Usai menjalankan serangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan, umat Islam biasanya merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan saling bersilaturahmi ke sesama Muslim. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari aktivitas saling bersilaturahmi. Di antaranya, silaturahmi menjadi salah satu sebab seseorang masuk ke dalam surga dan dihindarkan dari siksa neraka.
“Silaturahmi bisa menjadi salah satu sarana dan media bertambahnya umur, luasnya rezeki, dicinta keluarga, dan husnul khatimah,” ujar Dr M Sarbini MHI, dai sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Islam Al-Huda, Bogor.
Usai melaksanakan puasa Ramadhan, sudah seharusnya ketakwaan seorang Muslim meningkat sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Selain itu, sudah sepatutnya umat belajar menjadi pribadi yang jauh lebih baik ke depan, di antaranya dengan mengerjakan berbagai amalan shalih, khususnya guna memperkuat tali silaturahmi antarsesama. Untuk mengulik lebih dalam terkait perihal tersebut, berikut kutipan wawancara Wartawan Majalah Gontor Edithya Miranti bersama Dr M Sarbini MHI.
Mohon dijelaskan secara singkat bagaimana pelaksanaan konsep silaturahmi dalam Islam?
Sebenarnya pada asalnya silaturahmi itu menjalin hubungan erat dengan saudara dan kerabat senasab. Jadi pelaksanaan konsep silaturahmi merupakan semua upaya dan langkah yang dibolehkan Islam guna memperkokoh dan mempererat hubungan antarkerabat.
Menurut Dr Abdurrohman ‘Ayid bin al-‘Ayid ada beberapa pelaksanaan dari konsep ini antara lain, saling berkunjung, saling menjamu dengan hangat saat bertamu, saling memberi, serta saling menghormati dan mendoakan. Menurut Muhammad ath-Tharayroh dalam kitabnya, Shilat al-Arham wa al-Ahkam al-Khasshah biha fi al-Fiqh al-Islami (hlm: 147-223), ada beberapa pelaksanaan konsep silaturahmi yang lebih khusus, di antaranya mendahulukan saudara dan kerabat senasab dalam memberikan sedekah, memperhatikan nafkah yang mereka butuhkan, juga menunaikan zakat fitr mereka saat waktunya dibayarkan.
Lalu bagaimana kontekstualisasi silaturahmi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
Pada asalnya hubungan antara anggota masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak masuk dalam kata “silaturahmi”, sebagaimana yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Akan tetapi, kita bisa terima sebagai bahasa ‘urf di negeri kita tercinta ini. Kata silaturahmi sebagai pengganti kata ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan satu bangsa dan satu Tanah Air), sepanjang tidak digunakan untuk menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Sebab kita menyadari bahwa Islam menjunjung tinggi prinsip-prinsip berikut: satu, manusia secara umum pada dasarnya bersaudara, dilahirkan oleh bapak dan ibu yang sama. Ini persaudaraan seinsaniyah yang patut diperhitungkan ketika memandang sesama manusia. Dua, seluruh rakyat Indonesia terlepas dari agama dan suku merupakan saudara sebangsa dan se-insaniyah.
Tiga, seluruh umat Islam di dunia merupakan saudara seagama dan se-insaniyah. Empat, seluruh umat Islam Indonesia merupakan saudara seagama, sebangsa, dan se-insaniyah. Ini persaudaraan yang terkuat dan sangat sakral.
Kelima, semua persaudaraan di atas mempunyai konsekuensi penunaian kewajiban atas kita. Walaupun tingkatan kewajiban tersebut berbeda-beda menurut tingkat persaudaraan masing-masing, akan tetapi seluruhnya didasarkan atas kebaikan dan sama sekali tidak mengandung keburukan.
Kontekstualisasi persaudaraan sebangsa dan senegara yang kita bisa sebut secara ‘urf dengan kata silaturahmi dapat diwujudkan dalam tiga bentuk tarabuth (langkah perekatan). Sebagaimana diungkapkan oleh Dr Yusuf al-Qaradhawi mencakup hak-hak al-mu’awanah (gotong royong), hak-hak al-munasharah (memberikan dukungan positif), dan hak-hak at-takaful (simbiosis mutualisme).
Hubungan hak-hak tadi harus dilakukan oleh semua komponen masyarakat, baik antartokoh politik, tokoh sosial keagamaan, antarsuku dan lingkungan masyarakat, serta antarkeluarga dalam satu kebersamaan untuk hidup dalam satu bangsa dan negara.
Apa saja manfaat silaturahmi?
Silaturahmi memiliki banyak manfaat, baik untuk pribadi maupun sosial. Pertama, silaturahmi dapat memberikan tambahan kekuatan iman. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia silaturahmi.” (HR Al-Bukhari: 5787).
