Jakarta, Gontornews — Bagi pesepakbola membela tim nasional (timnas) di ajang Piala Dunia merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka. Sehingga mengenakan kostum timnas di pertandingan sepakbola dunia merupakan pengalaman berharga. Apalagi sampai membawa pulang trophy untuk negaranya. Meski umat Islam bukan sebagai mayoritas di Prancis, tidak bisa dipungkiri ada kontribusi pemain Muslim bagi Prancis dalam Piala Dunia 2018 yang digelar beberapa waktu lalu.
Prancis selama ini dikenal sebagai salah satu negara multikultural. Kebijakan pemerintah Prancis yang memberikan kemudahan bagi imigran Afrika dan Timur Tengah sebagai salah satu penyebab banyaknya Muslim di negara beribukota Paris itu. Kemenangan Prancis di Piala Dunia tahun ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Muslim dunia, karena dari 23 pemain Prancis yang diboyong ke Rusia, ada saudara seagama kita yang bermain di skuad tim Ayam Jantan di ajang ini.
Di Timnas Prancis ada nama Ousman Dembele, Djibril Sidibe, Adil Rami, Benjamin Mendy, N’Golo Kante, dan Nabil Fekir yang merupakan pemain bola Muslim yang cukup berprestasi dalam ajang kejuaraan olahraga sepakbola dunia kemarin. Mereka turut berkontribusi untuk keberhasilan Prancis yang membawa pulang trophy setelah wasit Nestor Pitana membunyikan pluit panjang tanda akhir pertandingan Piala Dunia 2018 di Stadion Luzniki Moskow, Rusia.
Ya. Hari Ahad, Prancis membawa pulang tropi Piala Dunia 2018 yang pertama setelah 20 tahun mengalahkan Kroasia dengan skor 4-2. Ketika para penggemar sepakbola merayakan kemenangan setelah lama ditunggu-tunggu, pengguna media sosial memiliki tujuan yang berbeda. Retorika dan standar ganda Islamofobia Prancis segera menjadi topik diskusi, karena banyak yang mengingatkan dunia bahwa Tim Nasional Prancis termasuk tujuh pemain Muslim yang unggul selama pertandingan terakhir.
Di banyak negara di seluruh Eropa , “Muslim akan disemangati dan diperjuangkan jika mereka luar biasa, menghibur dan memajukan kepentingan nasional,” tulis salah satu pengguna Twitter. Tapi, ketika Muslim melakukan kejahatan , hampir 1,8 miliar pemeluk Islam disalahkan, dipermalukan, dan diseret ke dalam kumpulan preman pembunuh. “Islamophobia merajalela di Prancis, tetapi Muslim memimpin Prancis ke kemenangan Piala Dunia,” ujar ujar Profesor dari Universitas Detroit Khaled Beydoun dalam bidang hukum yang intens melawan gerakan islamophobia.
Melalui akun twitternya, penulis buku American Islamophobia: Understanding the Roots & Rise of Fear (Islamophobia Amerika: Memahami Akar dan Kebangkitan Ketakutan). “Islamophobia merajalela di Prancis: Larangan jilbab, 60% dari narapidana adalah Muslim dan Islam diposisikan sebagai “bertentangan dengan identitas Prancis. Tetapi Muslim memimpin Prancis meraih kemenangan dalam #WorldCup. “Di Eropa, umat Islam akan disemangati dan diperjuangkan jika mereka luar biasa, menghibur dan memajukan kepentingan nasional, tulis @KhaledBeydoun dikutip lamanStepFeed.
MITOS: “Islamophobia di Prancis tidak ada” tulis Khaled Beydoun dalam ciutan di akun @KhaledBeydoun. Realitasnya, tulis Khaled, jilbab dilarang di negeri ini, 60% narapidana di Prancis adalah Muslim, juga adanya ‘program pengawasan massal’ terhadap komunitas Muslim. Sementara Kashif N Chaudhry, seorang dokter di Englewood yang sering mengkampanyekan gerakan melawan isIamophobia di Prancis menulis ciutan di akun twitternya. Menyindir standar ganda terhadap Islam di Prancis. “Jika aku mencetak gol, aku orang Prancis. Jika tidak, aku orang Arab,” katanya melalui akun @KashifMD.
Seperti diketahui 15 dari 23 skuad Timnas Prancis keturunan imigran Afrika. 7 dari 23 skuad Timnas Prancis adalah Muslim. 3 dan 4 gol kemenangan Prancis di pertandingan final dicetak pemain keturunan imigran (Afrika dan Eropa). Selamat telah memenangkan #WorldCup. “80% dari tim Anda adalah orang Afrika, 50% dari tim Anda adalah Muslim, hentikan rasisme, xenophobia dan islamophobia di Prancis. Orang Afrika dan Muslim membantu Prancis merebut gelar Piala Dunia untuk kedua kali, sekarang berikan mereka keadilan,” tulis Khaled Beydoun. Berikut ini adalah beberapa profil pemain Muslim yang membantu Prancis merebut gelar Piala Dunia untuk kedua kali.
