يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 21)
Interpretasi Para Mufasir
Tafsirul Jalalain menyebutkan bahwa Surat Al-Baqarah ayat 21 ditujukan kepada penduduk Kota Mekkah saat itu. Mereka diperintahkan untuk mengesakan Allah dengan harapan mereka menyembah Allah agar dapat melindungi diri dari azab-Nya.
Imam At-Thabari dalam tafsirnya, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, mengatakan bahwa Surat Al-Baqarah ayat 21 ditujukan kepada kelompok musyrik di Kota Mekkah, kelompok munafik di Kota Madinah, dan semua kelompok sosial selain dua kelompok pertama. Allah memerintahkan mereka untuk tunduk, patuh, merendahkan diri, dan mengesakan-Nya.
Dalam kitab Ad-Durarul Mantsur karya Imam as-Suyuthi mengutip Imam Ibnu Ishaq, Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari, dan Imam Ibnu Abi Hatim, bahwasanya Sayyidina Ibnu Abbas menafsirkan firman-Nya “Wahai manusia!” -dalam ayat itu-, maknanya ialah wahai orang-orang yang beriman (Mukmin) dan orang-orang yang ingkar (kafir), “Sembahlah Tuhanmu” bermakna esakanlah Tuhanmu.
Artinya, esakanlah Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Janganlah kalian mengambil sesuatu apa pun untuk kalian jadikan sesembahan. Sedangkan dalam Tafsir Ath Thabari, kata “Sembahlah” dimaknai sebagai ibadah. Ibadah artinya menyerahkan diri kepada Allah dengan ketaatan dan merendahkan diri kepada-Nya dengan kepatuhan kepada-Nya.
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi Surat Al-Baqarah ayat 21 merupakan pertama kalinya Allah menyeru kepada makhluknya. Di mana pun berada diharapkan terus beribadah kepada Allah.
Pada Surat Al-Baqarah ayat 21, Allah mengingatkan bahwa takwa adalah puncak derajat para pesuluk atau para pejalan spiritual, yaitu terbebas dari segala selain Allah untuk bergantung kepada-Nya. Seorang hamba Allah, menurut Baidhawi, tidak boleh terpedaya dengan ibadahnya.
Dalam tafsir al-Wajiz disebutkan bahwasanya makna takwa adalah mewaspadai siksa-Nya dan mendapatkan ridha-Nya.
Imam al-Baghawi mendefinisikan ibadah secara bahasa dalam kitab Ma’alim at-Tanzil sebagai suatu ketaatan yang didasarkan kepada penghinaan diri dan ketundukan.
Syaikh Ibnu Taimiyyah al-Harrani dalam kitabnya al-Ubudiyyah mengatakan: “Ibadah adalah setiap perkara yang dapat mendatangkan kecintaan dan keridhaan dari Allah, dari perkataan dan perbuatan; yang zhahir maupun yang batin.”
Setelah menelisik kandungan dari QS Al-Baqarah: 21 tersebut dari khazanah kajian tafsir, diketahui bahwa hikmah seruan yang dimaksudkan kepada manusia itu bersifat general; dan tidak hanya dikhususkan kepada umat Muslim yang beriman. Dan secara tidak langsung juga membuktikan bahwa agama Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin.
Nilai-nilai Pendidikan
QS Al-Baqarah: 21 mengandung sejumlah nilai Pendidikan untuk manusia. Pertama, mendidik hamba-Nya agar senantiasa beriman, bertakwa kepada Allah, mengesakan Allah dan hanya menyembah pada-Nya.
Kedua, mengajarkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas limpahan nikmat yang Allah berikan.
Ketiga, mendidik hamba-Nya agar memaksimalkan ibadah kepada Allah dan berhubungan baik dengan sesama makhluk Allah.
Keempat, mengajarkan akhlak mulia serta menjauhi akhlak tercela serta menjauhkan diri dari segala macam kemusyrikan.
Apa Itu Kesehatan Mental dan Spiritual?
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kesehatan mental adalah keadaan sejahtera di mana setiap individu bisa mewujudkan potensi mereka sendiri. Artinya, mereka dapat mengatasi tekanan kehidupan yang normal, dapat berfungsi secara produktif dan bermanfaat, dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitas mereka.
