Mojokerto, Gontornews — Pertemuan para ulama, habaib, profesional dan tokoh-tokoh di Pacet, Mojokerto, Sabtu (21/1) atau 23 Rabiuts Tsani 1438 melibatkan banyak tokoh. Pertemuan ini telah menggerus perbedaan antarumat Islam dan lebih mengedepankan persatuan.
Menurut Dr KH Fauzi Tidjani, diskusi berlangsung sangat produktif, dinamis dan semua kalimat yang keluar dari para ulama-ulama benar-benar visioner, nasionalis dan kental sekali komitmen keumatan dan kebangsaannya.
βSaya merasakan suasana kebatinan yang luar biasa dahsyat, ada energi yang sedang bergerak melalui para ulama pengasuh pesantren ini,β katanya.
Kiai Fauzi merasa ada sinergi yang mulai dibangun dan dirancang hingga menembus batas sekat golongan dalam tubuh umat Islam, βTidak ada sekat ormas, sekat salaf modern, dan lain-lain. Semuanya berbicara ke depan untuk umat dan bangsa, untuk Indonesia,β jelasnya.
Prof Dr Bisri, rektor Universitas Brawijaya Malang, mengatakan perlunya sinergi akademisi perguruan tinggi dan santri. Banyak hasil riset perguruan tinggi yang bisa dimanfaatkan oleh pesantren.
βAkses pesantren kepada perguruan tinggi harus dibuka, SDM pesantren rata-rata lebih unggul. Selama ini mereka tidak banyak diberi kesempatan. Ini tidak adil,β katanya.
Sementara itu, Prof Dr Muhammad Nuh menyoroti tentang pentingnya pemetaan peran dan strategi keumatan. Potensinya besar, tapi jika pemetaannya tidak tepat dan tidak strategis maka selamanya umat Islam akan kalah.
Menurutnya, sinergi perguruan tinggi dengan pesantren hukumnya wajib. Karena itu, ia mendorong para rektor untuk membuka akses seluas-luasnya kepada santri. βSalah satu harapan bangsa ini ke depan adalah para santri,β katanya. [Fathurroji/Rus]





