Paul Pogba
Para penggemar sepakbola tentu sudah banyak yang mengetahui bahwa gelandang Manchester United yang satu ini. Adalah Paul Pogba timnas Prancis ini dikenal sebagai seorang Muslim taat. Ia beberapa kali ke Makkah untuk menjalani ibadah umrah. Bahkan, sebelum gelaran Piala Dunia, Paul Pogba menyempatkan diri mengunjungi rumah Allah, seusai menunaikan musim Liga Primer Inggris. Saat berada di tengah lapangan juga tidak segan-segan menunjukkan ketaatannya. Sebelum kick-off dimulai, Pogba beberapa kali terlihat memanjatkan doa dengan menengadahkan kedua tangannya. Begitupun ketika berhasil mencetak gol. Pogba melakukan selebrasi dengan bersujud di pinggir lapangan. Foto dirinya bersama pesepakbola Muslim Djibril Sidibé melakukan sujud syukur pun menjadi viral seluruh dunia. Pemain sepakbola Prancis Muslim ini dianugerahi Penghargaan Pemain Muda Terbaik selama Piala Dunia 2014 setelah banyak mencetak gol selama turnamen.
Adil Rami
Pemain keturunan Maroko ini memilih berganti kewarganegaraan Prancis, tempatnya tumbuh besar dan berkembang sebagai pemain sepakbola. Adil Rami pernah membela klub Marseille, Valencia, AC Milan, dan saat ini berkarier di Sevilla, Spanyol. Ia berhasil merengkuh gelar ganda sebagai juara Liga Prancis dan Coupe de France pada 2010-2011 bersama Marseille. Adil Rami merupakan pemain beragama Islam selanjutnya yang dipercaya Didier Deschamps untuk memperkuat Timnas Prancis di Piala Dunia 2018. Namun Adil Rami tak diberi kesempatan bermain pada partai final melawan Kroasia. Padahal saat bermain untuk Marseille, Rami yang biasa menempati posisi bek tengah cukup sering dipercaya. Pada musim 2017-2018 di Marseille, Rami telah tampil 33 kali dan telah mencetak satu gol di Liga Prancis.
N’Golo Kante
Sebagai keturunan imigran dari Mali, N’Golo Kante juga dikenal sebagai seorang Muslim yang taat. Gelandang Chelsea yang sempat masuk dalam nominasi Ballon D’or ini beberapa kali kedepatan sedang menunaikan ibadah Umrah setelah musim Liga Primer Inggris usai. Di tengah lapangan pun, pria yang akrab disapa Kante itu selalu memanjatkan doa sebelum pertandingan dimulai. Soal prestasi? jangan ditanya lagi. Ya. N’Golo Kante menjadi salah satu pemain Muslim yang mampu menembus skuad utama Prancis di Piala Dunia 2018. Kante yang ditugasi mengisi pos gelandang bertahan oleh pelatih Prancis, Didier Deshamps, disebut legenda sepak bola Inggris Garry Lineker sebagai ‘pemain terbaik di Piala Dunia 2018’
Djibril Sidibe
Bek berusia 24 tahun, dan aslinya Senegal. Djibril Sidibe adalah bek kanan yang membela AS Monaco sejak 2016. Sejak 2016 pula, nama Djibril Sidibe kerap kali mewarnai skuad Timnas Prancis. Meski masuk dalam daftar skuad besutan Didier Deschamps, pria berkepala plontos itu sama sekali tak mendapatkan menit bermain di ajang Piala Dunia. Bersama Paul Pogba pula Djibril Sidibe melakukan sujud syukur bersama sesaat setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan final Piala Dunia 2018. “Beberapa detik setelah Prancis dipastikan menjuarai Piala Dunia 2018, Pogba dan Sidibe melakukan sujud syukur,” tulis pengelola akun Instagram @united_daily.
Benjamin Mendy
Satu lagi pemain Timnas Prancis yang merupakan seorang Muslim, yakni Benjamin Mendy. Sama seperti Sidibe, Mendy juga berasal dari Senegal. Sama dengan Rami dan Sidibe, Mendy juga tak berkesempatan unjuk gigi di laga final Piala Dunia 2018. Meski demikian, pria 23 tahun tersebut turut larut di tengah lapangan setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan final Piala Dunia 2018 yang dimenangi Prancis. Benjamin Mendy merupakan bek kiri yang terikat kontrak dengan salah satu raksasa di Inggris, Manchester City, sejak 2017 lalu. Ia juga dipercaya menjadi bagian dari skuat Timnas Prancis dari 2017 silam.
Nabil Fekir
Prancis punya banyak pemain berbakat, dan pemain bola berdarah Aljazair ini punya banyak kesempatan untuk berjaya bersama negaranya sejak mendapatkan caps pertamanya pada tahun 2015. Pesepakbola kelahiran 18 Juli1993 ini masuk sebagai satu dari 23 pemain dalam skuad final Timnas Prancis di putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia pada 14 Juni-15 Juli 2018 lalu. Pesepakbola kelahiran Lyon Prancis ini memiliki kesamaan dengan legenda Prancis, Zinedine Zidane. Fekir adalah anak dari imigran Aljazair yang dahulu pernah dijajah Prancis. Ia pernah dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Liga Prancis 2014-2015.
Ousmane Dembele
Penyerang berusia 21 tahun ini bermain untuk klub Spanyol, Barcelona. Dembele berasal dari Mali, Mauritania, dan Senegal. Dia memenangkan Piala Jerman DFB-Pokal dengan Borussia Dortmund pada 2016-17 di samping La Liga 2017-18 dan Copa del Rey 2017-18 dengan Barcelona. Selanjutnya, ia dinobatkan sebagai Pemain Muda UNFP Ligue 1 Tahun 2015–16, Terobosan Liga Champions UEFA XI: 2016, Bundesliga Rookie of the Season 2016–17, dan Man of the match pada Final DFB Pokal 201. Ia juga masuk pada Tim Bundesliga Musim 2016–17. [M Khaerul Muttaqien]



















