Kota Gaza, Gontornews — Sebuah keluarga yang terdiri dari 10 orang tewas pada awal 15 Mei dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza barat, kata petugas medis di daerah kantong Palestina itu.
Delapan anak dan dua wanita, semuanya keluarga Abu Hatab, tewas di gedung tiga lantai di kamp pengungsi Shati yang runtuh setelah serangan Israel, kata sumber medis dirilis Hurriyetdailynews.com.
Serangan Israel di Jalur Gaza yang diblokade telah menyebabkan 144 jiwa tewas, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Sementara itu, sayap militer Hamas, Brigade Izzeddin al-Qassam, mengumumkan bahwa roket mereka menerjang Ashdod dan Bersyeba sebagai balasan atas serangan terhadap sebuah rumah di kamp pengungsi Al-Shati dan untuk membalas dendam warga Palestina yang tewas di Tepi Barat yang diduduki.
Tiga warga Palestina, termasuk dua saudara kandung, tewas dalam serangan larut malam oleh jet perang Israel di daerah Tel Kuleybu di Gaza utara.
Total korban jiwa di Gaza termasuk 37 anak dan 22 wanita, sementara jumlah yang terluka melebihi 950, menurut sebuah pernyataan dari kementerian.
Pasukan Israel melakukan hampir 30 serangan udara antara Jumat malam dan Sabtu pagi yang menargetkan Gaza utara.
Masjid Kuleybu hancur total dalam serangan itu, kata Kementerian Yayasan dan Urusan Agama Gaza dalam sebuah pernyataan.
Sebelum serangan itu, Israel membunuh tujuh warga sipil, lima anak dan dua wanita.
Para saksi mata mengatakan jenazah dibawa ke rumah sakit Shifa setelah pemboman sebuah rumah milik keluarga Abu Hatab di kamp pengungsi Al-Shati.
Pesawat-pesawat tempur Israel melanjutkan serangan udara di hari Jumat, menyebabkan bangunan tempat tinggal di daerah itu rusak parah.
Sementara itu, 11 warga Palestina tewas di hari yang sama ketika pasukan Israel bentrok dengan demonstran untuk membubarkan aksi unjuk rasa di beberapa bagian Tepi Barat.
Selain itu, pihak berwenang Lebanon mengumumkan bahwa seorang pemuda Lebanon terbunuh ketika tembakan artileri Israel menargetkan pengunjuk rasa di sepanjang pagar keamanan Israel di selatan negara itu.
Ketegangan meningkat di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur serta di Masjid Al-Aqsha dan Gerbang Damaskus sejak awal bulan puasa Ramadhan ketika pasukan dan pemukim Israel menyerang warga Palestina.
Ketegangan berpindah dari Yerusalem Timur ke Gaza setelah kelompok perlawanan Palestina di sana membalas serangan Israel di Masjid Al-Aqsha dan Sheikh Jarrah.
Israel menduduki Yerusalem Timur, tempat Al-Aqsha berada, dalam perang Arab-Israel 1967. Israel mencaplok seluruh kota pada tahun 1980 hingga sekarang, meskipun tidak pernah diakui oleh komunitas internasional.[]



















