10
Tonton Selengkapnya
28 °c
Pecenongan
Thu
Fri
Thursday, 18 June, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Values Kolom

Pemerintah Indonesia Harus Berterima Kasih pada Rakyat

Oleh: Ahmad Ghozali Fadli, Sekretaris Umum Forum Muballigh Alumni Gontor

Mohamad Deny Irawan by Mohamad Deny Irawan
1 September 2025
in Kolom
0
Pemerintah Indonesia Harus Berterima Kasih pada Rakyat

Pemerintah Indonesia harus berterima kasih kepada rakyat. (Ilustrasi)

Dalam hiruk-pikuk politik dan tata kelola pemerintahan, sering kali rakyat dipandang hanya sebagai objek pembangunan, bukan subjek utama yang menopang keberlangsungan sebuah negara. Pemerintah dengan segala institusi dan kewenangannya berdiri di atas dukungan rakyat, baik berupa legitimasi politik, partisipasi ekonomi, maupun ketaatan sosial. Oleh karena itu, sesungguhnya pemerintah Indonesia harus menyadari satu hal mendasar: ia berutang budi pada rakyatnya.

Rakyatlah yang membayar pajak, menggerakkan roda ekonomi, memilih wakil-wakil di parlemen, dan menaati hukum yang dibuat pemerintah. Tanpa rakyat, pemerintah hanyalah bangunan kosong tanpa isi. Maka, pemerintah Indonesia seharusnya menumbuhkan sikap berterima kasih kepada rakyat bukan hanya dalam retorika, melainkan dalam kebijakan nyata yang berpihak kepada kesejahteraan mereka.

Rakyat Fondasi Kekuasaan

Sejak zaman klasik, para pemikir politik menegaskan bahwa keadilan dan kekuasaan tak bisa dipisahkan dari rakyat. Ibnu Khaldun (1332–1406) dalam Muqaddimah-nya menulis bahwa berdirinya sebuah negara tidak mungkin lepas dari keberadaan masyarakat yang menopangnya. Ia menyebut konsep ‘ashabiyyah, ikatan sosial dan solidaritas kelompok, sebagai fondasi terbentuknya negara dan kekuasaan. Tanpa ikatan itu, sebuah pemerintahan akan kehilangan daya dukung dan akhirnya runtuh.

Ibnu Khaldun menegaskan, penguasa yang lalai menjaga hubungan timbal balik dengan rakyat, apalagi yang menindas dan memeras mereka, sedang menggali lubang kehancurannya sendiri. Baginya, keadilan merupakan tiang utama berdirinya peradaban, sedangkan ketidakadilan (dzulm) merupakan faktor paling cepat menghancurkan sebuah negara.

BACA JUGA

Modern Itu Alatnya, Bukan Cara Berpikirnya

Berani untuk Bebas

Anatomi Pondok Pesantren Jalan di Tempat: Telaah Kritis 9  Faktor Penghambat Kemajuan

Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

Struktur dan Kultur

Konsep ini selaras dengan pepatah yang berkembang di dunia Islam: al-‘adlu asāsu al-mulk, keadilan adalah fondasi kekuasaan. Seorang khalifah bisa kuat bukan karena kekerasan senjata semata, melainkan karena rakyat merasa aman, sejahtera, dan rela mendukungnya. Sebaliknya, jika pemerintah hanya menumpuk kekayaan, mengabaikan kebutuhan masyarakat, serta membebani rakyat dengan pajak yang mencekik, maka kekuasaan itu akan cepat rapuh.

Sejarah mencatat, ketika para pemimpin Muslim berterima kasih, dalam arti menghargai, melindungi, dan menyejahterakan rakyat, maka kejayaan pun tercapai. Umar bin Khattab RA misalnya, dikenal tidak pernah merasa “lebih besar” daripada rakyatnya. Ia hidup sederhana, sering turun langsung memantau keadaan rakyat, bahkan memikul sendiri karung gandum untuk memberi makan keluarga miskin.

