pesanan-baju-kaos
36 °c
Pecenongan
Mon
Tue
Sunday, 25 October, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Values Kolom

Salah Kaprah Toleransi

Ahmad Sastra, Cendekiawan Muslim

M Khaerul Muttaqien by M Khaerul Muttaqien
8 years ago
in Kolom
0
Salah Kaprah Toleransi

foto: tribunnews.com

Narasi toleransi dan radikalisme adalah wacana Barat untuk mendekonstruksi Islam dan menjebak kaum Muslimin. Menjelang hari Natal misalnya, umat Islam diarahkan untuk ikut merayakannya, padahal jelas hukumnya haram. Bahkan ada beberapa sekte Kristen seperti Saksi Yahuwa, Adventis [GMHK] dan Mormon tidak merayakan Natal karena dianggap bid’ah ajaran kafir, sebab diyakini tanggal 25 Desember adalah kelahiran dewa matahari, bukan kehaliran Yesus.

Begitu pun saat menjelang tahun baru Masehi yang merupakan tradisi di luar Islam, maka umat Islam diharamkan merayakan dengan berbagai bentuk aktivitas khusus. Namun ironisnya, umat Islam yang tidak merayakan Natal dan tahun baru sering distigma sebagai kaum intoleran dan radikal.

Bahkan berbagai aksi bela Islam yang dilakukan oleh kaum Muslimin pada akhir tahun 2016 hingga 212 tahun 2018 sebagai respons atas aksi penistaan Islam justru seringkali dinilai sebagai aksi intoleran dan dianggap memicu aksi radikalisme. Sementara sang penista sendiri tidak dianggap demikian. Kaum misionaris Barat akan terus ngotot dan kebelet untuk mendekonstruksi Islam dengan berbagai cara licik seperti ular hingga cara-cara halus seperti merpati.

Karena itu mendudukkan postulat toleransi dan radikalisme dalam paradigma yang benar jauh lebih penting sebelum menganalisis berbagai fakta dan dinamika gerakan kaum Muslimin akhir-akhir ini. Jika istilah toleransi dan radikalisme hendak disematkan kepada Islam dan kaum Muslimin, maka kedua istilah ini juga harus digali dari epistemologi Islam. Akan menjadi masalah jika kedua istilah itu justru ditimbang dengan epistemologi neomodernisme Barat. Sebab secara diametral kedua epistemologi itu sangat berbeda, baik dari asas, metode dan penafsiran.

BACA JUGA

Malaikat Pencatat Amal sebagai Sumber Nilai Kejujuran dan Tanggung Jawab dalam Pembelajaran Akidah Akhlak

Strategi Guru Menumbuhkan Kualitas Iman Siswa

Menjadi Alumni Gontor Menjadi Santri Sepanjang Hayat

Internalisasi Nilai Asmaul Husna dalam Menumbuhkan Sikap Empati dan Kepedulian Sosial Siswa

Strategi Menanamkan Akidah Islam Melalui Pembiasaan Ibadah pada Anak Tingkat SD/MI

Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin memiliki paradigma yang khas terkait berbagai konsep pemikiran dan nilai-nilai. Membicarakan Islam mesti merujuk kepada sumber nilai agama ini yakni al-Qur’an dan al-Hadis, bukan perilaku umatnya, apalagi dengan menggunakan sumber nilai dari luar Islam. Islam sebagai sebuah konsepsi berbeda dengan Muslim sebagai orang yang menjalankan nilai. Sebab perilaku orang Muslim tidak selalu mencerminkan nilai-nilai Islam.

Bahkan jika ditelusuri lebih dalam banyak sekali konsepsi-konsepsi paradigmatik menggunakan kata Islam justru berasal dari paradigma Barat yang anti-Islam. Sebagai contoh istilah-istilah yang berkembang dalam dunia akademik seperti Islam liberal, Islam inklusif, Islam radikal, Islam moderat dan bahkan Islam fundamentalis. Istilah-istilah itu sesungguhnya secara genealogis bukan berakar dari epistemologi Islam.



Istilah-istilah itu dibangun berdasarkan kajian-kajian epistemologi Barat yang disinyalir justru untuk memecah persatuan kaum Muslimin. Dari perbedaan pendapat atas istilah-istilah itulah seringkali menimbulkan berbagai friksi internal kaum Muslimin.

