Dunia masa depan merupakan era kolaborasi, era kerjasama. Pun dengan dunia pesantren yang dituntut peka terhadap perubahan dan mampu menyesuaikan diri seiring dengan perubahan yang terjadi. Pondok Pesantren Mumtaza pun terus menjaga harapan tersebut seraya hadir untuk menjadi perekat umat.
Keinginan dan keteguhan hati H Afit Yuliat Nurkholis dan H Safrudin Wibowo sejalan dengan keinginan H Sodirun untuk mendirikan pesantren mendasari pendirian Pondok Pesantren Mumtaza, Prapas, Gumiwang, Banjarnegara, Jawa Tengah. Topografi Banjarnegara yang berbukit ditambah suasana teduh dataran tinggi Dieng menambah apik konsep pendirian Pondok Pesantren Mumtaza.
Perkembangan lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta tumbuh subur bak suburnya sektor pertanian di dataran tinggi Dieng. Pun dengan pendidikan formal maupun nonformal hingga sekolah-sekolah berbasis asrama seperti halnya pondok pesantren.
“Muhammadiyah dengan sekolah-sekolah Muhammadiyah dan modern boarding school-nya, Nahdhatul Ulama dengan sekolah Ma’arif dan pesantrennya, Syarikat Islam dengan pendidikan Cokroaminotonya serta sekolah Islam terpadu berkembang sedemikian pesat di Banjarnegara. Semua berkembang sesuai dengan segmen kemasyarakatannya masing-masing,” ungkap Pimpinan Pondok Pesantren Mumtaza, H Afit Yuliat Nurcholis, kepada Majalah Gontor.
Berdiri di atas tanah wakaf milik keluarga besar H Sodirun seluas 4.500 meter persegi, Ustadz Afit menerapkan sistem pendidikan bertajuk “Kulliyyatul Muhaafidzin Al-Islaamiyah”. Secara teknis, Pondok Pesantren Mumtaza mengusung pola pendidikan gratis, tidak berafiliasi kepada kelompok apa pun serta menerapkan manajemen yang profesional.
Selain itu, pengalaman Ustadz Afit belajar di Mesir serta berorganisasi secara internasional mendorong Pondok Pesantren Mumtaza untuk menerapkan pendekatan pengembangan ala organisasi perusahaan multinasional. Rekan sejawat Ustadz Afit, H Safrudin Wibowo, juga membantu perintisan pesantren ini dengan berbekal pengalamannya sebagai head of people and organization development di beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit selama lebih dari 15 tahun.
Maka, kolaborasi antara Ustadz Afit yang berpengalaman mengasuh Pondok Pesantren Andalusia Banjarnegara selama 20 tahun dan manajemen korporasi yang digeluti Ustadz Safrudin selama 15 tahun menghadirkan konsep pondok pesantren tahfidz gratis yang mengusung konsep enjoy learning.
“Pesantren Mumtaza juga disokong kemandirian ekonomi di bidang pertanian, peternakan dan perikanan,” ungkap alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor itu.
Wakaf H Sodirun
Keinginan keluarga besar H Sodirun untuk mendirikan pesantren tidak bertepuk sebelah tangan. Pertemuan keluarga besar H Sodirun bersama perintis Pesantren Mumtaza, Ustadz Afit Yuliat Nurcholis dan Ustadz Safrudin Wibowo menjadi tonggak awal pendirian pesantren di wilayah Prapas Gumiwang, Purwanegara, Banjarnegara.
“Jadi tidak ada cerita memilih, mencari atau menentukan lokasi tanah yang akan dibangun pesantren. Apa yang diberikan Allah SWT itulah yang ditindaklanjuti,” kata Ustadz Afit.
“Pembangunan bangunan utama Mumtaza selesai hanya dalam rentang 4 bulan saja yaitu pada 23 Dzulqo’dah 1441 H atau 14 Juli 2020 M. Selanjutnya, penerimaan santri perdana keesokan harinya pada 24 Dzulqo’dah 1441 H atau 15 Juli 2020 M,” imbuhnya sambil mengatakan bahwa izin operasional pesantren dari Kementerian Agama telah keluar.
