Berlin, Gontornews — Langkah-langkah penguncian yang telah dilakukan Jerman berdampak kecil bagi penularan virus corona. Faktanya, negara itu mencatat tingkat infeksi dan kematian yang tinggi. Menjelang KTT pekan ini, para politisi hanya berbeda pendapat soal lama waktu perpanjangan penguncian saat ini harus dilakukan.
“Penguncian harus diperpanjang hingga akhir Januari,” kata Perdana Menteri Negara Bagian Bavaria Markus Söder kepada surat kabar Jerman Bild, Ahad (3/1).
“Pelonggaran dini akan membuat kami mundur jauh,” tambahnya.
Komentarnya muncul menjelang pertemuan antara 16 perdana menteri negara bagian dan Kanselir Angela Merkel pada 5 Januari untuk membahas penguncian saat ini.
Pembatasan ketat yang diberlakukan di seluruh negeri akan berakhir pada 10 Januari. Namun, dampaknya kecil. Pekan lalu, Jerman melaporkan jumlah kematian harian yang mencatat rekor, lebih dari 1.000, serta tingkat infeksi yang membengkak.
Perdana menteri negara bagian dilaporkan setuju bahwa penguncian saat ini harus diperpanjang dalam konferensi video pada hari Sabtu (2/1), menurut surat kabar Jerman Frankfurter Allgemeine.
Tetapi mereka berbeda pendapat soal berapa lama perpanjangan penguncian itu akan diberlakukan.
Negara-negara bagian yang paling terpukul dengan perpanjangan tiga pekan hingga 31 Januari, antara lain Sachsen, Thuringia, Baden-Württemberg, dan Bavaria.
Meskipun itu “menjengkelkan,” jumlah infeksi terlalu tinggi untuk mencabut pembatasan, kata pemimpin Bavaria Söder dalam sebuah tweet.
Rekan konservatif Söder, Michael Kretschmer, Perdana Menteri Sachsen, juga sependapat. Dia mengatakan, Jerman telah berhasil mencegah peningkatan cepat infeksi pada bulan Desember, tetapi ini tidak berarti negara itu bebas dari rasa aman. Dia menambahkan, pengalaman negara tetangga menunjukkan relaksasi dini sering kali diikuti dengan lonjakan jumlah infeksi.
“Saya menganjurkan untuk konsisten dan memiliki keberanian,” katanya. Oleh karena itu, perpanjangan penguncian di Saxony hingga setidaknya akhir Januari tidak dapat dihindari, lanjutnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Negara Bagian Thuringian, Bodo Ramelow, dari partai kiri sosialis, mengatakan, ia tidak memperkirakan langkah-langkah pelonggaran, seperti mengizinkan pembelajaran tatap muka di sekolah, sebelum akhir Januari. []





















