Tripoli, Gontornews — Sekelompok pakar hak asasi manusia PBB mengecam keras perdagangan budak di Libya. Sebuah laporan menyebutkan, ratusan pengungsi Afrika diperjualbelikan di pasar-pasar di Libya setiap pekan.
Dalam sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan pada hari Kamis (30/11), kelompok tersebut mendesak pemerintah Libya untuk mengambil “tindakan mendesak” demi mengakhiri praktik tersebut.
“Kami sangat terganggu melihat gambar-gambar yang menunjukkan bahwa para migran dilelang sebagai barang dagangan,” demikian pernyataan tersebut seperti dikutip Aljazeera.
“Sekarang jelas bahwa perbudakan adalah kenyataan yang keterlaluan di Libya. Lelang ini mengingatkan kita pada salah satu bab paling gelap dalam sejarah manusia, ketika jutaan orang Afrika dicabut, diperbudak, diperdagangkan dan dilelang ke penawar tertinggi.”
Di antara penandatangan pernyataan tersebut adalah Urmila Bhoola, pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang bentuk perbudakan kontemporer; Felipe Gonzalez-Morales, pelapor khusus tentang hak asasi manusia migran; Maria Grazia Giammarinaro, pelapor khusus tentang perdagangan manusia; dan yang lainnya memiliki keahlian dalam isu hak asasi manusia dan minoritas.
Pernyataan tersebut meminta pemerintah Libya dan masyarakat internasional untuk “mengambil tindakan segera dan menentukan untuk memastikan bahwa kejahatan ini tidak berlanjut”, dan menyerukan agar membebaskan segera orang-orang yang telah diperbudak tersebut.
“Sangat penting bahwa pihak berwenang segera mencari dan menyelamatkan para korban kejahatan yang menghebohkan ini dan bahwa Libya meminta pertanggungjawaban pelaku,” demikian pernyataan tersebut.
Mereka juga menambahkan, para migran di Libya “berisiko tinggi mengalami banyak pelanggaran hak asasi mereka, seperti perbudakan, kerja paksa, perdagangan manusia, penahanan, serta pemerasan tanpa henti dan tanpa batas waktu, pemerkosaan, penyiksaan dan bahkan terbunuh.”
PBB memperkirakan 700 ribu migran berada di Libya, yang merupakan jalur transit utama menuju Eropa.
Seorang pedagang manusia baru-baru ini mengatakan kepada Al Jazeera bahwa banyak pengungsi yang diperbudak ditahan karena tebusan atau dipaksa melakukan pelacuran dan eksploitasi seksual untuk membayar penculik dan penyelundup mereka. Yang lainnya dibunuh oleh penyelundup atau mati di padang pasir karena kehausan atau kecelakaan mobil.
Duta Besar Libya untuk PBB telah mengatakan bahwa laporan tentang lelang budak akan segera diselidiki. [Rusdiono Mukri]





