Proses pembangunan diawali dengan cut and fill dan pembangunan jembatan beton yang diselesaikan hanya dalam tempo waktu 2 pekan saja. Upaya pembangunan selanjutnya dilaksanakan pada 26 Februari 2020 yang bertepatan dengan 2 Rajab 1441 H. Saat itu, Ustadz Afit maupun Ustadz Safrudin menghadirkan tokoh sekaligus dai Syeikh Ali Jaber dalam acara peletakan batu pertama pembangunan Pesantren Mumtaza.
Selain Syeikh Ali Jaber, Ponpes Mumtaza mengundang seluruh kiai pimpinan pesantren se-Karesidenan Banyumas, para direktur sekolah Islam terpadu, pengurus Muhammadiyyah, pengurus Nahdlatul Ulama, pengurus Syarikat Islam, pejabat pemerintah, DPRD, serta tokoh masyarakat.
Dalam kesempatan inilah disampaikan bahwa Pesantren Mumtaza telah diwakafkan kepada umat Islam dan berdiri di atas dan untuk semua golongan. “Alhamdulillaah masyarakat dan para hadirin menyambut dengan antusias kehadiran Mumtaza,” jelasnya.
Ustadz Afit mengemukakan bahwa pembangunan Pesantren Mumtaza juga melibatkan masyarakat sekitar. “Tidak sedikit ibu-ibu yang membawa cikrak, sapu, sekop, demi membersihkan lingkungan. Mereka bahkan berlomba untuk memberikan hidangan bagi tukang bangunan selama pembangunan pesantren,” tuturnya.
Tak hanya itu, hubungan antara masyarakat dengan Pesantren Mumtaza juga terus terjalin. Secara aktif, pesantren mengadakan pengajian Jumat malam serta, secara aktif, mengirimkan guru-gurunya ke beberapa desa untuk mengajar TPA dan TPQ. Sejauh ini, sudah 200 orang santri TPA/TPQ yang tersebar di beberapa titik dan menjadi binaan Mumtaza.
“Alhamdulillah, program ‘mem-mumtaza-kan’ masyarakat dan memasyarakatkan Mumtaza bisa terealisasi dari sebelum berdiri hingga hari ini,” katanya.
Selain mengelola tanah wakaf pembangunan fisik pesantren, Pesantren Mumtaza juga mengelola sejumlah wakaf manfaat. Wakaf model ini memungkinkan Mumtaza bekerjasama dengan sejumlah pihak untuk pengelolaan tanah secara produktif. Saat ini, Mumtaza mengelola sejumlah bidang tanah wakaf yaitu: 1) Satu unit kandang sapi berkapasitas 12 ekor; 2) Satu unit kadang kambing berkapasitas 120 ekor; 3) Satu kandang entok berkapasitas 500 ekor; 4) Tiga unit kolam ikan berkapasitas total 50.000 ekor ikan lele; 5) Satu lahan pertanian untuk ditanami 1.500 pokok pepaya kalina; dan 6) Satu lahan pertanian untuk ditanami 750 pokok terong ungu.
“Semua wakaf manfaat tersebar di sejumlah desa seperti Desa Winong, Desa Gumiwang, Desa Rakit, Desa Wangon, Desa Klampok, dan lahan sekitar pesantren,” jelasnya.
Terakhir, Ponpes Mumtaza mengingatkan jika pendidikan bagi anak harus disesuaikan seiring perubahan zaman. Pun dengan tantangan dakwah yang juga ikut berubah seiring dengna perubahan era maupun zaman. “Karenanya, bersegeralah berubah untuk menemukan cara terbaik dalam menyiapkan anak didik kita agar kelak mereka siap menghadapi dan mengatasi beratnya tantangan tersebut,” tutup Ustadz Afit. [] Mohamad Deny Irawan





















Masyaallah, smoga pesantren ini bisa lebih maju lagi