Kedudukan orang dalam pondok pesantren yang mengajarkan agama (tafaqquh fid-din) itu tidak rendah. Saya perlu menegaskan kata-kata tidak rendah ini. Karena saya khawatir kalau ada sekolah yang hanya berjenjang ibtidaiyah atau tsanawiyah dianggap kurang gaya, kurang dihargai orang. Tapi kalau sekolahnya sudah bernama SMA atau SMP, lantas ujian negerinya lulus, baru dihargai. Itu ukuran yang tidak benar.
Kita semua sudah tahu sejarah KMI. Tahun 1926, Pak Sahal betul-betul merintis. Babat. Mengislamkan anak-anak kampung dengan modernisasi dalam segi metode. Ya metode pendidikan maupun pelajaran. Hasilnya bagaimana? KMI yang dulu lima tahun, alumninya yang pulang ke masyarakat tidak mengecewakan. Lebihlebih sesudah disamakan enam tahun langsung pulang ke masyarakat. Itu yang dinamakan orang siap pakai.
Saya pernah ditegur seseorang, “Bagaimana Gontor, sih. Dulu lima enam tahun siap pakai, kok sekarang tidak begitu? Anak-anak alumninya juga banyak yang meneruskan ke sekolah lain, ke IAIN dan sebagainya.” Apa yang saya jawab? “Itu (tergantung) orangnya.” Tapi alhamdulillah alumni yang meneruskan pendidikan tidak mengecewakan. Yang dari KMI saja bisa meneruskan sampai ke mana-mana tanpa harus melalui urusan rumit. Ada yang bisa ke luar negeri, seperti Mesir. Itu semua saya anggap alhamdulillah, dengan modal KMI mereka tidak mengecewakan.
Pun dalam segi mental. Sampai orang-orang Indonesia yang di Mesir pernah berkirim surat kepada saya dan mengatakan agar adik-adiknya turut disekolahkan di Gontor. Jadi, orang lain melihat Gontor dari anak-anak Gontor (alumni). Ini sesuatu yang saya anggap sebagai salah satu faktor kemajuan KMI.
Kemudian yang melalui sekolah lain ya banyak lagi. Katakan ada yang sampai ke Kanada, ini juga dari KMI. Banyak pula yang masuk ke UII atau Gajah Mada. Semua itu memang harus ada “adaptor-adaptor” untuk menyambungnya. Harus ada sambungan langsung dari KMI. Biasanya belajar dulu enam bulan atau setahun, baru kemudian mengikuti ujian, lulus, dan maju.
Ada alumni menjadi mahasiswa teladan di Yogyakarta dan mendapat hadiah naik haji gratis. Mereka itu tahu cara belajar dan mempunyai mental karena mereka belajar di Gontor. Bagi kami ini sungguh membahagiakan. Bagi saya, mendengarnya saja (keberhasilan mereka) sudah merupakan upah untuk diri saya di dunia. Maka dalam liburan kami mencoba berkirim surat ke pada orangtua santri dan minta laporan, anak Bapak selama di rumah bagaimana? Itu agar pendidikan yang didapat mereka di pondok dapat dilanjutkan di rumah. Tanggapan orang bermacam-macam. Di antaranya menggembirakan, di antaranya menganggap kami sudah sukses. Tapi sebenarnya kami belum sukses. Tapi cukuplah, katakan seperti permulaan sukses.
Orangtua tahu beda anak yang pernah belajar di sini dan tidak belajar di sini. Beberapa waktu terakhir saya menerima surat dari salah seorang wali santri. Orangtua itu sangat berterima kasih karena anaknya menunjukkan perubahan. Anaknya selama liburan tidak berhenti berdakwah, mengajar, dan lain sebagainya. Itulah santri siap pakai. []





















