Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah 3 Serang, Banten, Nur Ali Saputra SThI MPd, menjelaskan sejarah panjang kepramukaan di Indonesia. Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, gerakan kepanduan atau kepramukaan sudah ada, walaupun dengan nama yang berbeda-beda.
Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno, pada tahun 1961 meleburkan organisasi-organisasi kepanduan yang berjumlah ratusan itu menjadi satu organisasi resmi kepanduan nasional bernama Pramuka.
Alumni Gontor Putra 2007 itu menyebutkan, dalam kepramukaan terdapat Dasa Dharma Pramuka yaitu sepuluh poin penting yang menjadi dasar anggota Pramuka dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari.
Nilai-nilai dalam Dasa Dharma apabila diaplikasikan atau dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, menurut Nur Ali, akan memberikan dampak besar, baik untuk diri sendiri, orang lain, lingkungan sekitar, maupun bangsa dan negara.
“Kalau sebagian dari sepuluh poin itu bisa diamalkan sudah bagus, setengah diamalkan sudah sangat baik. Lebih dari setengah luar biasa, apalagi kalau seluruhnya diamalkan, saya kira akan menjadi manusia unggul,” ungkapnya.
Selain itu, nilai-nilai yang terkandung dalam kepramukaan juga dapat membentuk kebiasaan yang baik, kepemimpinan yang ideal, pola hidup yang sederhana, ketangkasan, kedisiplinan, kemandirian, bertanggung jawab dan ukhuwah islamiyah. Misalnya saja, berkemah yang merupakan salah satu kegiatan dalam kepramukaan, memiliki nilai-nilai yang sangat positif, di antaranya kebersamaan atau ukhuwah islamiyah.
“Berkemah merupakan kegiatan berkelompok, di sanalah anggota Pramuka akan saling mengenal,” jelas Nur Ali.
Nilai lainnya kesederhanaan. Anggota pramuka itu menjalankan kehidupan yang sederhana, bahkan untuk beristirahat mereka hanya akan melakukannya di dalam tenda saja, demikian dengan makanan-makanan yang dikonsumsi, makanan yang sederhana.
Kegiatan berkemah juga mengajarkan anggota pramuka untuk bisa bekerjasama sehingga ketika dihadapkan pada sebuah persoalan, mereka akan berdiskusi dan tidak mengambil keputusan sendiri. Hal ini dapat menurunkan ego masing-masing.
“Waktu saya masih di Gontor, kebetulan saya musyrif (pengurus) Konsulat Luar Negeri, mereka ini tidak pernah ikut kegiatan kepramukaan, dan itu membuat almarhum Pak Syukri marah,” katanya
Kemarahan mendiang salah satu Pimpinan Pondok Modern Gontor, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, itu bukan tanpa alasan. Menurut Kiai Syukri kepramukaan dapat menjauhkan seseorang dari sikap feodalisme. “Beliau berkata, ‘Kalian (Konsulat Luar Negeri) harus ikut pramuka dan semua kegiatan kepramukaan supaya tidak menjadi feodal’,” cerita Nur Ali menirukan ucapan sang kiai.
Setelah itu, lanjutnya, semua Konsulat Luar Negeri diwajibkan untuk mengikuti kegiatan kepramukaan di Pondok Gontor, termasuk Perkajum (Perkemahan Kamis Jumat). Maka digelarlah Perkajum khusus Konsulat Luar Negeri. “Dan maa syaa Allah respons mereka sangat baik. Mereka belajar untuk bekerjasama, disiplin, hidup sederhana dan kepemimpinan,” ungkapnya.
Demikian juga dengan kegiatan Peraturan Baris Berbaris (PBB) atau Lomba Ketangkasan Baris Berbaris (LKBB) memiliki nilai-nilai yang luar biasa. Di antaranya: disiplin, tanggung jawab, kerjasama, kekompakan, percaya diri, fokus, loyalitas tinggi, baik untuk kesehatan jasmani dan ruhani, serta membentuk pribadi yang tegas, patuh dan taat perintah.
Kepemimpinan yang diajarkan dalam kepramukaan, ujar Nur Ali, merupakan kepemimpinan yang ideal. Seorang pemimpin diharuskan untuk bisa mengenal anggotanya, persoalan dalam kelompoknya, dan segala seluk beluk kelompoknya tersebut.