Kedua, silaturahmi menjadi salah satu sebab masuk ke dalam surga dan dihindarkan dari siksa neraka. Ketiga, silaturahmi bisa menjadi salah satu sarana dan media bertambahnya umur, luasnya rezeki, dicinta keluarga, dan husnul khotimah. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya ia menyambung silaturahminya (dengan kerabat).” (HR Al-Bukhari: 1961).
Kemudian terkait hal infaq dan sedekah, apa hikmah dan manfaat dari keduanya?
Pertama, sebagai ungkapan rasa syukur atas semua nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada dirinya. Kedua, sebagai tambahan dan keberkahan harta seorang hamba yang berinfaq. Ketiga, sebagai obat yang menjadi sebab kesembuhan berbagai penyakit dan benteng penjaga harta. Kelima, sebagai penghapus berbagai kesalahan. Keenam, sebagai simpanan seorang hamba untuk masa depan kehidupannya di akhirat dalam bentuk pahala yang besar sekali. Ketujuh, sebagai penjaga dari panasnya kubur dan siksa api neraka.
Mohon dijelaskan tentang maksud dari berinfak baik di waktu lapang maupun sempit?
Dalam beberapa tafsir dijelaskan bahwa berinfaq di saat lapang yaitu di saat seseorang memiliki kelapangan harta, maka dia memperbanyak memberikan sedekahnya. Sedangkan berinfaq di saat sempit yaitu saat seseorang mengalami kesulitan harta, maka dia tetap berusaha memberikan kebaikan (bersedekah atau berinfaq) kepada orang lain dengan apa saja yang dia mampu. Karena dalam ayat ini kata “yunfiqun” itu mutlak tidak diikat oleh infaq harta atau maal, jadi artinya mutlak infaq apa saja kebaikan sekecil apa pun.
Apa yang menyebabkan seseorang susah untuk memaafkan orang lain dan apa akibatnya jika kita tidak memaafkan orang lain?
Saya teringat ungkapan Ibnu Qayyim tentang hal ini. Ia menjelaskan bahwa siapa saja yang mampu melihat dengan sadar tentang keutamaan, rasa manis, dan keagungan sikap memafkan, lapang dada, serta santun kepada orang lain, niscaya dia tidak akan meninggalkannya kecuali kegelapan mata batinnya. Jadi kita bisa mengerti bahwa kegelapan mata batin yang disebabkan oleh banyak dosa dan kejahilan tentang besarnya anugerah Allah bagi para pemaaf itulah yang menyebabkan seseorang susah memaafkan orang lain.
Bagaimana cara membiasakan diri untuk menjadi pribadi yang pemaaf?
Selain harus banyak berdoa kepada Allah agar diberikan jiwa pemaaf, kita juga perlu meningkatkan ibadah dan memperbanyak silaturahmi. Sehingga kita terbiasa menerima berbagai sikap yang ada pada masing-masing orang.
Marah seperti apakah yang dibolehkan dalam Islam dan bagaimana batasannya?
Marah yang dibolehkan marah lillah yaitu marah yang disebabkan oleh panggilan karena Allah Ta’ala. Marah pada saat larangan-larangan Allah dilanggar atau saat nilai-nilai kemuliaan manusia sebagai hamba-Nya direndahkan, dihinakan, dan dikotori.
Bagaimanakah tips mengendalikan amarah?
Islam telah menjelaskan bagaimana seorang Muslim mengendalikan amarahnya, seperti isti’adzah (meminta perlindungan diri kepada Allah dari setan), diam dan menenangkan diri, selalu mengingat pesan Rasulullah SAW untuk tidak marah, segera berwudhu (walaupun hadisnya dinilai dha’if sebagaimana yang diuraikan oleh Imam an-Nawawi, akan tetapi melakukannya dianggap anjuran oleh Imam Ibnul Mundzir dalam kitabnya, al-Awsath, hlm. 189).
Apa pesan Anda kepada umat Islam khususnya dalam menyemarakkan momentum Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah ini?
Pesan saya sama dengan pesan yang disampaikan oleh salah seorang ulama besar al-Hafidz Ibnu Rajab dalam kitabnya, Lathaif al-Ma’arif hlm. 277, yaitu Hari Raya Idul Fitri bukan sekedar Hari Raya berbaju baru dan bercat baru, akan tetapi hakikinya hari momentum meningkatkan dan menambah kuantitas dan kualitas ibadah serta ketaatan kepada Allah, dengan terus berusaha membersihkan diri dari dosa dan kemaksiatan.
Momentum Idul Fitri merupakan hari “wa litukabbirullah” mengagungkan dan membesarkan Allah dari semua kemakhlukkan kita dan semua alam semesta. Ini momentum “ala ma hadakum” ungkapan rasa syukur yang dalam dan besar atas anugerah hidayah Islam yang diberikan Allah kepada kita semua. []





















