Dhaka, Gontornews — Organisasi Hak Asasi Global meragukan klaim Pemerintah Bangaldesh yang menyebut ribuan pengungsi Rohingya bersedia di pindah ke pulau tak berpenghuni, Lanau Bashan Char.
Organisasi Fortify Rights mengatakan bahwa dari 14 warga Rohingya yang diwawancarai di tiga kamp terpisah mengatakan mereka tidak mendapatkan konsultasi yang memadai dan semua warga menentang pemindahan menuju pulau Bashan Char.
“Jika pemerintah Bangaldesh memaksa saya untuk pergi ke pulau itu, saya akan lebih memilih untuk bunuh diri dengan minum racun di kamp ini. Saya tidak akan pergi ke sana. Tidak ada yang mengatakan kepada saya bahwa nama saya berada di daftar,” ungkap seorang wanita yang diwawancarai Fortify Rights sebagaimana dilansir Dhaka Tribune.
“Kami takut tinggal di dekat air. Orang-orang mengatakan bahwa dibutuhkan waktu empat jam dengan kapal untuk mencapai pulau tersebut. Bahkan jika mereka saya untuk pergi ke sana, saya tidak akan pergi,” tambah pernyatan wanita pengungsi Rohingya di kamp pengungsian Bangladesh.
Direktur Eksekutif Fortify Rights, Matthew Smith, mengatakan pulau tersebut tidak layak untuk digunakan sebagai kamp pengungsian.
“Pulau itu bukan solusi berkelanjutan bagi para pengungsi dan tidak ada yang tahu itu lebih dari pada warga Rohingya itu sendiri,” ungkap Matthew Smith.
Sementara itu, Asisten Sekretaris AS untuk Asia Selatan dan Asia Tengah, Alive G Wells, mendesak agar Bangladesh mendunda relokasi pengungsi ke Bhashan Char sampai ada penentuan lokasi yang cocok bagi para pengungsi.
“Kami mendesak Bangladesh untuk menunda relokasi pengungsi ke Bhashan Char sampai para ahli independen menentukan lokasi yang cocok,” pungkas Wells. [Mohamad Deny Irawan]






















