Jakarta, Gontornews — Pancasila tidak sekuler. Bahkan Pancasila tidak berhadapan dengan agama. Sebab, dalam ajaran Pancasila terkandung aspek religiusitas yang luar biasa. Demikian dikatakan Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi MA MPhil dalam kuliah online yang diselenggarakan oleh International Institute of Islamic Thought (IIIT), Selasa (21/9) sore.
Prof Hamid mengatakan, kalau Pancasila dipahami dalam konteks agama Islam, sila pertama Pancasila merupakan Tauhid, mengesakan Allah. Sedangkan sila-sila yang lain itu menunjukkan amal shalih yang berkaitan dengan kehidupan sosial.
Pendiri Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) Jakarta ini mengatakan hal itu menjawab pertanyaan peserta kuliah terkait pernyataan “Musuh Pancasila itu agama”.
Menjawab pertanyaan lain Prof Hamid mengatakan, orang yang berpandangan sekuler tidak mudah dideteksi. “Mereka baru ketahuan kalau berbicara,” ujarnya.
Sebab, orang yang berpandangan sekuler itu paling tidak bisa dilihat dari tiga ciri. Pertama, orang yang mengatakan tidak ada hubungan antara agama dengan kehidupan atau praktik bernegara. Kedua, orang yang mengatakan tidak ada hubungan antara agama dengan ilmu pengetahuan. Ketiga, orang yang mengatakan tidak ada hubungan antara alam semesta dengan Tuhan. “Di Barat, mereka yang sekuler itu sekaligus bisa menjadi atheis,” ujar cendekiawan Muslim kelahiran 13 September 1958 itu.
Peserta lain menyebutkan, dalam Islam ada hadis yang menyebutkan “Bekerjalah kamu untuk urusan duniamu seolah-olah kamu hidup selamanya dan bekerjalah kamu untuk urusan akhirat seolah-olah kamu mati besok” apakah ini berarti dalam Islam ada sekulerisasi?
Menurut Prof Hamid, ini pandangan yang kurang cermat. Sebab ketika kita bekerja di dunia itu kita berpikir mengenai akhirat, dan ketika kita memikirkan akhirat kita ini berada di dunia. Jadi, “Ini peringatan bahwa dalam kehidupan ini ada dua dimensi, yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.”
Pada kesempatan terpisah peraih gelar Magister Filsafat (MPhil) University of Birmingham, Inggris, itu menyebutkan, seorang Muslim yang beriman kepada Allah adalah seorang Mukmin. Dalam teori worldview, keimanan kepada Tuhan berimplikasi kepada seluruh kehidupan seseorang. Maka dari itu, menjadi Mukmin dapat menjamin seseorang menjadi seorang Pancasilais sejati. Sebab iman dalam Islam merupakan induk kebaikan. Implikasi dan implementasi serta bukti dari keimanan dalam Islam ialah berbuat baik kepada sesama manusia.
Karena itu menurut Prof Hamid, bukti apakah seseorang itu Pancasilais atau tidak, dapat dilacak terutama dari sila pertama. Seseorang yang melakukan kejahatan seperti korupsi, membunuh, berzina, dan menipu merupakan orang yang melecehkan sila pertama Pancasila. Jadi, “Orang yang tidak mengamalkan sila pertama itu tidak religius sekaligus tidak Pancasilais. Sebab orang yang sanggup meninggalkan sila pertama akan dengan mudah meninggalkan sila-sila yang lain,” papar doktor lulusan ISTAC IIUM Kuala Lumpur, Malaysia itu.
Sebaliknya barangsiapa yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, pasti akan menjalankan kepercayaannya itu dengan konsekuen. “Orang yang mengaku dirinya Pancasilais mestinya religius,” terang Direktur CIOS (Center for Islamic and Occiedental Studies) UNIDA itu. []






