Sikap itu menunjukkan pengakuan bahwa pemerintah tidak bisa berdiri tanpa rakyat. Umar memahami pesan Nabi Muhammad SAW: “Sebaik-baik pemimpin kalian yaitu yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian yaitu yang kalian benci dan mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.” (HR Muslim).

Hadis ini menegaskan adanya hubungan timbal balik antara rakyat dan pemimpin. Jika pemimpin tidak memiliki rasa syukur, tidak menghargai jerih payah rakyat, maka yang muncul kebencian, jarak sosial dan bahkan potensi pemberontakan.

Di era Abbasiyah, sejarawan al-Mawardi (w. 1058 M) dalam Al-Ahkam al-Sultaniyyah juga menekankan pentingnya seorang pemimpin untuk menunaikan hak rakyat. Menurutnya, kekuasaan bukanlah hak mutlak penguasa, melainkan amanah untuk menegakkan keadilan. Jika amanah itu diabaikan, maka rakyat berhak menuntut, dan Allah akan mencabut keberkahan sebuah pemerintahan.

Kenyataan di Indonesia

Indonesia dengan lebih dari 270 juta penduduk merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Secara ekonomi, kontribusi rakyat terhadap negara sangat nyata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 55% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Artinya, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih banyak digerakkan oleh daya beli masyarakat daripada investasi asing.

Selain itu, rakyatlah yang membayar pajak. Tahun 2024, penerimaan pajak Indonesia mencapai lebih dari Rp1.900 triliun atau sekitar 80% dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Angka ini menunjukkan betapa besarnya sumbangan masyarakat, baik melalui pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, maupun bea cukai, bagi keberlangsungan negara. Tanpa pajak rakyat, pemerintah tidak akan mampu membiayai pembangunan, membayar gaji aparatur negara, atau menyelenggarakan layanan publik.

Dalam bidang politik, rakyatlah yang memberi legitimasi melalui pemilu. Presiden, DPR, DPRD, hingga kepala desa dipilih oleh rakyat. Dengan kata lain, seluruh struktur pemerintahan berdiri di atas kehendak rakyat. Maka, ketika pemerintah melupakan jasa rakyat, atau bahkan menindas dengan kebijakan yang memberatkan, sesungguhnya ia sedang menentang dasar keberadaannya sendiri.

Ibnu Khaldun mengingatkan bahwa pemerintah yang tidak bersyukur, dalam arti tidak menghargai rakyat, akan terjebak pada siklus kehancuran. Ia menulis, setiap dinasti biasanya melewati tahap kemegahan, lalu kemewahan, kemudian kelemahan, hingga akhirnya runtuh. Salah satu faktor paling berbahaya dalam siklus itu yaitu ketika penguasa terlalu banyak mengambil dari rakyat tanpa memberi kembali.

Pemerintah yang tidak punya rasa terima kasih pada rakyat akan menganggap masyarakat hanya sebagai sumber dana dan tenaga. Pajak terus dinaikkan, subsidi dipangkas, kebutuhan dasar dibiarkan mahal, sementara elite bermegah-megahan. Ibnu Khaldun menyebut kondisi ini sebagai bentuk kezaliman, yang menurutnya merupakan “pembunuh peradaban paling cepat.”

Sejarawan Muslim lainnya, seperti al-Tabari dan al-Mas‘udi, juga mencatat runtuhnya kerajaan-kerajaan Islam akibat penguasa yang lalai terhadap rakyat. Dinasti Umayyah di Andalusia, misalnya, hancur karena para penguasa lebih sibuk berebut kekuasaan daripada mendengarkan aspirasi rakyat. Sementara Dinasti Abbasiyah melemah ketika rakyat terbebani pajak tinggi untuk membiayai kehidupan mewah istana.

Refleksi untuk Indonesia

Indonesia tentu tidak kebal dari hukum sejarah yang digambarkan Ibnu Khaldun. Jika pemerintah tidak belajar untuk berterima kasih pada rakyat dengan cara menjaga keadilan, menurunkan beban hidup, dan memperhatikan kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan, maka legitimasi rakyat akan terkikis. Pada akhirnya, negara bisa jatuh ke dalam krisis kepercayaan yang sulit dipulihkan.

