Istanbul, Gontornews — Rusia kembali mengirimkan peralatan pertahanan udara canggih terbaru ke Turki, Sabtu (13/7). Melalui Kementerian Pertahanannya, Turki mengatakan, akan terus melaksanakan kesepakatannya dengan Rusia soal pembelian peralatan tempur.
Dikutip laman Reuters, Kementerian Pertahanan Turki juga mengatakan pesawat kargo Rusia keempat telah mendarat di pangkalan udara Murted dekat ibukota Turki, Ankara. Pengiriman itu dilakukan sehari setelah tiga pesawat besar Rusia AN-124 menurunkan muatan peralatan di pangkalan tersebut.
Sementara itu, sebelumnya Washington telah berusaha selama berbulan-bulan untuk mencegah kesepakatan. Alasannya bahwa sistem pertahanan udara S-400 Rusia tidak sesuai dengan sistem NATO.
AS juga mengatakan bahwa jika S-400 dikerahkan di dekat jet F-35 AS, yang dibeli dan dibantu Turki untuk diproduksi, hal itu akan merusak pertahanan pesawat tempur siluman itu.
Selain itu, para pejabat AS telah memperingatkan Turki jika ia tetap membeli S-400 maka Turki akan terlempar dari program F-35. Turki juga akan menghadapi sanksi di bawah undang-undang AS tentang pencegahan negara-negara dari membeli peralatan militer milik Rusia.
Turki sendiri mengatakan jika S-400 adalah persyaratan pertahanan strategis, terutama untuk mengamankan perbatasan selatan negaranya dengan Suriah dan Irak. Dikatakan bahwa ketika membuat kesepakatan dengan Rusia untuk S-400, Amerika Serikat dan Eropa sendiri belum bisa menyajikan alternatif yang layak.
Pertikaian antara negara-negara dengan dua tentara terbesar di NATO telah menandai perpecahan yang mendalam dalam aliansi militer Barat, yang terjadi setelah Perang Dunia Kedua untuk melawan kekuatan militer Moskow.
Sememtara itu, Jumat (12/7), Washington mengeluarkan respons melalui pejabat Sekretaris Pertahanannya Mark Esper yang mengatakan bahwa sikap AS tidak berubah. Dilanjut dengan Perbincangannya dengan Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar.
“Menteri Akar mengatakan kepada rekannya A.S. bahwa Turki tetap berada di bawah ancaman udara dan rudal yang serius dan pembelian sistem pertahanan S-400 bukanlah suatu pilihan melainkan keharusan,” kata pernyataan Kementerian Pertahanan Turki.
Perselisihan dengan Washington dan soal sanksi AS membuat investor di Turki merasa resah, dan hal itu juga berkontribusi pada krisis keuangan yang mendorong ekonomi Turki ke dalam resesi.
Lira Turki melemah sebanyak 1,6% menjadi 5,7780 terhadap dolar pada hari Jumat, sebelum akhirnya pulih.
Kantor berita Rusia TASS mengutip sumber diplomatik-militer yang tidak disebutkan namanya pada hari Jumat bahwa pengiriman lebih lanjut dari 120 rudal yang dipandu akan dilakukan dengan kapal pada akhir musim panas mendatang.[Devi Lusianawati]






















