New Delhi, Gontornews — Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengatakan bahwa demonstrasi anti revisi undang-undang kewarganegaran (Citizenship Amandment Bill/CAB) yang dilancarkan di Universitas Jamia Milia Islamia tidak mempengaruhi agama atau warga negara apapun.
Bagi Modi, kekerasan yang terjadi dalam protes di kampus Jamia Milia Islamia sangat disayangkan dan menyusahkan.
“Kekerasan yang terjadi pada protes anti uu kewarganegaraan sangat disayangkan dan sangat menyusahkan,” kata Modi dalam akun Twitter nya.
“Debat, diskusi dan perbedaan pendapat merupakan hal penting dari demokrasi selama tidak ada perusakan properti publik serta mengganggu kehidupan normal masyarakat,” tambah Modi sebagaiman dilansir Anadolu.
Lebih lanjut, Modi meyakinkan sesama warga di India bahwa undang-undang kewarganegaraan tidak mempengaruh warga India berlatarbelakang agama manapun.
“Saya ingin meyakinkan kepada warga bahwa undang-undang ini tidak mempengaruhi agama manapun. Tidak ada orang India yang khawatir tentang undang-undang ini.”
“Undang-undang ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah mengalami penganiayaan selama bertahun-tahun di luar dan tidak memiliki tempat lain kecuali di India,” jelas Modi.
Sementara terkait kekerasan di Universitas Jamia Milia Islamia, lembaga hak asasi manusia internasional, Amnesty International, mengatakan bahwa pemerintah India harus menghormati hak-hak sipil.
Amnesty International mengatakan bahwa penangkapan yang dilakukan dalam demonstrasi damai merupakan bentuk pelanggaran hukum internasional terutama Konvensi internasional tentang hak sipil dan politik.
Mereka juga meminta agar pihak kepolisian meninjau kembali pendekatan mereka dalam menangani demonstrasi serta tetap mengawasi protes yang berlangsung.
“Polisi seharusnya menggunakan kekuatan untuk mematikan dalam menanggapi ancaman kematian yang akan segera terjadi atau risiko cedera serius. Itupun dilakukan sebagai upaya terakhir,” pungkas pernyataan resmi Amnesty International. [Mohamad Deny Irawan]





















