Kepulauan Seribu, Gontornews — Keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci dalam melestarikan keragaman dan kekayaan hayati di Kepulauan Seribu.
Hal itu mengemuka pada Climate Change Resilience Study and Field Visit di Taman Nasional Kepulauan Seribu di bawah kerangka Institutional Strengthening of the Biodiversity Sector in ASEAN (ISB) Project yang berlangsung pada 4-7 April 2017.
Seperti dilansir kemlu.go.id, Taman Nasional (TN) Kepulauan Seribu merupakan perairan satu-satunya di dunia yang terletak di wilayah ibukota sebuah negara. Tidak heran apabila TN Kepulauan Seribu memiliki nilai ekonomi yang cukup strategis.
Terlebih, baru-baru ini, TN Kepulauan Seribu diusulkan sebagai ASEAN Heritage Park (AHP).
Melalui studi ini terlihat bahwa partisipasi aktif masyarakat di Kepulauan Seribu menjadi salah satu kunci bagi keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan setempat. Peran serta masyarakat terwujud melalui, antara lain, penanaman pohon bakau, rehabilitasi terumbu karang dan pelestarian penyu.
Studi ini juga turut melihat pengaruh gender dalam upaya pelestarian lingkungan sekitar. Serentetan program pemberdayaan masyarakat, seperti Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), turut mendorong peran serta perempuan dan anak-anak dalam upaya menjaga lingkungan serta meningkatkan perekonomian.
Institutional Strengthening of the Biodiversity Sector in ASEAN (ISB) Project merupakan kerja sama antara ASEAN Center for Biodiversity (ACB) dengan Lembaga Donor asal Jerman (GIZ).
Projek ini menaruh perhatian pada penguatan sektor keanekaragaman hayati di kawasan ASEAN.
Perwakilan dari ACB Filipina, GIZ Filipina, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Luar Negeri (c.q. Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN) hadir dalam studi ini. [Yuzaq Ardian/Al Hafidh]

