Berterima kasih pada rakyat bukan sekadar mengucapkan terima kasih dalam pidato kenegaraan, melainkan menjadikannya orientasi kebijakan. Misalnya, dengan memastikan pajak yang dibayar masyarakat kembali dalam bentuk layanan publik yang berkualitas; memastikan rakyat kecil tidak tertindas oleh harga pangan yang melonjak; serta memastikan keadilan hukum benar-benar ditegakkan tanpa pandang bulu.

Sebagaimana ditegaskan Ibnu Khaldun, keadilan merupakan pilar yang membuat negara berdiri. Jika keadilan hilang, rakyat tidak lagi merasa dilindungi, maka fondasi itu akan runtuh. Pemerintah Indonesia harus sadar bahwa legitimasi bukanlah sesuatu yang abadi; ia harus dirawat dengan keadilan dan penghargaan pada rakyat.

Pemerintah ada karena rakyat. Negara kuat karena dukungan rakyat. Pajak, legitimasi politik, bahkan stabilitas sosial semua berasal dari rakyat. Ibnu Khaldun dan para sejarawan Islam telah mengingatkan: ketika penguasa tidak lagi punya rasa terima kasih pada rakyat, ketika ia menindas dan tidak menegakkan keadilan, maka kehancuran hanyalah masalah waktu.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia seharusnya terus-menerus mengingat jasa rakyat, bukan dengan retorika belaka, tetapi dengan kebijakan nyata yang menghadirkan kesejahteraan. Hanya dengan begitu, negeri ini bisa berdiri kokoh di atas fondasi yang benar: rakyat yang sejahtera, adil, dan dihargai. []

Tags: Ahmad Ghozali FadliForum Muballigh Alumni Gontor (FMA)Pesantren Bumi Al-Qur'an
Share16Tweet10Send
Previous Post

SMA Islam Al-Azhar 2 Pejaten Jakarta Selatan Gelar Workshop Branding Sekolah

Next Post

Kemilau Prestasi Mahasiswa IDAQU di Program Prima Magang PTKI Kemenag 2025

Mohamad Deny Irawan

Mohamad Deny Irawan

Reporter Media Online Gontornews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pesantren Wisuda SDIT Insantama Leuwiliang Hadirkan Trainer Nasional 

Pesantren Wisuda SDIT Insantama Leuwiliang Hadirkan Trainer Nasional 

13 June 2026
Pesantren Wisuda SDIT Insantama Leuwiliang: Ketua Yayasan Tekankan “Semangat Diri” dan Kekuatan Ruhiah dalam Belajar

Pesantren Wisuda SDIT Insantama Leuwiliang: Ketua Yayasan Tekankan “Semangat Diri” dan Kekuatan Ruhiah dalam Belajar

15 June 2026
Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

30 August 2021
Bekali Karakter dan Visi Hidup, SDIT Insantama Leuwiliang Gelar “Pesantren Wisuda”

Bekali Karakter dan Visi Hidup, SDIT Insantama Leuwiliang Gelar “Pesantren Wisuda”

14 June 2026
Pandemi Covid-19 Sebabkan Defisit Masa Belajar Siswa

Berani untuk Bebas

11 June 2026
Menghidupkan Kembali Budaya Baca

Menghidupkan Kembali Budaya Baca

0
Pembekalan Wawasan Hukum dan Melek Media Sosial bagi Santri Kelas 5 dan 6 Gontor Magelang

Pembekalan Wawasan Hukum dan Melek Media Sosial bagi Santri Kelas 5 dan 6 Gontor Magelang

0
Modern Itu Alatnya, Bukan Cara Berpikirnya

Modern Itu Alatnya, Bukan Cara Berpikirnya

0
Kisah Haru Pesantren Wisuda 2026 SDIT Insantama Leuwiliang

Kisah Haru Pesantren Wisuda 2026 SDIT Insantama Leuwiliang

0
Bersyukur dan Cobaan (Bagian Kedua)

Bersyukur dan Cobaan (Bagian Kedua)

