Istanbul, Gontornews — Pimpinan Muslim dan ulama dari berbagai negara mengeluarkan penyataan bahwa Masjidil Aqsha dalam bahasa besar. Penyataan ini dikeluarkan dalam pertemuan penting yang diikuti lebih dari 500 pemimpin Muslim dan ulama dari 30 negara di Istanbul, Turki, Jumat (7/10) waktu setempat.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) Yasin Aktay mengingatkan, jika Masjidil Aqsha dalam bahaya berarti manusia berada dalam bahaya. Pasalnya, Al-Quds merupakan contoh bagaimana orang dari berbagai sekte hidup berdampingan secara damai dengan cara yang ideal.
Sementara Ketua Gerakan Masyarakat untuk Perdamaian di Aljazair Abderrazak Makri mengajak negara-negara Islam peduli nasib negara Palestina, yang merupakan letak kiblat pertama umat Islam tersebut. Ia menyebutkan bahwa kekuatan asing menjadi penyebab rusaknya kondisi al-Aqsha dan umat Islam tidak bersatu.
“Itulah sebabnya kita harus bersatu bekerja untuk Masjid al-Aqsha,” serunya dalam forum tersebut seperti dilansir laman muslimnews.
Dilaporkan bahwa selama liburan Rosh Hashanah yang menandai tahun baru Yahudi, Israel menetapkan aturan sepihak hanya pria berusia di atas 50 yang boleh masuk masjid. Liburan Yahudi yang dimulai dengan Rosh Hashanah juga menyebabkan ketegangan warga Palestina karena keberatan dengan meningkatnya jumlah pengunjung Yahudi ke kompleks al-Aqsha.
Tindakan sewenang-wenang Yahudi di al-Aqsha menyebabkan setidaknya 235 warga Palestina tewas oleh pasukan Israel. Sebagian besar terjadi karena bentrokan atau dugaan serangan oleh tentara Israel.
“Kau tahu bahwa kudeta buruk yang gagal di Turki bertujuan untuk melemahkan Turki karena Turki ada di pihak Palestina; karena itu mereka ingin Turki berhenti mendukung Palestina,” tambah Makri.
Seperti halnya yang terjadi di Mesir, menurut mantan Menteri Informasi Mesir di era Mohamed Morsi Salah Abdel Maksoud kudeta militer di Mesir pada tahun 2013 karena Mesir mendukung Gaza.
“Kudeta militer di Mesir yang menggulingkan Morsi dipicu karena ingin mematahkan kepungan Israel dan membantu Gaza,” ujarnya.
Kepala Ikhwanul Muslimin Suriah Muhammad Walid juga menyampaikan pesan khusus yang ditujukan kepada Pemerintah Rusia.
“Kami tidak pergi ke negara itu untuk membunuh Anda, tetapi Anda datang ke negara kita untuk membunuh anak-anak kami, dan perempuan kami, dan untuk menghancurkan rumah kami. Kami tahu bahwa Anda adalah agrssor,” paparnya.
Untuk diketahui, pertemuan tersebut juga diikuti pemimpin politik yang mewakili setidaknya 50 organisasi sipil dan partai politik dari berbagai negara. Pertemuan ini diselenggarakan oleh Arab-Turki Relation Center bertema “Al-Aqsha dalam Bahaya”.
Forum ini diselenggarakan Pemerintah Turki untuk membahas solusi atas berbagai konflik yang melanda negara-negara Muslim. Pertemuan ini digelar setiap tahun dengan mengudang para ulama dari berbagai negara-negara Islam. [Ahmad Muhajir/Rus]





















