Maryland, Gontornews — Sebuah penelitian terbitan jurnal Clinical Infectious Diseases mengatakan bahwa pasien yang terinfeksi varian Alpha mampu mengeluarkan virus 43 hingga 100 kali lebih banyak ke udara dari pada mereka yang terinfeksi virus korona versi asli.
Para peneliti menjelaskan fakta bahwa pasien yang terinfeksi varian Alpha mampu meningkatkan jumlah virus pada hidung atau air liur. Sementara virus yang dihembuskan 18 kali lebih banyak dari pada yang dapat dijelaskan oleh viral load yang lebih tinggi.
Para peneliti juga menemukan bahwa penggunaan masker oleh pasien Covid-19 bergejala ringan mampu mengurangi jumlah partikel bermuatan virus di udara hingga 50 persen.
“Kita tahu bahwa varian Delta yang beredar sekarang bahkan lebih menular dari pada varian Alpha,” ungkap Don Milton, peneliti dari University of Maryland School of Public Health, yang dilansir Reuters.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa variannya terus menjadi lebih baik dalam perjalanan melalui udara. Karenanya, kami harus menyediakan ventilasi yang lebih baik, menggunakan masker, selain vaksinasi, untuk membantu menghentikan penyebaran virus,” ucap Milton.
Sering kali, pasien Covid-19 dengan gejala berat mengalami serangan yang mematikan kekebalan tubuh. Covid-19, sambung penelitian tersebut, mampu memproduksi apa yang mereka sebut dengan autoantibodi yang menyerang jaringan sehat dan menyebabkan inflamasi. Kondisi tersebut dikenal dengan badai sitokin atau cytkcin strom.
Penelitian terbitan Nature Communications mengungkapkan bahwa 50 persen dari 147 pasien Covid-19 memiliki autoantibodi dalam sampel darah mereka. Sementara pengambilan sampel darah dari kelompok yang sehat, mereka hanya menemukan 15 persen dari 41 sukarelawan yang memiliki autoanbodi dalam sampel darahnya.
“Dalam satu pekan, sektiar 20 persen ini telah mengembangkan antibodi baru untuk jaringan mereka sendiri yang tidak muncul saat mereka mendapatkan perawatan,” kata pemimpin studi, Paul Utz dari Universitas Stanford.
Penelitian ini lantas mendorong masyarakat untuk melakukan vaksinasi. Menurut para peneliti, seorang pasien Covid-19 tidak mengetahui apakah mereka akan mengalami gejala ringan atau berat. Pasalnya, mereka menduga bahwa gejala berat pada kasus Covid-19 berisiko mengalami masalah kesehatan karena memicu autoimunitas.
“Kami belum mempelajari pasien cukup lama untuk mengetahui apakah autoantibodi ini masih ada satu atau dua tahun ke depan,” tutup Paul.
Terakhir, ia mencatat kemungkinan munculnya penyakit autoimun pada pasien Covid-19 bergejala berat. [Mohamad Deny Irawan]


