Al-Maraghi dalam Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan kesehatan mental yang dimaksud dalam Al-Qur’an yaitu orang-orang yang mengamalkan kandungan Al-Qur’an. Sehingga mereka tercegah dari perbuatan-perbuatan jahat, sehat dari berbagai penyakit ragu-ragu, serta was-was. Petunjuk kepada jalan yang lurus dan sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Spiritual berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas atau udara. Spiritual memberikan rasa “hidup”, dan memberikan semangat serta rasa bahagia bagi seseorang.
Kesehatan spiritual adalah kondisi terbebasnya jiwa dari berbagai penyakit ruhaniah, seperti syirik, kufur, nifaq atau munafik, dan fusuq (melanggar hukum). Kondisi spiritual yang sehat terlihat dari hadirnya ikhlas, tawakkal, dan tauhid.
Oleh karena itu, kesehatan spiritual yang baik tercermin dari sikap ridha terhadap pengaturan Ilahi serta sepenuhnya berserah diri dan senantiasa mengesakan Allah SWT.
Persiapan kesehatan mental dan spiritual ini penting supaya amal kita selama bulan puasa berjalan lancar dan berkah. Lancar karena kita secara mental sudah siap sedia, baik menunaikan segenap ibadah wajib dan sunnah maupun menghadang godaan-godaan yang bakal menghadang. Berkah sebab puasa kita mengandung manfaat kebaikan, baik pada diri kita sendiri maupun orang lain. Jangan sampai kita termasuk orang-orang tekun berpuasa tapi tidak mendapat balasan dari puasanya.
Rasulullah SAW bersabda:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
“Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad)
Upaya menjaga kesehatan mental dan spiritual merupakan bentuk kesyukuran. Oleh karenanya, Rasulullah pernah mengabarkan bahwa kesehatan merupakan nikmat yang seringkali dilupakan oleh manusia, yang pada akhirnya mereka merugi karena keduanya.
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Banyak manusia merugi karena dua nikmat, kesehatan dan waktu luang.” (HR Al-Bukhari)
Dalam kitab Riyadu as-Shalihin, Imam Nawawi menjelaskan mengenai makna hadis di atas, bahwa banyak manusia yang tertipu dengan dua jenis kenikmatan yang telah diberikan, yaitu kesehatan dan kesempatan. Sebab, banyak manusia walaupun dalam keadaan sehat, namun ia tidak mampu melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah, serta tidak mampu meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.
Jauhilah empat perkara agar sehat mental dan spiritual. Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nasha’ihul ‘Ibad menjelaskan bahwa terdapat empat penyebab gelapnya hati manusia. Abdullah bin Mas’ud RA pernah berkata:
أَرْبَعَةٌ مِنْ ظُلْمَةِ الْقَلْبِ بَطْنٌ شَبْعَانٌ مِنْ غَيْرِ مُبَالَاةٍ وَ صُحْبَةُ الظَّالِمِيْنَ وَ نِسْيَانُ الذُّنُوْبِ الْمَاضِيَةِ وَ طُوْلُ الْأَمَلِ
“Empat yang termasuk penyebab gelapnya hati, yaitu: perut yang terlalu kenyang, berteman dengan orang-orag zalim, melupakan dosa yang pernah dilakukan, dan panjang angan-angan.”
Cara Menguatkan Kesehatan Mental dan Spiritual Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Pertama, membersihkan penyakit hati. Penyakit-penyakit hati yang sering menghinggapi manusia merupakan sumber dari gangguan mental. Terdapat banyak penyakit hati yang dikenal dalam literatur Islam, antara lain dengki (al-Hasad), dendam (al-Hiqd), buruk sangka (Su’u Zhann), pamer (Riya’), sombong (Takabbur), tamak, dan lain-lain.