Hegemoni demokrasi yang sudah terlanjur banyak diadopsi oleh kaum Muslimin di dunia telah menempatkan Islam sebagai obyek. Islam ditempatkan sebagai obyek penilaian yang kadang tidak proporsional. Hasilnya jika Islam dan perilaku kaum Muslimin tidak sejalan dengan nilai-nilai demokrasi Barat maka akan diberikan lebel fundamentalis dan radikalis. Sementara pemahaman Islam yang sejalan dengan nilai-nilai Barat seperti kebebasan dan HAM akan dianggap sebagai Islam moderat mitra Barat. Umat Islam dituduh radikal jika tidak pro Barat dan disebut moderat jika pro Barat penjajah.

Sebagai contoh paling jelas adalah penilaian Barat terhadap konsep jihad sangat berbeda dengan konsep Islam. Kata jihad menurut Sayyid Sabiq berasal dari kata juhd, artinya upaya, usaha, kerja keras dan perjuangan. Seorang Muslim dikatakan berjihad jika ia berusaha mati-matian dengan mengerahkan segenap kemampuan fisik maupun material dalam memerangi dan melawan musuh agama (Islam) (lihat Fiqh as Sunnah, Bairut: Mu’assasat ar Risalah, 1422 H/2002,3:79). Makna singkatnya jihad berarti berperang melawan musuh Islam (lihat QS 9 :73 dan 66 : 9).

Konsep jihad yang digali dari epistemologi Islam ini oleh Barat dianggap sebagai sebuah ancaman bagi hegemoni demokrasi. Karena itu konsep jihad oleh Barat direduksi menjadi sekedar bersungguh-sungguh dan menghapus makna jihad dengan perang. Makna reduktif inilah yang kemudian diadopsi oleh pengusung Islam moderat. Sementara gerakan dakwah yang masih berpegang teguh atas makna jihad yang sesungguhnya dianggap sebagai gerakan radikal dan fundamentalis bahkan dianggap teroris.

Problem epistemologis inilah yang kini sedang dikembangkan di negeri ini. Kata toleransi oleh Barat dimaknai sebagai paham pluralisme yang oleh fatwa MUI 2005 telah dinyatakan haram. Sebab pluralisme adalah paham yang mengakui kebenaran setiap agama. Konsep pluralisme Barat memiliki dimensi teologis, sementara dalam Islam pluralitas itu berdimensi sosiologis. Sebab Islam melarang kaum Muslimin untuk mencampur aduk kebenaran dan kebatilan. Karena itu haram hukumnya mengucapkan salam pluralisme yang menyebutkan ucapan salam agama-agama secara bersamaan.

Islam adalah agama toleran dalam arti menghargai keragaman suku, agama dan bahasa. Daulah Islam yang dipimpin oleh Rasulullah sebagai representasi penerapan hukum Islam justru dengan indah menghargai dan melindungi entitas teologis dan sosiologis yang berbeda selama menaati aturan daulah Islam dengan membayar jizyah.

Allah menegaskan Islam sebagai agama toleran dalam surat al Kafirun ayat 1 sampai 6, Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Sementara perjuangan Islam adalah sebuah kewajiban setiap Muslim. Perjuangan Islam sebagaimana dilakukan oleh Rasul adalah dengan dakwah hingga Islam menjadi rahmat bagi alam semesta. Islam adalah agama dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara memberikan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat akan kebenaran Islam, tanpa ada unsur paksaan.

Sementara jihad adalah upaya mempertahankan negara dan kaum Muslimin dari serangan dan penjajahan musuh-musuh Islam sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah dan para ulama masa penjajahan. Konsep jihad dan implementasinya adalah sebuah kemuliaan karena bagian dari ketundukan akan perintah Allah. Berbeda dengan konsep dan aksi terorisme yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri.

Dengan demikian istilah toleransi dan radikalisme adalah dua kata jebakan ekstrem terhadap Islam dan kaum Muslimin ketika ditimbang berdasarkan epistemologi Barat. Sementara masyarakat Muslim seringkali salah kaprah dalam memahami istilah toleransi dan radikalisme. Dua kutub yang diciptakan Barat bertentangan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri.

Kutub pertama toleransi dalam arti pluralisme dan kutub kedua jihad dalam arti terorisme atau radikalisme. Sebab Islam adalah agama sempurna, mulia dan penuh perdamaian. Islam bukan agama oplosan tapi juga bukan agama terorisme. Islam adalah Islam dengan seluruh kemuliaan ajarannya, tanpa embel-embel yang berasal dari sumber di luar Islam. Islam sebagaimana asal katanya bermakna selamat, sejahtera dan damai.

