Tiga lapis sabuk radiasi Van Allen. Warna kuning menunjukkan intensitas radiasi, sementara warna hijau adalah ruang antara sabuk. Credit: NASA/Van Allen Probes/Goddard Space Flight Center
Tak kalah dari bosnya (Presiden AS Donald Trump), David Hiller Gelernter juga mengguncang dunia. Dalam pernyataan pertamanya selaku Penasihat Sains dan Teknologi Gedung Putih, dia menyebut misi pendaratan manusia ke bulan sebagai hoaks. Dia menyatakan, pesawat antariksa Apollo tak pernah sampai ke sana.
‘’Radiasi Van Allen Belt (VAB) amat kuat. Sulit membayangkan ada pesawat perawak dapat menembusnya. Apalagi astronot dengan selimut aluminium foil,” ungkap Gerlernter. Pernyataan ahli komputer Universitas Yale itu mengejutkan mengingat dunia selama ini percaya dengan mega proyek antiksa terebut. Sementara yang ngomong juga bukan orang sembarangan. Tahun lalu, majalah Time menobatkannya sebagai satu dari 100 tokoh sains berpengaruh abad ini
Adik-adik tahu, apakah VAB? VAB atau Sabuk Van Allen adalah sebutan kawasan medan magnet yang menyelimuti atmosfir Bumi pada radius 1.000 hingga 60.000 km. VAB ditemukan tahun 1958 oleh Dr James A Van Allen (1914-2006), astornom Universitas Iowa dan perancang eksperimen Explorer 1.
Menurut Van Allen, bumi dikelilingi oleh medan magnet raksasa berbentuk donat. Kawasan ini penuh bahaya radiasi yang berasal dari partikel bermuatan yang bermuatan dan berenergi tinggi. Sabuk radiasi punya beberapa lapis. Awalnya ditemukan ada dua lapis, lapis bagian dalam dan lapis bagian luar.
Belakangan, ditemukan lapis ketiga. Mulai terdeteksi tahun 2012, SVA ketiga tidak stabil. Dia muncul ketika ada ledakan matahari yang tinggi. Saat intensitasnyan turun, lapis ketiga SVA pun raib. Jadi, bentuk dan besaran sabuk Van Allen dapat bervariasi, tergantung pada tingkat energi partikel yang dominan, serta intensitas aktivitas tata surya. Ada empat model SVA yang berhasil diobservasi para astronom peneliti yang terlibat dalam misi Explorer I-4, dan berlanjut dengan VAB Probe.
Menjurut para ahli, SVA berperan sebagai pelindung bumi. Dia menyaring serbuan-serbuan partikel radioaktif dan radiasi sinar kosmik yang berasal daru luar angkasa. Adanya sabuk ini pula yang membuat atmosfir bumi lebih stabil dan cocok mendukung kehidupan biosfir di Bumi.
Tetapi, David Gerlernter punya pandangan berbeda. Selain sebagai pelindung Bumi, VAB juga sebagai penghalang misi antariksa. Radiasi di medan VAB berbahaya. Tidak saja mengancam aneka satelit dan pesawat antariksa. Tetapi juga bisa mematikan setiap makhluk yang berusaha menembusnya. Banyak satelit rusak dan hangus terbakar begitu masuk wilayah VAB.
Gerlernter berargumen, ‘’Sampai kini, para ahli masih berkutat mencari solusi merancang bangun pesawat dan pakaian astronot yang dapat mengatasi gangguan radiasi kuat di VAB. Bagaimana bisa ada cerita pendaratan manusia di bulan tahun 1969?’’ Dia menilai kisah pendaratan di bulan adalah kebohongan terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan.
Seperti banyak terpublikasi, selama periode 1968-1972, AS berhasil mengirim sembilan misi pesawat berawak Apollo ke Bulan. Misi ini menjadi tonggak sejarah monumental misi pertama pendaratan manusia di luar orbit Bumi. Untuk mencapai bulan, Apollo harus melewati daerah radiasi berbahaya VAB.
Pendapat Gerlernter disanggah Robert A. Braeunig, penulis buku Rocket and Space Technology (2014). Radiasi memang merupakan kata yang menakutkan bagi banyak orang awam. VAB memang berpotensi mengganggu pesawat ruang angkasa. Terutama ketika ada badai matahari. Tetapi, dia percaya para ahli NASA dan perancang Apollo telah memperhtungkan adanya potensi bahaya itu. Pesawat antariksa didesain khusus untuk meredam efek radiasi. Lintasan trayektorinya pun disiapkan untuk dapat melewati wilayah aman karena tidak semua permukaan bumi diselimuti VAB. .
[Dedi Junaedi]



















