Wellington, Gontornews — Dewan pemantau independen vaksin Covid-19 Selandia Baru, Senin (20/12/2021), menduga sebuah kasus kematian akibat vaksin. Kasus ini melibatkan seorang remaja berusia 26 tahun yang meninggal dunia hanya dua pekan setelah menerima vaksin dosis pertama.
Pria bernama Rory James Nairn tersebut meninggal dunia pada 17 November 2021 setelah menerima vaksin Pfizer dosis pertama pada 5 November lalu. Kasus kematian ini telah masuk ke meja koroner yang lantas melakukan penyelidikan lanjutan.
Informasi awal dari pemeriksaan post mortem mengidentifikasi bahwa pasien terdiagnosis miokarditis sebagai penyebab kematian. Miokarditis merupakan peradangan pada dinding otot jantung yang disebabkan oleh infeksi virus. Ini adalah efek samping vaksin Pfizer yang sangat jarang terjadi.
“Dengan informasi yang tersedia saat ini, Dewan telah mempertimbangkan bahwa miokarditis mungkin (terjadi) karena vaksinasi pada individu,” ungkap pernyataan Kementerian Kesehatan Selandia Baru yang dilansir NZ Herald.
Tunangan Nairn, Ashleigh Wilson, mengatakan bahwa pasangannya mulai merasakan jantung berdebar beberapa jam setelah mendapatkan suntikan vaksin. “Kami menekankan ini karena kami sedang dalam proses jual-beli rumah dan sedang merencanakan pernikahan,” kata Wilson.
Pada pukul 3 pagi tanggal 17 November, Wilson membawa pasangannya ke rumah sakit untuk memastikan kondisinya. “Saya melihat ia meninggal dan saya tidak bisa mendekatinya. Kami akan pergi ke rumah sakit dan dia berad di toilet dan saya mendengar bunyi (jatuh),”
“Dia jatuh. Tubuhnya menghalangi pintu. Seluruh bebanya melawan dan saya tidak bisa membukanya,” kisah Wilson.
Wilson lantas memposting laporan otopsi ahli patologi yang mengatakan: “Menurut saya, penyebab kematian adalah miokarditis akut dan mengingat gejala terjadi sejak vaksinasi Covid-19 dan tidak ada penyebab lain miokarditis, maka miokarditis yang terjadi terkait dengan vaksin,”
“Vaksinasi dengan dosis Pfizer pertama telah terjadi 12 hari sebelumnya dan gejala terkait miokarditis dilaporkan setelahnya,” sambung keterangan ahli patologi yang dikutip Wilson.
Meskipun mengakui kematian Nairn, Dewan tetap mengatakan vaksinasi tetap memberikan lebih banyak manfaat ketimbang risiko efek samping yang jarang terjadi. Namun, Dewan tetap merekomendasikan kepada Pfizer untuk terus mengamati miokarditis sebagai efek samping yang sangat jarang terjadi.
“Dewan mencatat bahwa infeksi Covid-19 sendiri dapat menjadi penyebab miokarditis serta penyakit serius lainnya. Vaksinasi tetap lebih aman ketimbang terinfeksi virus,” ucap Kementerian Kesehatan. [Mohamad Deny Irawan]




