Salah satu firman Allah yang menyinggung tentang obat bagi penyakit mental yang ada dalam dada manusia terdapat dalam surah Yunus ayat 57:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. (QS Yunus: 57)
Kedua, senantiasa berdzikir mengingat Allah. Allah berfirman:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28)
Ketiga, senantiasa berdoa agar terus dalam keimanan, keselamatan, keislaman dan petunjuk amal yang diridhai Allah. Rasulullah Saw bersabda:
االلَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِاْليُمْنِ وَاْلإِيمَانِ، وَالسَّلَامِ وَالإِسْلامِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ وَ تَرْضَاهُ
“Ya Allah, jadikanlah ini bulan ‘membawa’ keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman, petunjuk bagi amal yang kau suka dan restui. (HR At-Tirmidzi: 3451)
Keempat, meluruskan niat untuk senantiasa beriman dan mengharapkan ridha Allah. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari No. 38 dan Muslim No. 760)
Kelima, senantiasa menimba ilmu. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR Muslim No. 1718)
Setiap Muslim diwajibkan membekali diri dengan ilmu ketika hendak beribadah kepada Allah. Harapannya agar amal ibadah yang dilakukannya sesuai dengan tuntunan Islam. Karena ilmu merupakan pengarah bagi manusia. Dengan ilmu, orang memiliki panduan untuk bisa beramal dengan benar. Karena itulah Ali bin Abi Thalib RA memuji ilmu, di antaranya, ilmu akan menjaga kita. Ali RA berpesan kepada muridnya, Kumail bin Ziyad:
الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ .الْعِلْمُ يَحْرُسُك ، وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ
“Ilmu lebih baik dari pada harta, ilmu yang menjagamu dan harta kamu yang jaga.” (Hilyah Auliya Juz 1 No. 79)
Rasulullah SAW bersabda:
اَلْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ
“Bahwa ilmu harus didahulukan sebelum berbicara dan beramal.” (Shahih Bukhari Juz 1 No. 130)
Keenam, latihan untuk mengontrol hawa nafsu.
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi’.” (HR imam Bukhari dan Imam Muslim)
Ketujuh, melatih mental dan spiritual. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفُّهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ
“Siapa yang melatih diri menjaga kehormatan maka Allah akan jaga kehormatannya, siapa yang melatih diri untuk bersabar, Allah jadikan dia penyabar. Dan siapa yang merasa cukup, Allah akan memberikan kecukupan.” (HR Bukhari, Abu Daud, dan yang lainnya)
Delapan, senantiasa beristigfar serta bertobat dan kembali pada Al-Qur’an. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئةً، نُكِتَتْ فِيْ قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَه، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَر الله:{كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}
“Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan satu dosa maka akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam, jika dia berhenti dari dosa itu dan beristigfar serta bertobat maka hatinya kembali bening. Dan jika mengulanginya lagi maka akan ditambahkan noda hitam hingga menutupi hatinya. Inilah maksud penutup ar-raan dalam firman Allah: ‘sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (QS Al-Muthafifîn: 4). (HR At-Tirmidzi)
Kisah Teladan
Kisah ini dinukil dari Al Hafiz Al Munziri dalam Kitab At Targhib wa At Tarhib yang mengutip salah satu hadis dari perawi Imam Al Hakim. Berdasarkan keterangan hadis tersebut, Rasulullah SAW mendengar kisah tentang seorang ‘abid ini dari Malaikat Jibril. Rasulullah SAW bersabda:
“Baru saja Jibril meninggalkanku. Dia berkata, ‘Muhammad, demi zat yang mengutusmu dengan kebenaran, sesungguhnya Allah memiliki seorang hamba. Dia telah menyembah Allah selama 500 tahun di puncak gunung tengah lautan’.” Demikian bunyi hadis yang diterjemahkan Syaikh Sayyid Muhammad Nuh dalam buku Berguru dengan Sahabat Nabi.
Dijelaskan dalam hadis tersebut tempat tinggal dari seorang ‘abid usia 500 tahun itu. Ia tinggal di sebuah puncak gunung dengan luas 50 hasta (1 hasta sama dengan 0,45 m), sementara jarak lautan ke pantai dari tiap penjuru 4 ribu farsakh (1 farsakh setara dengan 41.500 km).
Gunung tersebut memiliki mata air sebesar ibu jari yang memancarkan air bening untuknya. Adapun untuk keperluan makan, sang ‘abid mengandalkan pohon delima yang setiap malam memberinya satu buah matang.
Kesehariannya hanya diisi dengan beribadah. Kala sore menjelang malam, ‘abid tersebut turun dari gunung dan mengambil air wudhu. Setelahnya, ia mengambil buah delima untuk dimakan dan melaksanakan shalat.
