Dalam hidup ini kita sering menerima perlakuan yang kurang layak, baik dari orang yang kita kenal atau dari orang yang tidak kita kenal. Bentuknya bisa bermacam-macam, bisa berupa ketidakadilan, zalim, atau fitnah. Kita mungkin sering menerima fitnah dari orang lain. Padahal, al-Qur’an mengingatkan bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
Kenapa disebut lebih kejam dari pembunuhan? Karena fitnah menimbulkan kekacauan, seperti mengusir orang dari kampung halaman, merampas harta, dan menyakiti atau mengganggu kebebasan beragama orang lain. Allah SWT berfirman, “Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.” (QS al-Baqarah [2]: 191)
Kita juga pernah difitnah. Salah satunya fitnah di Gontor yang terjadi pada tahun 1967. Namun, kita harus sabar menghadapinya. Allah telah mengajari kita agar memohon kesabaran kepada-Nya, “Ya Tuhan kami, limpahkan ketabahan kepada kami dan tetapkanlah pendirian kami.”
Lantas, apa obat terhadap fitnah yang menimpa diri kita. Allah SWT mengajarkan kepada kita dalam firman-Nya, “Maka apakah yang menyebabkan kami mendustakan Hari Pembalasan sesudah ada keterangan-keterangan itu. Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS at-Tin [95]: 7-8)
Ada tafsir yang memaknai, “Dengan alasan apa kamu tidak percaya adanya pembalasan?” Ada pula yang mengartikan, “Dengan alasan apa orang tidak percaya kepadamu tentang adanya pembalasan?” Namun yang jelas dan pasti, balasan itu ada. Barangsiapa menanam, maka dia akan menuai.
Allah itu Mahaadil. Dia akan menghukum siapa saja yang berbuat kesalahan. Allah yang adil, Allah yang akan menghukum apa saja yang salah. Kamu harus mengerti, jika kamu kurang ajar akan dibalas. Jika kamu korup akan dibalas. Jika kamu berbuat baik akan dibalas. Jika kamu memfitnah akan dibalas. Jika kamu difitnah juga akan dibalas.
Orang-orang tua, ibu-ibu di kampung-kampung, di desa-desa, kalau ada orang berkata, “Kamu dibicarakan orang.” Mereka berkata, “Alhamdulillah, syukur-syukur nanti dosa saya berkurang.” Orang yang difitnah kalau sabar, dosanya menjadi berkurang dan dosanya akan dibalikkan kepada orang yang memfitnah.
Dulu ada muridnya Pak Sahal (KH Ahmad Sahal, salah satu Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor — Red) yang agak nakal. Ketika Pak Sahal mengajar dicurangi. Dalam artian, diganggu dan dipermainkan. Anak-anak seharusnya masuk kelas menerima pengajaran dari Pak Sahal. Namun, mereka dibawa jalan-jalan oleh seorang murid ke tempat lain.
Alhasil, kelas menjadi kosong. Pak Sahal ketika itu sabar. Seiring berjalannya waktu, murid yang membawa anak-anak jalan-jalan tadi menjadi guru. Ia pun menuai apa yang dulu dilakukan. Muridnya membuat ulah, ada yang mengompori sehingga siswa-siswa bolos. Dia dipermainkan muridnya.
Ada pepatah mengatakan, “Tit for tat.” Dalam bahasa Arab ada istilah, “Asy-Syarru bisyarri.” Artinya, barangsiapa yang berbuat buruk, maka dia akan mendapat perlakuan buruk yang serupa. Ini hukum sebab-akibat. Itu sudah menjadi sunnatullah. Balasan itu pasti ada. Maka kamu harus hati-hati. []






















