Riyadh, Gontornews — Perjalanan Saad Hariri menjadi Perdana Menteri Lebanon dimulai setelah ayahnya, Rafik Hariri, dibunuh tahun 2005. Saat itu, dalam pidatonya di televisi, dia menyuarakan kekhawatiran mungkin nasibnya akan sama dengan sang ayah.
Pengunduran diri Hariri pada November 2017, 11 bulan berkuasa, mengakhiri tugas keduanya sebagai Perdana Menteri, sebuah jabatan yang dikhususkan untuk kaum Sunni Lebanon.
Dia menjabat sebagai Perdana Menteri pada Desember 2016 dalam sebuah pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Michel Aoun, seorang pendukung Hizbullah, yang anggotanya telah didakwa oleh Pengadilan Internasional sebagai pembunuh Rafik Hariri.
Setelah kematian ayahnya, Hariri bergabung dengan kelompok Masa Depan (al-Mustaqbal), yang mendapat dukungan terutama dari kaum Sunni di negara tersebut, dan yang kemudian membentuk aliansi dengan partai lain.
Tugas pertamanya sebagai Perdana Menteri terjadi pada tahun 2009. Dia menjabat hanya 19 bulan, setelah menteri-menteri yang mendukung Hizbullah mengundurkan diri saat Hariri berada di Washington DC bertemu dengan Presiden AS Barack Obama.
Kelompok Syiah dan pelindungnya, Iran, menjadi fokus pidato pengunduran diri Hariri pada hari Sabtu, yang diumumkan di Arab Saudi. Hariri juga pemegang kewarganegaraan Saudi.
Saad Hariri lahir di Arab Saudi pada 18 April 1970. Ia memimpin perusahaan konstruksi milik ayahnya di Saudi, Saudi Oger, salah satu perusahaan terbesar di Timur Tengah. [Rusdiono Mukri]




















