Jakarta, Gontornews — Langkah sarat nyali Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon menganugerahkan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa kepada santri-santri Indonesia yang berprestasi di bidang ilmu pengetahuan mendapat sambutan luar biasa dari para akademisi.
Terlihat hadir sebagai tamu undangan antara lain Prof Dr Maksum MAg, mantan Rektor IAIN Syaikh Nurjati Cirebon, 70 kiai dari berbagai pesantren, ratusan guru dan dosen dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi, santri dan wali santri Bina Insan Mulia serta tokoh masyarakat sekitar Cirebon. Panitia memperkirakan yang hadir mencapai 700 orang memenuhi Ball Room Hotel Aston Cirebon, Ahad (21/5).
Ada sejumlah alasan mengapa langkah mutakhir ini diambil oleh KH Imam Jazuli LC MA, selaku pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia. Dalam sambutannya dia menegaskan, langkah ini bukan untuk menabrak aturan main pemberian gelar Doktor Honoris Causa yang sudah berlaku di perguruan tinggi.
“Langkah ini murni sebagai ekspresi dan aktualisasi penghargaan ala pesantren terhadap santri-santri yang berprestasi di bidang ilmu pengetahuan. Ini tidak sama dengan Honoris Causa di universitas,” jelasnya.
Kiai Imam Jazuli mengatakan, ada puluhan bahkan ratusan santri di Nusantara ini yang telah berkarya luar biasa di bidang ilmu pengetahuan, sejak masa pra-penjajahan hinggi kini, atau sejak 400 tahun lalu, namun belum pernah ada pesantren yang menganugerahkan sebuah gelar kehormatan.
“Kalau bukan pesantren yang menghargai karya santri-santrinya, lantas mengharapkan siapa lagi yang mau menghargai?” tegasnya disambut teriakan bergelora dan tepuk tangan meriah para hadirin.
Ada tiga kriteria utama yang ditetapkan untuk penganugerahan gelar Honoris Causa ini. Kriteria pertama adalah karya. Santri penerima Honoris Causa adalah orang yang telah menghasilkan karya di bidang ilmu pengetahuan umum, pendidikan, atau pengembangan masyarakat.
Kriteria kedua adalah kontribusi, dalam arti bahwa karya itu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat luas atau pesantren dan pendidikan Islam. Ketiga adalah keshalihan.
Santri penerima Honoris Causa adalah mereka yang dalam pandangan dzahir manusia memenuhi standar akhlak yang baik, sebagaimana dijelaskan dalam Hadis Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain dan baik pula akhlaknya”.
Sebelum menutup sambutannya, Imam Jazuli mengharapkan agar langkah ini bisa menginspirasi pesantren-pesantren lain di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 26 ribu itu. Intinya adalah bagaimana pesantren secara responsif memberikan penghargaan akademik kepada para santrinya supaya bisa menjadi dorongan kemajuan bagi yang lain.
“Pesantren tak cukup hanya hadir menunjukkan diri sebagai lembaga yang diisi orang-orang baik, tapi juga harus punya nyali menghadapi perubahan zaman ini,” tambahnya disambut tepukan antusias hadirin. [Muhammad Khaerul Muttaqien/Rus]




















