Ehsim, Gontornews — Tembakan artileri rezim Suriah menewaskan sedikitnya lima warga sipil termasuk dua anak-anak di benteng pemberontak terakhir negara itu di Idlib, kata pemantau perang yang berbasis di Inggris, Ahad (18/7).
Serangan itu terjadi di Desa Ehsim, Sabtu malam, di selatan wilayah Idlib, kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.
Seorang anggota keluarga mengatakan kepada AFP dan dirilis Arabnews.com, serangan itu menghantam sebuah rumah ketika berlangsung pesta pernikahan seorang kerabat laki-lakinya.
Sebelumnya pada hari itu, roket yang ditembakkan oleh pasukan pro-pemerintah menewaskan enam orang di Desa Sarja, termasuk tiga anak-anak dan seorang pekerja penyelamat, yang berarti setidaknya 11 orang tewas di Idlib pada hari Sabtu.
Penembakan di Ehsim terjadi beberapa jam setelah Presiden Bashar al-Assad mengambil sumpah jabatan untuk masa jabatan keempat, dan berjanji untuk “membebaskan” daerah-daerah yang masih di luar kendali pemerintah.
Serangan itu merupakan pelanggaran terbaru dari kesepakatan gencatan senjata yang disepakati oleh Turki dan Rusia pada Maret 2020 untuk membendung serangan rezim di kubu yang didominasi pejuang.
Seorang fotografer AFP di Ehsim melihat petugas penyelamat dengan lampu sorot memotong langit-langit yang runtuh untuk mengevakuasi tubuh seorang wanita. Kemudian membungkusnya dalam selimut dan membawanya ke ambulans.
Berbatasan dengan Turki, wilayah barat laut Idlib merupakan rumah bagi sekitar tiga juta orang. Lebih dari setengahnya mengungsi akibat pertempuran di bagian lain Suriah yang dilanda perang. Mereka banyak yang bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.
Wilayah ini didominasi oleh mantan afiliasi Al-Qaeda Suriah Hayat Tahrir al-Sham, tetapi juga ada kelompok pemberontak lainnya.
Perang Suriah telah menewaskan sekitar setengah juta orang dan memaksa jutaan lainnya meninggalkan rumah mereka sejak dimulai pada 2011. Pemerintahan Assad bertindak brutal terhadap protes anti-pemerintah. []






