Kegiatan kepramukaan tidak memiliki batas usia untuk menjalankannya. Mulai dari usia dini hingga usia senja. Bagi anak-anak usia dini atau anak-anak sekolah dasar, kegiatan kepramukaan sangat memberikan dampak positif, termasuk dalam hal spiritualitas. “Mereka akan terbiasa disiplin, khususnya dalam menjalankan ibadah shalat lima waktu, membaca Al-Qur’an, dan taat kepada kedua orangtua,” jelasnya.
Selain itu, mereka juga diajarkan untuk menjalankan kewajibannya sebagai insan yang baik terhadap diri sendiri. Sanggup mengatur kebutuhan diri sendiri, mulai dari bangun pagi, shalat Shubuh atau mempersiapkan buku dan kebutuhan sekolah lainnya. “Bahkan mereka juga belajar untuk bisa mengatur uang jajannya sendiri sampai dia bisa termotivasi untuk belajar mandiri, memperdalam pelajaran yang mereka sukai atau mungkin nanti mereka minat untuk ikut les,” katanya.
Ukhuwah Islamiyah
Senada dengan itu, Pimpinan Pondok Modern Tazakka Batang, Jawa Tengah, KH Anang Rikza Masyhadi MA PhD, menjelaskan bahwa nilai-nilai kepramukaan sangat banyak dan memiliki manfaat yang luar biasa. Hal yang menonjol dari nilai tersebut yaitu ukhuwah islamiyah.
Dalam kegiatan Jambore Dunia (Jamdun) Muslim yang akan digelar Pondok Modern Gontor, menurutnya, akan dihadiri sekitar 14 ribu peserta dari berbagai wilayah dan bahkan negara. Mereka akan bertemu dan saling mengenal, maka terjalinkan ukhuwah islamiyah. “Yang pasti nilai kepramukaan yang utama itu yaitu ukhuwah Islamiyah. Mereka akan saling mengenal dan saling bekerjasama,” jelasnya.
Seperti yang disampaikan Nur Ali, Kiai Anang Rikza juga menyebutkan, nilai-nilai positif dalam kepramukaan tidak hanya terdapat dalam Dasa Dharma saja, melainkan juga dari kegiatan-kegiatan yang menyertainya.
Karena itulah ia menyampaikan apresiasi yang tinggi atas rencana perhelatan Jamdun Muslim yang diadakan Gontor. Ia berharap kegiatan tersebut bisa menjadi ajang bagi para pemuda untuk meningkatkan potensi diri, mengembangkan kreativitas, sehingga menjadi manusia yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. “Jamdun Muslim ini bisa menjadi ajang silaturahmi, bukan saja sesama anak bangsa namun juga dari luar negeri,” katanya.
Ia juga menjelaskan, kegiatan Jamdun Muslim yang digelar Gontor berbeda dengan Jamdun pada umumnya. Hal itu lantaran Jamdun Muslim terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang tidak ada pada Jamdun umumnya.
Kiai Anang berharap Jamdun Muslim ini dapat membawa manfaat bagi kepramukaan di Indonesia dan juga di dunia. “Semoga anak-anak peserta Jamdun Muslim ini terinspirasi dan mudah-mudahan Gontor bisa menjadi inspirasi bagi negeri ini dalam hal penerapan karakter bangsa yang ideal melalui nilai-nilai yang disampaikan dalam kepramukaan,” harapnya.
Ia juga berharap para peserta Jamdun Muslim dapat menyerap ajaran dari para pendiri (Trimurti) Pondok Modern Darussalam Gontor. “Mudah-mudahan ajaran dari para pendiri dan pimpinan Gontor bisa diserap oleh para peserta, dimuat jadi berita yang baik dan menginspirasi bangsa, menjadi syiar di Jakarta bahkan di Indonesia, sehingga nama harum Gontor dan ajaran-ajaran pendiri Gontor yang selalu dirindukan oleh para alumninya dapat ditularkan dan disebarkan ke seluruh pelosok negeri,” ujar Kiai Anang. [] Devi Lusianawati





















