Gaza, Gontornews— Enam belas kaum ibu Gaza ditahan tanpa dakwaan atau persidangan, dan berdasarkan bukti rahasia. Delapan orang di antaranya ditembak dan dilukai oleh tentara sebelum mereka ditahan. Palestinian Prisoner Society (PPS) melaporkan, 43 perempuan ditahan oleh Israel setelah menggugat hak atas tanah mereka, Sabtu (7/3). Kabar itu dirilis Kantor Berita Palestina WAFA pada hari yang sama.
PPS mengatakan, Israel menahan lebih dari 16.000 wanita Palestina sejak pendudukannya di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur dan Jalur Gaza pada Juni 1967. WAFA menyebutkan, para tahanan wanita menjalani interogasi dan penyiksaan berat selama penahanan untuk memaksa mereka menandatangani pengakuan.
Penjara perempuan Palestina tidak berhenti pada bangunan yang digunakan untuk para tahanan pada umumnya. Penjajahan atas tanah mereka, seperti yang terjadi di Gaza juga bagai penjara. Perayaan hari perempuan internasional seolah disuarakan perempuan Gaza dengan aksi damai setiap harinya.
Raidah Abd Alkarim Shaban, salah satu perempuan Gaza, berjuang untuk kelangsungan hidup tujuh anggota keluarganya. Keluarga Raidah adalah penyintas konflik kemanusiaan di Gaza. Raidah tidak memiliki pekerjaan karena konflik berpuluh tahun sudah menyita hidupnya.
“Atap rumah kami jelek dan rusak. Ketika musim dingin, air hujan masuk ke dalam rumah. Sedangkan saat musim panas, cahaya matahari masuk melalui celah-celahnya. Keadaan kami begitu memprihatinkan ketika musim dingin datang. Air masuk ke dalam rumah dan kami tidak dapat tidur dengan layak seperti biasanya,” cerita Raidah dilansir dari laman actnews.
Sementara itu, menjelang Hari Perempuan Internasional, yang bertepatan pada 8 Maret setiap tahun, Biro Statistik Pusat Palestina (PCBS) melaporkan, partisipasi perempuan Palestina dalam proses pengambilan keputusan di Palestina masih sangat rendah dibandingkan dengan pria, meskipun jumlah wanita di Palestina setara dengan jumlah pria. Menurut PCBS, populasi di Palestina pada pertengahan 2020 diperkirakan 5,10 juta dibagi menjadi 2,59 juta pria (51%) dan 2,51 juta wanita (49%).
International Middle East Monitor melaporkan, Ketua Komite Rakyat Melawan Penjajahan Jamal Alkhodary mengatakan, wanita Palestina di Gaza telah sangat dipengaruhi oleh blokade Israel, dalam hal tenaga kerja.
Alkhodary meminta organisasi lokal dan internasional peduli dengan pengembangan wanita di Palestina. Ia berharap organisasi-organisasi setempat dapat segera memberikan bantuan kepada wanita Palestina di Gaza, dengan menciptakan beberapa program yang dapat mengurangi penderitaan para wanita. Pernyataan itu diungkap International Middle East Monitor pada malam perayaan hari perempuan internasional. []