Dalam shalatnya yang mendekati waktu ajalnya, ‘abid tersebut berdoa kepada Allah SWT. Isi permohonannya agar ajal menjemput saat dirinya tengah bersujud kepada Allah SWT.
Ia juga memohon kepada Allah SWT agar jasadnya kelak dapat terlindungi dari kerusakan yang ada di bumi maupun benda-benda lain. Terutama, ia memohon agar jasadnya utuh tetap dalam keadaan sujud hingga ia dibangkitkan kembali pada hari kiamat nanti.
Jibril yang menceritakan kisah tersebut pada Rasulullah SAW berkata, “Maka Allah SWT mengabulkan permintaannya.”
“Kami selalu melewatinya bila turun ke bumi dan bila kami naik kembali ke langit. Kami mendapatkan kabar dalam ilmu (Tuhan) bahwa ia akan dibangkitkan pada hari kiamat, kemudian didudukkan di hadapan Allah SWT,” lanjut penjelasan dari Malaikat Jibril.
Berdasarkan kisah Malaikat Jibril pada Rasulullah SAW, Allah SWT berfirman kepada sang ‘abid tersebut, “Masukkanlah hamba-Ku ini ke surga atas berkat Rahmat-Ku.”
Kemudian, ‘abid itu menjawab, “Tapi Ya Rabbi, masukkanlah hamba ke surga atas berkat amal perbuatanku.”
Allah kembali berfirman, “Masukkanlah hamba-Ku ke surga atas berkat Rahmat-Ku.”
‘Abid tersebut berkata lagi, “Ya Rabbi, masukkanlah hamba ke surga atas berkat amal perbuatanku.”
Allah berfirman, “Masukkanlah hamba-Ku ke surga atas berkat Rahmat-Ku.” dan kembali dijawab, “Ya Rabbi, masukkanlah hamba ke surga atas berkat amal perbuatanku.”
Hingga Allah SWT lalu menjelaskan, “Timbanglah pada hamba-Ku ini antara nikmat yang telah Kuberikan dengan amal perbuatannya.”
Maka didapati bahwa nikmat penglihatan dari si ‘abid telah menyamai nilai ibadah yang dilakukan oleh sang ‘abid selama 500 tahun. Belum lagi nikmat-nikmat dari anggota tubuh lainnya.
Setelahnya, Allah SWT pun berfirman kembali dan hendak menyeret sang ‘abid ke dalam neraka. Hingga ‘abid tersebut berkata, “Dengan Rahmat-Mu, masukkan aku ke dalam surga.”
Allah SWT pun mengabulkannya dan kemudian ‘abid tersebut kembali dihadapkan kepada-Nya. Lalu, Allah menanyainya, “Wahai hamba-Ku, siapakah yang telah menciptakan kamu dari tidak ada?”
Si ‘abid menjawab, “Engkau, Ya Rabb.”
“Siapa yang telah memberikan kekuatan untuk melaksanakan ibadah selama 500 tahun?”
“Engkau, Ya Rabb.”
“Siapa Zat yang telah menempatkanmu di sebuah bukit yang terletak di tengah-tengah deburan ombak samudera, mengeluarkan mata air tawar dari air yang asin, mengeluarkan buah delima setiap malamnya padahal delima hanya berbuah sekali dalam setahun dan engkau telah meminta agar Kami mencabut nyawamu saat engkau sedang bersujud dan Dia mengabulkan permintaanmu?”
“Engkau wahai Rabbi.”
Allah ta’ala berfirman, “Semua itu atas berkat Rahmat-Ku dan dengan Rahmat-Ku pula engkau masuk surga. Masukkanlah hamba-Ku ini ke surga! Sebaik-baik hamba engkau wahai hambaKu.”
Berdasarkan cerita Rasulullah SAW yang didengar dari Malaikat Jibril, sang ‘abid pun dimasukkan ke dalam surga-Nya. Kemudian Malaikat Jibril menutup kisahnya dengan berkata pada Rasulullah SAW, “Segala sesuatu itu terjadi hanya dengan rahmat Allah, wahai Muhammad.” (HR Al Hakim)
اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِيْ إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـيْ رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِيْ مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264) []




















