Kairo, Gontornews — Kesepakatan antara Pemerintah Mesir dan Ethiopia terkait pengoperasian bendungan raksasa di Sungai Nil menemui jalan buntu. Mesir menilai proposal kerjasama yang diajukan Ethiopia sebagai sebuah bentuk ketidakadilan di antara kedua belah pihak.
Sebagai informasi, Mesir, Ethiopia dan Sudan berencana untuk membangun pembangkit listrik tenaga air di bendungan Sungai Nil. Pembicaraan yang telah berlangsung dalam satu tahun terakhir tersebut dianggap merugikan Mesir yang selama ini menjadikan aliran Sungai Nil sebagai penghasil 90 persen pasokan air tawar dalam negeri.
Secara spesifik, Mesir menilai buntunya kesepakatan antara kedua negara berasal dari tidak adanya jaminan bagi Pemerintah Mesir dalam mengelola aliran air selama kekeringan terjadi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ethiopia, Nebiat Getachew, membenarkan bahwa kesepakatan kedua negara gagal terjadi. Namun, Getachew enggan mengomentari kegagalan tersebut terkait dengan klaim yang disampaikan oleh Pemerintah Mesir.
Terkait hal ini belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Mesir meski Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry, menyatakan kegelisahannya terkait penundaan proses negosiasi.
โSayangnya, dalam surat tertanggal 12 Agustus 2019, Ethiopia menolak proposal Mesir dan menolak menghadiri pertemuan enam partai,โ ungkap catatan Pemerintah Mesir sebagaimana dilansir Reuters.
Ethiopia menolak ajakan tersebut dan mengusulkan pertemuan serupa untuk membahas dokumen termasuk proposal dari Ethiopia yang masuk pada 2018 silam.
Salah satu isi dari proposal pembangunan GERD adalah untuk tahap pertama dari lima fase pembangunan yaitu masa pengisian bendungan dalam kurun waktu 2 tahun dan ditargetkan GERD di Ethiopia akan berisi air dari Sungai Nil setinggi 595 meter sehingga seluruh turbin pembangkit listrik tenaga bendungan akan beroperasi.
Akan tetapi, dalam proposal yang diajukan pemerintah Mesir, pelaksanaan fase pertama bertepatan dengan kekeringan ekstrim di Nil Biru Ethiopia yang pernah dirasakan masyarakat Ethiopia pada tahun 1979-1980 silam.
Karenanya, pemerintah Mesir meminta proses pengisian air yang sedianya dilakukan selama 2 tahun diperpanjang agar volume air di bendungan Aswan di Mesir tidak jatuh di bawah 165 meter.
Tanpa konsensi semacam itu, Mesir berisiko kehilangan lebih dari satu juta pekerjaan dengan manfaat ekonomi mencapai ย 1,8 Miliar Dollar AS pertahun atau setara dengan 25,4 Triliun Rupiah dan pasokan listrik setara 300 juta dolar AS atau setara dengan 4,2 triliun rupiah.
Sebelumnya, kedua negara berencana untuk membangun mega proyek Grand Ethiopian Renaissance DAM (GERD) pada tahun 2011 dan diproyeksikan sebagai upaya Ethiopia menjadi eksportir listrik terbesar di Afrika yang menghasilkan lebih dari 6.000 megawattย setiap tahun.
Menurut rencana, proyek ini memakan anggaran sekitar 4 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan 56,3 triliun rupiah. [Mohamad Deny Irawan]





















