Jakarta, Gontornews — Wakil Ketua MPR-RI, Dr Hidayat Nur Wahid, meminta Pemerintah, tokoh politik dan tokoh bangsa menjadikan kepulangan Habib Rizieq Syihab (HRS) dengan aman dan selamat ke Indonesia sebagai momentum menguatkan komitmen menegakkan etika/moral/akhlak berkeumatan, berbangsa dan bernegara.
Apalagi HRS sudah menegaskan secara terbuka bahwa kepulangannya dalam rangka Revolusi Akhlak. Pemerintahpun juga mempunyai program Revolusi Mental, dan Rabu (11/11) MPR juga menggelar Konferensi Nasional Etika Kehidupan Berbangsa dalam rangka pembentukan Mahkamah Etik.
Salah satu bentuk etika/moral/akhlak adalah mengokohkan prinsip dan praktik bersilaturahim. Saling berkunjung dan menyapa dengan spirit dan semangat persahabatan dan persaudaraan. Tradisi ketimuran yang juga ajaran agama. Apalagi sinyal-sinyal itu sudah disampaikan dan ternyata berdampak sangat positif dengan terselenggaranya kepulangan HRS secara aman, lancar dan damai. Tidak sebagaimana dibayangkan semula yang dipenuhi ancaman dan disinformasi. HRS sudah menyampaikan sinyal yang sangat jelas, saat-saat terakhir di Mekkah, HRS menegaskan bahwa kepulangannya ke Indonesia karena ia tidak memusuhi negara Indonesia juga tidak memusuhi TNI. Melainkan kepulangan HRS untuk melakukan Reformasi Akhlak.
Pemerintah, melalui Menko Polhukam, akhirnya juga menyambut dengan penegasan yang menenteramkan yaitu: untuk melindungi hak HRS sebagai WNI, mengizinkan pendukung HRS untuk menjemput asal tertib, dan agar aparat mengawal tidak dengan berlebih-lebihan, tidak boleh berlaku represif, dan agar mengawal HRS hingga tiba di kediaman dengan aman dan selamat. Dan alhamdulillah itulah yang terjadi. Hal itu sangaf dipuji oleh FPI dan publik. Karena mendinginkan suasana dan menghindarkan terjadinya konflik, yang bisa jadi itulah yang diinginkan provokator, untuk melanggengkan konflik antara umat Islam dengan aparat/Pemerintah.
HRS pun dalam orasi di depan jamaah di kediamannya, di Petamburan, juga mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih kepada Menko Polhukan Mahfud MD karena sikap akhirnya yang bijaksana itu.
Menurut HNW, kondisi kondusif dan konstruktif untuk umat, bangsa dan negara seperti ini, penting dijaga dan ditindaklanjuti, misalnya dengan Prof Mahfud MD sebagai Menko Polhukam mengunjungi HRS di kediamannya, sebagaimana sebelumnya Menko Polhukam juga mengunjungi Syekh Ali Jaber, dai dan ulama hafidz Qur’an nan good looking, yang menjadi korban penusukan saat melaksanakan kegiatan dakwah di Lampung. Dan publik serta umat menyambut baik kegiatan silaturahim yang sangat menyejukkan itu, yang bisa membuka pintu-pintu kebaikan yang bermanfaat bagi harmoni kehidupan keumatan, berbangsa dan bernegara. Kondisi yang sangat diperlukan di tengah pandemi Covid-19, resesi ekonomi, dan merebaknya dekadensi moral.
“Kebijakan Menko Polhukam yang mempersilakan kepulangan HRS dan melakukan penjagaan sewajarnya merupakan langkah yang bijak dan tepat. Karenanya akan lebih baik jika beliau melanjutkan dengan berkunjung ke kediaman HRS untuk bersilaturahim, merealisasikan prinsip revolusi mental yang bisa bersesuaian dengan prinsip revolusi akhlak, menghadirkan momentum harmoni dengan sesama tokoh umat Islam, untuk kemaslahatan berbangsa dan bernegara,” ujar HNW dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (10/11).
HNW yang merupakan politisi PKS ini berpendapat, revolusi akhlak yang dicanangkan HRS sehingga pulang ke Indonesia patut untuk didukung, karena bisa disinergikan dengan revolusi mental yang bertujuan memperbaiki etika dan karakter bangsa. Karena itu juga sesuai dengan TAP MPR No VI/2001 soal Etika Kehidupan Berbangsa.
Apalagi, menurutnya, kepulangan HRS bertepatan dengan Hari Pahlawan sehingga sudah seharusnya kita memaksimalkan symbol-simbol ini untuk menghadirkan akhlak/etika/moral yang diteladankan dan diwariskan para pahlawan, dengan menyegarkan ingatan kolektif akan jasa-jasa dan warisan para pahlawan yang ternyata banyak dari kalangan umat Islam, ulma dan habaib, serta bersama para pahlawan dari kalangan pejuang-pejuang lainnya.
HNW menjelaskan bahwa peristiwa 10 November yang kemudian dinyatakan sebagai Hari Pahlawan sangat terkait dan merupakan resonansi langsung dari Fatwa/Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asyari. Saat itu para kiai, habaib, santri menyuarakan semangat jihad cinta Tanah Air dan agama melawan penjajah Belanda yang akan balik lagi menjajah Republik Indonesia. Mereka berjuang untuk memastikan kemerdekaan Republik Indonesia tetap terjaga, sekalipun Sila I Pancasila sudah mengalami perubahan.
Pada kesempatan itu HNW juga mengapresiasi umat pengikut HRS yang menjemputnya secara tertib, aman dan damai, tanpa anarki, sekalipun massa yang hadir sebagaimana biasa jumlahnya sangat besar, baik di bandara maupun kediaman HRS.
HNW juga mengapresiasi aparat TNI-Polri dan keamanan bandara yang melaksanakan instruksi Menko Polhukam untuk mengawal tanpa berlebihan, bertindak bijak tanpa represi, sehingga suasana kepulangan HRS menjadi kondusif. “Ini modal sosial yang sangat penting, yang seharusnya tidak dimubadzirkan, apalagi dimentahkan dengan menghadirkan kembali suasana saling mencurigai dan saling memusuhi. Mestinya hal ini dijadikan momentum perwujudan dari revolusi akhlak dan revolusi mental. Dan kunjungan langsung Prof Mahfud MD, sebagaimana sebelumnya sudah beliau lakukan terhadap Syekh Ali Jaber, akan menjadi tonggak yang dipentingkan. Semoga menjadi berkah untuk relasi positif antara umat, bangsa, dan negara,” pungkasnya. []


















