketimbang populasi Cina dengan 1,4257 orang pada pertengahan tahun 2023. Sementara itu, populasi masyarakat Amerika Serikat berada jauh di urutan ketiga dengan perkiraan populasi mencapai 340 juta manusia.
Pakar populasi yang menggunakan data PBB sebelumnya memproyeksikan bahwa jumlah populasi masyarakat India akan melampaui Cina bulan ini. Namun, laporan terbaru dari badan global menyebut pihaknya tidak merinci tanggal perubahan tersebut.
Pejabat kependudukan PBB mengatakan pihaknya tidak mungkin menentukan tanggal karena terdapat ketidakpastian data yang keluar dari India maupun Cina. Situasi ini terjadi karena India belum melakukan sensus penduduk, yang terakhir kali mereka lakukan pada 2011, pada 2021 yang tertunda akibat pandemi.
Meski India dan Cina akan mencapai lebih dari sepertiga dari perkiraan populasi global yaitu sebesar 8,045 miliar, pertumbuhan populasi di kedua negara telah melambat. Sejauh ini, Cina mencatatkan pelambatan populasi yang lebih cepat ketimbang India.
Tahun lalu, populasi Cina turun untuk pertama kalinya dalam enam dekade terakhir. Perubahan bersejarah ini, disebut-sebut, akan menandai periode panjang penurunan jumlah warga yang juga berdampak pada ekonomi dan dunia.
Pemerintah India melaporkan bahwa pertumbuhan populasi tahunan India ada di angka 1,2 persen sejak 2011. Sementara satu dekade sebelumnya, populasi India berada di angka rata-rata 1,7 per tahun.
“Temuan survei India menunjukkan bahwa kecemasan penduduk telah merembes ke sebagian besar masyarakat umum,” kata Andrea Wojnar, perwakilan UNFPA India, kepada Reuters.
“Namun, jumlah populasi seharusnya tidak memicu kecemasan seperti halnya alarm. Sebaliknya, mereka harus dilihat sebagai simbol kemajuan, pembangunan dan aspirasi jika hak dan pilihan individu ditegakkan,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]






















