Dakar, Gontornews — Di saat kasus penularan COVID-19 di dunia melambat, Senegal justru tengah menghadapi gelombang kedua penularan COVID-19. Secara total, Senegal mengonfirmasi 190 kasus baru, Senin (11/5).
Catatan ini sekaligus merupakan yang pertama terjadi sejak seorang pedagang ditemukan jatuh di sebuah pasar di Touba pada bulan April lalu.
Sejak kasus di Touba terkonfirmasi, Presiden Senegal, Macky Sall, menginstruksikan penutupan sekolah dan melarang pertemuan keagamaan berskala besar di Touba. Sebagai informasi, Touba merupakan pusat komunitas Muslim Sufi terbesar di dunia. masyarakat dunia menjuluki Touba sebagai βMekkah Kecil.β
Tidak hanya itu, Pemerintah juga memerintahkan penutupan masjid agung Touba, jam malam diberlakukan dan kampanye publik pun diluncurkan.
Kasus pertama di Touba terjadi menyusul kembalinya seorang warga Senegal dari Italia. Pasien terkonfirmasi menularkan virus korona tersebut kepada 17 orang lain, termasuk seorang anak berusia 2 tahun. Temuan ini terkonfirmasi tidak lama setelah Touba mengonfirmasi pertemuan ribuan peziarah dalam sebuah festival keagamaan.
Sejak saat itu, kasus di Touba meningkat terus dari hari ke hari. Perkembangan ini menunjukkan bahwa penyakit tersebut telah berakar di masyarakat setempat.
βMungkin karena tidak ketahuan atau bahkan penolakan terhadap penyakit ini,β ungkap dokter di pusat kesehatan Touba, Sylla Mbacke, kepada Reuters.
βBeberapa orang bahkan tidak percaya sama sekali,β imbuh Mbacke.
Sejauh ini, Senegal mengonfirmasi lebih dari 1.700 kasus COVID-19 dengan 19 kematian. [Mohamad Deny Irawan]





















