BACA JUGA
Batang, Gontornews – Pimpinan Pondok Modern (PM) Tazakka, KH Anang Rikza Masyhadi menyebut bahwa kemerdekaan Indonesia dapat diperoleh karena peran besar ulama dan pesantren. Disamping itu, Kiai Anang juga menyebut bahwa, saat ini, masyarakat Indonesia mengalami defisit Kepemimpinan.
“Sejarah (Peran ulama dan pesantren dalam kemerdekaan) ini jangan dilupakan atau dinafikan. Maka, tidak perlu diragukan lagi bahwa pesantren selain akan mengisi kemerdekaan negeri ini, juga pasti akan menjadi garda terdepan dalam mempertahankan NKRI,” Sebut Kiai Anang saat menjadi Keynote speaker di Seminar ketahanan bangsa di PM Tazakka, Batang, Senin (28/11).
Seminar yang menghadirkan Dandim 0736/ Batang, Letnan Kolonel Fajar Ali Nugraha tersebut mengetengahkan isu seputar potensi sumber daya alam Indonesia yang saat ini diincar banyak negara di dunia. Letkol Fajar lantas menganggap isu ini sebagai isu serius dan tidak bisa dipandang sebelah mata karena berpotensi membahayakan keamanan nasional.
“Ancaman itu berupa aktifitas militer Amerika Serikat di Darwin yang jaraknya sangat dekat dengan kepulauan Indonesia Timur, dimana di sana ada Freeport, ya pasti tidak lain untuk menjaga itu,” kata Dandim 0736/Batang tersebut dalam kesempatan yang sama.
Kiai Anang berusaha menjawab persoalan tersebut dengan mengajak ratusan peserta dan para santri PM Tazakka untuk memahami betul arti kata Jihad yang sesungguhnya.
“Dalam Al-Quran ada kata Jihad dan Qital. Kalau jihad itu berani hidup, bukan berani mati. Baru Kalau Qital artinya berani mati. hanya saja, kita mau qital dengan siapa?” ungkap alumnus Gontor 1996 tersebut.
“Saya yakin, bahwa yang apa yang terjadi di Suriah, Iraq, Mesir dan negara konflik lainnya, tidak akan terjadi di Indonesia. Betapapun sulit dan tingginya tensi ketegangan antar kelompok di Indonesia ini, pada akhirnya selalu menemukan jalan keluar,” tambahnya.
Di akhir seminar, Kiai Anang kembali mengingatkan kepada para santri bahwa mereka adalah aset bangsa yang harus menjadi perekat umat untuk mempertahankan keutuhan NKRI.
“Kalian lebih berhak memimpin dan mengatur bangsa ini ke depan. Kita tidak rela jika bangsa ini diserahkan begitu saja pengelolaannya kepada asing,” pungkasnya seraya diamini seluruh santri. [Mohamad Deny Irawan]






















