Idlib, Gontornews — Rusia mengajak kelompok oposisi yang terlibat perang di Suriah untuk berdamai. Ajakan tersebut melalui genjatan senjata yang diumumkan Rusia pada Jumat (30/8).
Sebuah pernyataan yang dikutip laman Aljazeera menyebutkan bahwa kesepakatan gencatan senjata dilakukan sepihak oleh pasukan pemerintah Suriah di zona de-eskalasi Idlib. Hal itu dari pukul 06:00 waktu setempat pada 31 Agustus.
Pernyataan itu juga mengatakan bahwa tujuan dari gencatan senjata adalah untuk menstabilkan situasi di Idlib. Selain itu mendesak pejuang anti-pemerintah untuk meninggalkan provokasi bersenjata dan bergabung dalam proses perdamaian.
Rusia dan sekutunya Suriah telah meningkatkan serangan udara di Suriah barat laut ketika mereka mengirim bala bantuan dari unit elit tentara dan kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran untuk meningkatkan serangan besar-besaran terhadap kubu besar kelompok oposisi terakhir.
Pasukan sekutu yang dipimpin Rusia tersebut telah berhasil mengambil alih pertanian kota Khwain, Zarzoor dan Tamanah di Idlib selatan dan mendorong pasukan mereka ke wilayah yang berada di Provinsi Idlib dengan jumlah penduduk yang padat serta sebuah wilayah yang menjadi lokasi pengungsian warga Suriah yang melarikan diri.
Sementara itu, sumber-sumber oposisi mengatakan ratusan tentara dari Pengawal Republik elit negara itu, yang dipimpin oleh saudara Presiden Bashar al Assad, Maher al-Assad yang melindungi ibukota, Damaskus, bersama dengan pejuang dari kelompok Hizbullah yang didukung Iran dikerahkan di garis depan Provinsi Idlib selatan.
“Ada banyak bantuan harian yang datang dari milisi Iran, satuan elit Pengawal Republik dan Divisi Bersenjata Keempat,” kata Kolonel Mustafa Bakour, Komandan Jaish al-Izza, salah satu kelompok oposisi.[Devi Lusianawati]






