Maka teruslah waspada terhadap kejahatan Barat dalam merusak Islam dan kaum Muslimin dengan narasi toleransi, intoleransi, moderat dan radikalisme ini. Umat Islam diharamkan mencampur aduk ajaran Islam dengan agama lain. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” [QS Al Baqarah : 42] []

Tags: epistemologiRadikalismeToleransi
Share26Tweet16Send
Previous Post

Kabupaten Paser Adakan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) ke- 44

Next Post

Malaysia Jual Kapal Pesiar Super Mewah Equanimity

M Khaerul Muttaqien

M Khaerul Muttaqien

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kesyukuran Wisuda Angkatan Ke-11 STKQ Al-Hikam Depok Hadirkan Puluhan Lulusan Berkualitas

Kesyukuran Wisuda Angkatan Ke-11 STKQ Al-Hikam Depok Hadirkan Puluhan Lulusan Berkualitas

19 October 2026
Tidak Hanya Luluskan Wisudawan, STKQ Al-Hikam Depok Mulai Lahirkan Sebelas Wisudawati Terbaik

Tidak Hanya Luluskan Wisudawan, STKQ Al-Hikam Depok Mulai Lahirkan Sebelas Wisudawati Terbaik

19 October 2026
Teman Paling Baik Menurut Al-Qur’an

Teman Paling Baik Menurut Al-Qur’an

22 October 2026
Gontor 7 Kalianda Gelar Pergantian Pengurus OPPM

Gontor 7 Kalianda Gelar Pergantian Pengurus OPPM

22 October 2026
Mahasiswa AFI UNIDA Gontor Belajar Menjadi Pemimpin dan Ayah di Rumpun Nurani

Mahasiswa AFI UNIDA Gontor Belajar Menjadi Pemimpin dan Ayah di Rumpun Nurani

21 October 2026
Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

0
Menembus Pasar Global: IKAPI Jakarta dan Rene Turos Group Meriahkan BSI International Expo 2026

Menembus Pasar Global: IKAPI Jakarta dan Rene Turos Group Meriahkan BSI International Expo 2026

0
Nur El Haq Luwu Studi Banding ke PMDG Putri Kampus 3 Karangbanyu Ngawi

Nur El Haq Luwu Studi Banding ke PMDG Putri Kampus 3 Karangbanyu Ngawi

0
Ma’had Al Muqaddasah Li Thafidzil Qur’an Gelar Haflah Khotmil Qur’an Ke-23

Ma’had Al Muqaddasah Li Thafidzil Qur’an Gelar Haflah Khotmil Qur’an Ke-23

0
Perkuat Pemahaman Wakaf Produktif INCEIF Gelar Kunjungan ke UNIDA Gontor

Perkuat Pemahaman Wakaf Produktif INCEIF Gelar Kunjungan ke UNIDA Gontor

0
Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

24 October 2026
UNIDA Gontor Gelar Pesantren Kilat Ramadhan di SDN Wakah 1

Malaikat Pencatat Amal sebagai Sumber Nilai Kejujuran dan Tanggung Jawab dalam Pembelajaran Akidah Akhlak

24 October 2026
Nur El Haq Luwu Studi Banding ke PMDG Putri Kampus 3 Karangbanyu Ngawi

Nur El Haq Luwu Studi Banding ke PMDG Putri Kampus 3 Karangbanyu Ngawi

24 October 2026
Ma’had Al Muqaddasah Li Thafidzil Qur’an Gelar Haflah Khotmil Qur’an Ke-23

Ma’had Al Muqaddasah Li Thafidzil Qur’an Gelar Haflah Khotmil Qur’an Ke-23

24 October 2026
Menembus Pasar Global: IKAPI Jakarta dan Rene Turos Group Meriahkan BSI International Expo 2026

Menembus Pasar Global: IKAPI Jakarta dan Rene Turos Group Meriahkan BSI International Expo 2026

24 October 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bazar Buku. Silahkan japri untuk pemesanan via instagram hari ini.
  • Buku ini ditulis untuk kamu yang sedang atau pernah menjalani kehidupan di pesantren. Pesan sekarang atau kunjungi stan Majalah Gontor di ESPECTO BAZAR.
  • ESPECTOR BAZAR AL HASSAN BEKASI 24 - 25 OKTOBER 2026.  DAPATAKAN DISKON 15% BAGI PEMESAN BUKU INI VIA INSTAGRAM. 
BELUM TERMASUK ONGKIR. 
UNTUK PEMESANAN BISA JAPRI ADMIN.
  • Assalamu
  • Pre Order dibuka kembali hingga 25 Oktober 2026

Link pembelian bisa dilihat di bagian akhir gambar atau di profile.
atau bisa langsung ke link dibawah ini :
https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews
  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133

untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah

#majalahgontor 
#gontornews 
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.

#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025

Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan: 
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-

Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802

Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews 

#majalahgontor 
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.

Ukuran : S, M, L, XL

Link Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result