Bekasi, Gontornews — Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam Gontor mempertanyakan stigma radikalisme yang dialamatkan terhadap umat Islam. Bagi PKU Unida Gontor, stigma celana cingkrang sebagai kelompok radikal tidak tepat. Secara sarkas, PKU Gontor menyindir tuduhan pengguna celana cingkrang bak tuduhan kepada Wiro Sableng sebagai seorang yang radikal.
“Kalau anda melihat Wiro Sableng, apakah dia juga radikal hanya karena bercelana cingkrang?” Ungkap salah seorang peserta PKU Gontor angkatan XIII, Achmad Said Arwani, saat mempresentasikan tugas akhirnya di Universitas Islam Assyafiiyyah, Bekasi, Selasa (17/12).
“Saat ini stigma radikal sering dikaitkan dengan ekstrimisme, revoluisionisme, utopian, progresif, intoleran, kekerasan, terois dan anarkis,” imbuhnya Arwani kepada Gontornews.
Secara khusus, Arwani mengutip pernyataan Yusuf Al-Qaradhawi, bahwa Islam tidak pernah mengenal istilah radikal. Bagi Qaradhawi, islam radikal yang dipahami saat ini dalah ekstrimisme (al-ghuluw) dan berlebihan (At-Tatarruf).
Sebagai solusi, Arwani menawarkan solusi untuk melawan radikalisme yaitu: memperkuat moderasi Islam, berilmu dengan baik, bersikap adil dan mengembangkan dialog.
“Saya menduga bahwa tuduhan Islam radikal bermuara pada terorisme, islamophobia dan sekularisasi dan berakhir pada munculnya stigma bahwa mereka yang taat beragama adalah radikal,” pungkas Arwani. [Mohamad Deny Irawan]





















