Bangkok, Gontornews — Pemerintah Thailand, Ahad (19/12/2021), mengonfirmasi temuan pertama infeksi Covid-19 varian Omicron di wilayahnya. Direktur Jenderal Departemen Ilmu Kedokteran Kementerian, Dr Supakit Sirilak, mengatakan pasien telah melalui tahapan Test and Go dan negatif Covid-19 baik sebelum maupun saat kedatangan. Namun, beberapa waktu kemudian, pasien jatuh sakit dan dinyatakan positif varian baru tersebut.
Akibat temuan tersebut, pemerintah mulai mempertimbangkan kembali kebijakan Test and Go seiring penyebaran Omicron yang sudah masuk 6-7 hari.
“Jika Test and Go tidak ditinjau, maka pendatang yang terinfeksi dan tidak terdeteksi dapat melakukan perjalanan lebih jauh di dalam negeri dan menyebabkan klaster infeksi,” kata Supakit sebagaimana dilansir Bangkok Post.
Dr Supakit menambahkn, hingga Ahad, kasus Omicron telah menyebar di 89 negara dan 39 negara bagian Amerika Serikat. Sebenarnya, bisa saja lebih banyak negara yang belum bisa memastikan kehadiran varian tersebut.
“Angka infeksi akan meningkat,” sambung Supakit.
Ia menambahkan bahwa sejauh ini, Thailand telah mendeteksi lebih dari 80 kasus Omicron. Ada 11 kasus yang terjadi dari April hingga 10 Desember, 52 kasus dari 11 hingga 19 Desember dan lebih banyak kasus yang dilaporkan pada Senin pagi.
“Sebagian besar kasus Omicron yang terdeteksi berasal dari terminal kedatangan bandara Suvarnabhumi yang sejauh ini menyumbang seperempat kasus Covid-19. Jumlah kasus meningkat cukup cepat selama sepekan terakhir yang sesuai dengan situasi global,” jelas Subakit.
Meski demikian, Supakit menyatakan belum ada infeksi lokal varian Omicron di Thailand. Supakit menjelaskan bahwa Thailand mengonfirmasi tiga sub-varian Omicron meski infeksinya tetap terbatas.
Dalam 24 jam terakhir, pemerintah, Senin (20/12/2021), mengonfirmasi penambahan 2.525 kasus baru Covid-19 dan 31 kematian. Laporan kasus ini lebih rendah ketimbang laporan serupa pada Ahad (19/12/2021) yang melaporkan 2.899 kasus dan 22 kematian. [Mohamad Deny Irawan]





















