Jakarta, Gontornews — Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara adalah surat berharga yang diterbitkan pemerintah Indonesia berdasarkan prinsip syariah. SBSN atau sukuk negara ini adalah instrumen utang piutang tanpa riba sebagaimana dalam obligasi, namun dalam sukuk ini diterbitkan berdasarkan aset acuan yang sesuai dengan prinsip syariah.
Melalui skema SBSN inilah Kementerian Agama meningkatkan sarana dan prasarana Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam. Pada 2015 lalu, SBSN pertama kali diadakan dengan peserta berjumlah 25 kampus PTKIN. Nilai anggaran sebesar 280 miliar dan laporan pertanggung jawabannya bagus. Demikian kata Direktur Pendidikan Tinggi Islam Amsal Bahtiar seperti dikutip kemenag.go.idmenjelaskan.
Proses pembangunan PTKIN terus dilakukan. Untuk tahun 2016 ini progres pencairan SBSN PTKIN rata-rata sekitar 90%. “SBSN tahun 2016 ada 895 miliar di 25 PTAIN. Sekarang sedang berjalan dan berproses untuk finishingnya saja,” tambahnya.
Sebagai contoh, kata Amsal, realisasi program SBSN di IAIN Bukittinggi bahkan sudah 100%, IAIN Jember dan IAIN Palangkaraya, rata-rata sudah 90% ke atas. “Mudah-mudahan pas tanggal 31 Desember semuanya sudah selesai,” harapnya.
BACA JUGA
Dalam rapat Konsultasi dan Koordinasi Program SBSN 2017 ini diikuti 37 Rektor dan Ketua Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri, kepada mereka, Amsal mengingatkan bahwa SBSN merupakan bagian tidak terpisahkan dari pembangunan infrastruktur PTAIN dan karenanya harus diimplementasikan secara optimal.
Program SBSN telah memberikan dampak signifikan, salah satunya tampak dari gedung-gedung PTKIN yang saat ini terlihat bagus. Selain itu, kata Amsal, dukungan Pemda setempat kepada kampus juga tinggi. Seiring dengan keseriusan kampus dalam membangun, Pemda juga serius memberikan lahan pengembangan kampus.
Keberhasilan lainnya, kata Amsal adalah naiknya minat mahasiswa mendaftar. “Ketika gedung-gedung kita gagah, berwibawa, dan iconic, hal ini menarik minat mahasiswa dan orang tua untuk mendaftarkan putra putrinya untuk belajar di tempat kita,” katanya.
Bersamaan naiknya grafik peserta didik berakibat pada kurangnya ruang kelas. Amsal berharap Menteri Keuangan dan Bappenas dapat terus memberikan dukungan untuk pengembangan infrastruktur PTKIN ke depan. (M Khaerul Muttaqien)






















