Di jalan fana yang penuh liku deru debu,
kita melangkah—
mencari arah, menuntut makna,
mengejar dermaga abadi yang dijanjikan.
Cita adalah kiblat jiwa,
panah yang menunjuk ke arah wajah-Nya.
Bukan sekadar mimpi tak bertepi,
tapi janji pada hati:
“Kelak aku akan memandang-Mu, Ya Rabb di Firdaus-Mu…”
Setiap sujud, setiap amal, setiap tetes keringat—
adalah langkah menuju cahaya.
Gita adalah nyanyian perjalanan,
bukan dentang dunia yang memekakkan telinga,
bukan irama musik yang melalaikan sukma,
tapi dzikir yang menyapu debu hati.
“أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”
—dan hati pun tenang.
Dalam nyanyian semaradana ini, duri menjadi teman,
luka menjadi ukiran cinta,
karena di setiap denyutnya,
nama-Nya tak pernah padam.
Cinta Ilahiyah adalah api yang tak membakar,
tapi menghangatkan dinginnya rindu.
Ia menggerakkan cita,
memberi ruh pada gita.
Tanpanya, hidup hanyalah jasad berjalan—
kosong, rapuh, dan mudah roboh.
Dengan cinta kepada Allah,
jarak menjadi dekat,
ujian menjadi ziarah,
dan lelah menjadi ibadah.
Maka genggamlah erat jemari cita yang menunjuk ke surga,
lantunkan gita yang mengagungkan-Nya,
dan rawatlah cinta yang tak lekang oleh waktu.
Sebab hidup tanpa cita adalah perahu tanpa arah,
hidup tanpa gita adalah perjalanan tanpa irama suling yang mengalun,
dan hidup tanpa cinta ilahiyah
—adalah kematian sebelum mati- yang menyamar sebagai hidup.
Ya Allah…
Jadikan langkah kami teguh menuju-Mu,
jadikan nyanyian kami dzikir yang tak putus,
dan jadikan cinta kami
hanya milik-Mu,
hingga kelak, di akhir perjalanan,
kami tiba di hadapan-Mu,
membawa mawar abadi
dari taman surgawi nan hakiki. []
Darel Azhar, 9 Agustus 2025