0
Menghidupkan Kembali Budaya Baca

Menghidupkan Kembali Budaya Baca

17 June 2026
Pembekalan Wawasan Hukum dan Melek Media Sosial bagi Santri Kelas 5 dan 6 Gontor Magelang

Pembekalan Wawasan Hukum dan Melek Media Sosial bagi Santri Kelas 5 dan 6 Gontor Magelang

17 June 2026
Modern Itu Alatnya, Bukan Cara Berpikirnya

Modern Itu Alatnya, Bukan Cara Berpikirnya

17 June 2026
Kisah Haru Pesantren Wisuda 2026 SDIT Insantama Leuwiliang

Kisah Haru Pesantren Wisuda 2026 SDIT Insantama Leuwiliang

16 June 2026
Bersyukur dan Cobaan (Bagian Kedua)

Bersyukur dan Cobaan (Bagian Kedua)

16 June 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alur Pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Pondok Modern Darussalam GontorSource: gontortv
https://youtu.be/cUA3pvD43i8Video ini menjelaskan alur pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor secara lengkap dan sistematis.Informasi lengkap terkait pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar KMI Pondok Modern Darussalam Gontor dapat diakses melalui:
https://gontor.ac.id/persiapanPendaftaran online dilakukan melalui halaman resmi:
https://capel.gontor.ac.id
  • Kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor ke Pondok Pesantren Modern Darel Azhar RangkasbitungIntip momen seru kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor saat berkeliling melihat fasilitas, unit ekonomi, hingga suasana belajar di Pondok Pesantren Modern Darel Azhar Rangkasbitung.#DarelAzhar #MajalahGontor #KunjunganMahabbah #PondokModern #Rangkasbitung #SantriIndonesia #UkhuwahIslamiyah #DuniaPesantren #Gontor #LiterasiSantri
#majalahgontor
#gontornews
  • Tujuan dari sains Islam adalah meletakkan kembali jejak Tuhan di dalam kausalitas alam, agar manusia tidak arogan dan menganggap alam bekerja tanpa pencipta.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasionline
#belajarbaik
#hidupislami
#kehidupanislam
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
#ilmupengetahuan
  • Membaca Al-Qur
  • Kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan
  • Nasehat dalam memimpin suatu lembaga:
(Yang sulit dan menjadi tantangan dalam memimpin lembaga itu adalah:)
1. Noto Atine Dewe
2. Noto Atine Wong Liyo
3. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo
4. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo Sing Tukaran.KH Hasan Abdullah Sahal#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
  • Beriman itu tandanya jujur. Beriman itu tandanya bersaudara. Iman seseorang bisa diukur dari perilakunyaProf. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
  • KAJIAN PARENTING EKSKLUSIF & VIRTUAL TOUR ARABIC GLOBAL SCHOOL JAKARTA.Menyiapkan Generasi Cerdas: Menyeimbangkan Adab Islami & Kompetensi Global di Era DigitalBersama Narasumber dari Arabic Global School (AGS):
1.​Dedek Febrian (Pembimbing Akademik AGS)
2.​Ramdhanil (Kepala Sekolah Kindergarten AGS)
3.​Adi Suroto (Kepala Sekolah Primary AGS)Moderator :
Devi Lusianawati
Reporter Majalah Gontor dan Gontornews.com🗓 Rabu, 22 April 2026
⏰ 13.00 – 15.30 WIB​👇 KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENDAFTAR:
👉 https://bit.ly/pendaftaran-kajian-online#bedahbuku #parentingislami #muslimmilenial #gontornews #majalahgontor #gontor #kajianonline #kajianislam #psikologianak #polaasuh #bukuislami #livezoom #webinarislami #pendidikananak #belajarparenting #polaasuhanak #generasimilenial #islammodern #kajianjakarta
  • Mestinya orang Islam itu hanya dengan menjalankan shalat, jiwanya itu bersih. Shalat itu harus ada hubungannya dengan perilaku.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result