Ponorogo, Gontornews — Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan bahwa pendirian lembaga pendidikan tidak saja membutuhkan uang melainkan juga perlu memiliki sumberdaya yang berkualitas. Baginya, seseorang yang mendapatkan dana untuk sekolah dengan kualitas yang baik maka akan menghasilkan setidaknya SDM yang berkualitas.
“(Syed Mohammad Naquib) Al-Attas pernah berkisah tentang kedatangan seseorang dari negara Arab ke ISTAC. Maksud kedatangannya untuk mengapresiasi Al-Attas yang mampu mendirikan lembaga pendidikan (semisal ISTAC). Tapi, Prof Al-Attas setengah marah. Karena baginya membangun lembaga-lembaga pendidikan bukan hanya butuh uang saja tetapi juga beberapa aspek lain,” kata Prof Hamid saat menyampaikan sambutan dalam acara meet up dan silaturahim bersama para penerima beasiswa Assalam fil Alamin di Aula Multimedia UNIDA Gontor, Ahad, 11 Desember 2022.
“Saya terus berdoa karena meresahkan cara agar dapat mendanai jihad-jihad pendidikan dari para dosen UNIDA dan pesantren. Pada umumnya, ada dua problem yaitu dana dan SDM,” sambungnya sebagaimana dilansir laman Unida Gontor.
Hadir dalam pertemuan tersebut, Ketua Forum Pesantren Alumni Gontor sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang, Dr KH Zulkifli Muhadli dan Dewan Pengawas Lazis As-Salam Fil Alamin Dr KH Anang Rikza Masyhadi.
“Di masa depan nanti, kita sudah mampu menjadi funding semacam Asia Foundation dan bahkan Ford Foundation,” ungkap Kiai Anang menceritakan asal muasal Lazis yang berdiri sejak tahun 2015 tersebut.
Kiai Anang menegaskan bahwa mitra utama Lazis Assalam fil Alamin adalah pesantren. Pria yang juga Pimpinan Pondok Modern Tazakka Batang itu juga memaparkan sudah ada 12 pesantren yang menjadi mitra Lazis Assalam Fil Alamin.
Kiai Anang menambahkan, selama ini, kepentingan pendidikan menjadi prioritas ke sekian setelah kesejahteraan. Padahal, lanjut Kiai Anang, menyejahterakan rakyat perlu melalui program-program edukatif seperti pendidikan karena pendidikan merupakan bagian dari asnaf penerima zakat, fi sabilillah. [Mohamad Deny Irawan]






















