Rouen, Gontornews — Polisi Prancis telah memeriksa sarjana Islam terkemuka, Tariq Ramadan, atas tuduhan melakukan pemerkosaan dan kekerasan seksual.
Dua wanita mengadukan Ramadan atas tuduhan perkosaan pada tahun 2009 dan dugaan serangan seksual pada tahun 2012.
Ramadan, seorang profesor studi Islam di Universitas Oxford, telah membantah tuduhan tersebut.
Salah satu wanita tersebut mengklaim bahwa dia disiksa oleh cendekiawan itu di sebuah hotel pada tahun 2012.
Wanita itu, Henda Ayari, mengisahkan peristiwa itu dalam sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 2016. Saat itu, dia tidak mengungkapkan identitas penyerangnya,
tapi setelah ada gerakan #MeToo, Ayari mengatakan penyerangan itu melibatkan Ramadan.
Ayari kemudian secara resmi melaporkannya ke polisi di Rouen.
Setelah itu, Shorlty, wanita kedua yang juga mengaku telah mengalami perlakuan serupa oleh Ramadan di tahun 2009, juga melaporkan kasusnya ke polisi.
Setelah tuduhan tersebut, polisi Prancis segera memulai penyelidikan pendahuluan.
Seperti dirilis Aljazeera, Ramadan kemudian mengadukan Ayari dengan tuduhan melakukan fitnah.
Atas kasus yang menjeratnya, Ramadan telah mengambil cuti dari Universitas Oxford.
Sebuah pernyataan bersama dari Ramadan dan universitas tersebut mengatakan bahwa cuti tersebut akan memungkinkannya untuk menghadapi “tuduhan yang sangat serius yang dialamatkan kepadanya.”
“Universitas secara konsisten mengakui beratnya tuduhan terhadap Profesor Ramadan, sambil menekankan pentingnya keadilan dan prinsip keadilan dan proses hukum,” kata pernyataan tersebut.
Ramadan, seorang warga negara Swiss, dipandang sebagai salah satu ilmuwan Muslim paling berpengaruh di dunia.
Dia adalah cucu Hassan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, dan penulis beberapa buku.
[Rusdiono Mukri]






















