Oleh Adnin Armas
Saat bulan Ramadhan, umat Islam menyadari dan merasakan perpindahan waktu dalam Islam adalah saat Maghrib, bukan jam 12 malam. Perpindahan hari dalam Islam berbeda dengan perpindahan hari dalam kalender “Masehi” yang biasanya dirayakan setahun sekali pada tanggal 31 Desember. Ini menunjukkan Islam memiliki konsep waktu yang berbedadengan agama-agama ataupun peradaban lainnya.
Saat seorang Muslim melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis atau puasa sunnah lainnya, melakukan ibadah haji, membayar zakat fitrah dan berbagai ibadah lainnya, maka yang menjadi dasar utama dari aktivitas ibadah tersebut adalah konsep waktu dalam ajaran Islam. Bukan konsep waktu sistem kalender “Masehi.” Sayangnya, kesadaran akan konsep waktu dalam ajaran Islam terkikis dengan konsep waktu dalam sistem kalender “Masehi.”
Banyak umat Islam yang tidak mengetahui setiap harinya tanggal dan bulan berapa dari tahun hijriyah. Fenomena ini menunjukkan, umat Islam terjauhkan dari identitas keislaman dan lebih banyak terwarnai dengan sistem dan ajaran yang berasal dari bukan Islam.
Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW yang memberi nama hari dan bulan. Allah menyebutkan dalam al- Qur’an dan Nabi Muhammad SAW menyebutkannya banyak di dalam hadisnya.
Jadi, puasa Ramadhan adalah Wahyu, bukan budaya. Kondisi ini berbeda dengan nama-nama bulan dalam kalender “Masehi” yang berasal dari budaya Roma. Budaya berubah mengikuti perkembangan zaman. Saat ini kita menyebut bulan ke-9, sebagai bulan September. Padahal, September itu artinya tujuh. Septem dalam bahasa Latin artinya tujuh. Seperti sapta dalam bahasa Sansekerta yang artinya tujuh.
Kita menyebut bulan ke-10 saat ini adalah bulan Oktober. Padahal, Okto dalam bahasa Latin artinya delapan.
Bulan November adalah bulan ke-11. Padahal, Novem dalam bahasa Latin artinya sembilan. Kita menyebut bulan Desember sebagai bulan ke-12, padahal Desember berasal dari Bahasa Latin, Decem yang artinya 10 atau desimal. Seperti juga dasa dalam bahasa Sansekerta yang artinya sepuluh.
Dulunya di Roma, setahun setara 10 bulan. Selanjutnya, pergeseran sistem astronomi telah terjadi, setahun berubah menjadi setara 12 bulan. Ini menunjukkan sistem waktu saat ini adalah bersumber dari budaya. Perpindahan hari pun yang ditetapkan pada jam 12 malam itu adalah berasal dari budaya.
Dulu, ratusan tahun yang lalu, di berbagai wilayah di dunia, perbedaan perpindahan hari disesuaikan dengan masing-masing budaya yang berlaku di lokasi tersebut. Ini berbeda dengan ajaran Islam yang meletakkan konsep waktu berasal dari Wahyu.
Konsep waktu dalam Islam juga bukan sekadar time is money. Waktu adalah amanah dari Allah dan anugerah-Nya. Amanah-Nya harusnya dijaga dengan melakukan ibadah dalam makna yang luas.
Waktu yang digunakan di dunia fana ini akan dimintakan pertanggungjawaban di akhirat kelak. Allah banyak bersumpah mengatasnamakan waktu. Demi Masa, Demi Fajar, Demi Dhuha, Demi Siang, Demi Senja, Demi Malam, dan sebagainya. Sumpah Allah dengan mengatasnamakan waktu menunjukkan konsep waktu dalam Islam sangat penting sekali.
Sebenarnya bukan hanya konsep waktu dalam Islam yang unik, karena berbeda dengan konsep waktu dalam ajaran agama dan peradaban lain. Islam juga memiliki berbagai keunikan dalam berbagai konsep lainnya seperti konsep Tuhan, alam, manusia, pendidikan, kebahagiaan, dan lainnya.
Sayangnya, sebagaimana konsep waktu dalam Islam yang terabaikan, konsep-konsep unik lain yang bersumber dari Wahyu juga banyak yang terabaikan oleh umat Islam. Inilah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh umat Islam, mengabaikan konsep konsep yang bersumber dari Wahyu.[]


















